Kamis, Juni 17, 2010

Sayembara Penulisan Lakon Realis

SAYEMBARA PENULISAN LAKON REALIS DIPERPANJANG SAMPAI 31 JULI 2010

Dalam dua dekade terakhir panggung teater Indonesia mengalami kemerosotan drastis dalam kuantitas pementasan bergaya realis, seiring dengan semakin banyaknya kemunculan “teater tubuh”. Sejumlah pengamat pernah menyatakan bahwa dalam teater kita telah terjadi krisis aktor. Hal itu mengacu pada kenyataan bahwa tidak banyak aktor yang menunjukkan kepiawaian menghidupkan teks (dialog) dan membangun karakter. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kelangkaan lakon yang mengutamakan seni peran. Beberapa naskah jenis itu, yang sedikit jumlahnya, terlalu sering dipentaskan ulang tanpa menawarkan kesegaran. Sehubungan dengan itulah Komunitas Salihara menyelenggarakan Sayembara Penulisan Lakon Realis.

Syarat-Syarat:
1. Tema bebas.
2. Ditulis dalam bahasa Indonesia.
3. Memperhitungkan durasi pementasan, antara 1 sampai 1,5 jam.
4. Tidak berbentuk monolog dan dibuat untuk dimainkan oleh maksimal 5 (lima) karakter/tokoh.
5. Belum pernah dipentaskan/diterbitkan sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun.
6. Naskah diterima panitia paling lambat pada tanggal 31 Juli 2010.
7. Pementasan perdana naskah pemenang menjadi hak panitia.
8. Nama dan biodata pengarang ditulis pada lembar terpisah dari naskah.
9. Naskah dikirim rangkap 4 (empat) dalam amplop yang ditulisi “Sayembara Penulisan Lakon Realis” di pojok kiri atas, ke:

Komunitas Salihara
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520


Pemenang dan Hadiah:
1. Dewan Juri akan memilih 3 (tiga) finalis dan menentukan 1 (satu) lakon terbaik.
2. Pemenang akan diumumkan pada Festival Salihara, September 2010.
3. Lakon terbaik akan mendapatkan hadiah uang Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) dan dua lakon finalis lain masing-masing mendapat uang Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah); pajak ditanggung penerima hadiah.
4. Lakon terbaik akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Teater Salihara sebagai produksi Komunitas Salihara.


Dewan Juri dan lain-lain:
1. Dewan Juri terdiri dari 3 orang: Iswadi Pratama (penulis lakon dan sutradara Teater Satu, Lampung), Zen Hae (penyair dan penulis cerita), dan Seno Joko Suyono (wartawan budaya Koran Tempo, pengamat seni pertunjukan).
2. Panitia (kurator dan seluruh karyawan Komunitas Salihara) dan anggota Dewan Juri dilarang mengikuti sayembara ini.
3. Keputusan Dewan Juri akan dipertanggungjawabkan pada saat pengumuman pemenang, dan tidak dapat diganggu-gugat.


Jakarta, 01 Januari 2010
Komunitas Salihara,
Panitia Sayembara Penulisan Lakon Realis

Minggu, Juni 13, 2010

Nama Calon Pemenang Sayembara Naskah Pusbuk 2010

Bersama ini saya informasikan daftar nama calon pemenang sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan tahun 2010 dari Kementrian Pendidikan Nasional Pusat Perbukuan yang saya dapatkan langsung dari teman saya yang lolos tahun ini.

Nama-nama hebat yang dipanggil itu berhak ke Jakarta dari tanggal 7 s.d. 10 Juni 2010 dan menginap di Hotel “OASIS AMIR” Jakarta Pusat. Pengumuman pemenang langsung disiarkan di TVRI hari Rabu 9 Juni 2010 di TVRI Pusat Jakarta, pukul 15.00 s.d. 16.30 WIB.

Cerita Anak

1. Suherma, S.PD, Guru SDN Paoman III, judul Keluarga Pelangi
2. Suparni, Guru TK Aissyiah Bustanul Athfal V, judul Sahabat
3. Tuswadi, Guru SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara, judul Kidung Masa Kecil

Cerpen SMP

1. Al Varidah, S.Sos, Guru SMP Al-Muttaqin Fullday School, Judul wasiat Bunga
2. Gusti Diah Antasari, S.Pd, Guru SMPN 17 Jakarta Pusat, judul Pelangi tak Terbatas
3. Siti Anisah, Guru MTs Darul Farah Sukorejo Ponorogo, judul Mereka yang Tak Menyerah

Novel SMP/SMA

1. Drs. Asli br Sembiring, Guru SMK 1 Medan Area, Judul Laskar Sunggal- Membongkar Jaringan ekor Naga Putri Hijau di tanah Deli
2. Gatot Supriyanto, guru SMPN 1 Grabag (SSN), judul Nyanyian Codet
3. Lili Akhmad MR, guru SMAN 4 Bekasi, judul Namaku Abdul (Anak kampung Jejerukan)
4. Mirawati, S.Pd, Guru SMKN 1 Rangas Mamuju, judul Sang Guru
5. Suprihatin, S.Pd, Guru SMP 3 Jelita, Judul Kolong Surga
6. Yeni Sukmawati, Guru SMPN 2 Majalengka, judul Saat kamboja Berbunga

Pantun SD

1. Heri Kurniawan, Pustakawan SMPN 8 Yogyakarta, judul menjadi anak negeri: Kumpulan Pantun
2. Drs. Kamulyo Santosa Hasyim, guru SMAN 7 Tangerang, judul Mengenal Budaya Nusantara melalui pantun
3. Sadino, guru SDN Tepisari 02 Sukoharjo Jateng, judul Meningkatkan IQ dan EQ dengan pantun terpadu

Puisi SD/SMP

1. Bussairi D. Nyak Diwa, Drs, Guru SMAN 1 Kluet Utara, Aceh Selatan, judul Ziarah Hati
2. Hidayat Raharja, S.Pd, guru SMA Negeri 1 Sumenep, judul Jalan Ke Rumahmu
3. Lufiana, S.S, guru SMP Muh. Glondo, judul kabar dari alam
4. Purwaningsih, guru SMPN 23 Purworejo, judul Larik-larik Persembahan
5. Sultan Efendy, S.Pd, Guru SMP N 10 Pare-pare Sulsel, judul Menunggu di pintu waktu
6. Tjachjono Widarmanto, Guru SMAN 2 Ngawi, judul Mata Ibu

Drama SMA

1. Drs. Sumpeno, M.Sn, Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, judul Sepasang Mata yang Berharap
2. Muh Arif Wijayanto, S.Sn, Guru SMK 1 Kasihan Yogyakarta, judul Air Mata semar
3. Nanik Irawati, S.Pd, guru SMKN 7 Purworejo, judul Dolalak Dukuh Jenar

Pengayaan Pengetahuan Alam dan Matematika

1. Arief Fadillah, Guru SMAIT Thariq bin Ziyad Bekasi, judul Mangapa Harus Takut pada Radiasi?
2. Elizabeth Tjahja Darmawan, S.Si, M.Pd, guru SMA Xaverius 1 Jambi, judul Cassiavera dari Kelinci- Primadona Dunia
3. Endang Sri Sulistyrini, S.Pd, guru Guru SDN Karangsari 2 Blitar Jawa Timur, judul Ketika Mama Pergi
4. Gunawan, A.Ma.Pd, guru SD N 1 Sukokerto, judul Rahasia Dibalik sampah
5. Hary Tridayanto, S.Si, Widyaiswara P4TK, Cianjur Jawa Barat, judul Sumber energi dan Upaya penghematan Energi
6. Ikbal Gazalba, S.Si, Pengajara BTA Alumni Cijantung Jaktim, judul Aku dan Gempa
7. Ranny Noviany,guru SD yayasan cahaya mutiara Cimahi Jawa Barat, judul Matematika Itu Menyenangkan
8. Sri Kuncoro, A.Ma, Guru SDN 04 Jatisobo, Karang anyar jawa Tengah, judul Air (Antara Misteri, Kawan, dan Lawan)
9. Winda rahmalia, S.Si, M.Si., Dosen Univ. Tanjungpura Pontianak Kalbar, judul Mengenal Sumber Bahan baku dan Metode Pembuatan Bio diesel

Pengayaan Pengetahuan Sosial

1. Cucu Munawar bin Abduurohim, guru SMAN 3 Sukabumi Jawa Barat, judul Mengenal dasar ekonomi syariah
2. Drs. Heri Suritno, Kepala SDN Siwarak Wetan, Banyumas jawa Tengah, judul Pesona taman bawa tanah “Gua Petruk”
3. Ir. Soetawi, M.P., Dosen fakultas Pertanian Peternakan Kampus III UMM, judul Remaja dan Rokok Penyakit, Kemiskinan, dan fatwa
4. Johan wahyudi, guru SMPN 2 Kalijambe, Sragen Jawa Tengah, judul Menjadi Cerpenis
5. Murhamsyah, SI.P, guru SMP YPVDP Bontang Selatan Kal-Tim, judul Mengapa Bumiku makin panas?
6. Ruliani Indrawati, Guru SMP N 4 Cianjur, judul Bunga-bunga Bahasa
7. Sunarsih, guru SD Islam Terpadu Nurul Islam, judul Yuk, ke Desa

Pengayaan Keterampilan

1. Das Salirawati, M.Si, Dosen Univ Negeri Yogyakarta, judul Nata de Banana Skin Home Industri yang menjanjikan
2. Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd, Dosen UNNES Semarang Jawa Tengah, judul Mosaik-Menata Kepingan Menjadi Karya Menarik
3. Drs. Mudiono/Muslimah hariyani, guru SDN Trahan/SDN Karangturi, Rembang jateng, judul Aku Ingin Menjadi Jagoan Batik
4. Kurnia hadinata, s.Pd, guru SMP N 2 Pati Pasaman, Sumbar, judul Pelajar Ayo Buat Film (Penuntun Praktis dan Jitu Membuat Film Pendek Cara Indie)
5. Nur Laili Munazalah, guru Jarimatika Unit Cemani, Lawetan Jateng, judul Kebun sayur Organik
6. Tejo Wahyono, guru SDN 1 Banyuroto, jawa Tengah, judul Menjadi Peternak Kelinci Teladan

Biografi

1. Dra. Eko Sri Israhayu, M.Hum, Dosen FKIP Univ. Muhammadiyah Purwokerto Jateng, judul NH Dini, Tak Pernah kekeringan Ide

Kepada para pemenang sayembara penulisan naskah buku pengayaan tahun 2010, saya ucapkan selamat mendapatkan hadiah uang sebesar Rp.21.000.000 untuk Juara Pertama, Rp. 20.000.000 untuk juara kedua, dan Rp. 19.000.000 untuk juara ketiga.

Link Terkait: http://wijayalabs.com

Rabu, Juni 02, 2010

SEMOGA AROGANSI DAN INFANTILISME BERKESENIAN ITU CAIR


Oleh: Ganda Cipta
Diterbitkan Padang Ekspres, Minggu 30 Mei 2010


Benarkah seniman teater Sumatera Barat berkesenian antara sikap arogan dan kekanak-kanak? Atau itu hanyalah suatu kecemasan yang berlebih-lebihan dari Afrizal Harun, seorang teaterawan muda Sumatera Barat? Inilah yang menjadi pertanyaan besar dari Alee Kitonanma dalam tulisannya, Sebuah Kecemasan yang Berlebih-lebihan (Padang Ekspres, 23 Mei 2009, halaman 16)

Tulisan tersebut merupakan tanggapan dari tulisan Afrizal Harun yang dimuat pada koran dan halaman yang sama, seminggu sebelumnya. Dengan judul Senimat Teater Sumatera Barat, Antara Arogansi dan Infantilisme Berkesenian.

Dari tulisan Afrizal Harun, saya mengambil kesimpulan, bahwa iklim teater di Sumbar cenderung arogan dan invantil. Di mana penyebabnya utamanya adalah dana untuk memproduksi karya yang terbatas dan sulit didapatkan. Kemudian dari ketersedian dana yang terbatas itu, para pelaku teater mesti saling saing, saling rebut, atau bahkan saling sikut. Layaknya orang-orang yang terjebak berhari-hari di tengah padang pasir luas bertemu satu sumber mata air.

Dari sana persaingan bermula. Para pelaku seni (oknum) yang sering kalah bersaing, dan tidak mampu mengakali jalannya produksi karya mereka, lebih banyak ngomong dari pada berkesenian. Sebagaimana Babab, begitulah panggilan akrab Afrizal Harun, saya juga merasakan arogansi dari sejumlah oknum teater di Sumbar ini.

Banyak contoh yang telah bersua oleh saya, selama 7 tahun saya berdekatan dengan dunia teater Sumbar (waktu yang masih pendek tentunya). Sebuah atau beberapa group yang sering mendapat dana hibah dari berbagai sumber sering dipergunjingkan. Gawatnya, pergunjingan tersebut sering juga disampaikan ke tengah anak-anak muda yang baru bersentuhan dengan seni yang komplit dan kompleks ini. Secara tidak langsung para oknum ini, mengajak anak-anak muda itu, untuk tidak respek terhadap group yang sedang mereka pergunjingkan. Inilah salah satu penyebab gap itu menganga.

Contoh lain, ketika satu komunitas atau institusi pemerintahan membuat sebuah event, yang dengan dana terbatas, tentunya tidak bisa merangkul seluruh group yang ada, para oknum teater yang tidak dibawa serta, sering pula mencak-mencak. Tak jarang mereka menuduh, group yang ikut serta dalam sebuah ivent adalah group “dalam rangka”. Kalau ada iven baru berkesenian, kalau tidak, tidur dalam khayalan-khayalan kreativitasnya. Padahal, tanpa mereka (oknum) sadari, hal yang sama juga mereka lakukan. Bukankah ini sifat yang kekanak-kanakan?

Pada kesempatan lain saya juga menemukan arogansi sebagaimana dimaksudkan Afrizal, dalam bentuknya yang lain barangkali. Oknum tersebut merasa dan sering mengungkapkan, bahwa dia telah berpuluh tahun berkesenian, dan telah banyak karya yang dibuat dan dimainkan, tapi kenapa tidak mereka yang diundang. Lalu pertanyaan muncul dari kegelisahan oknum tersebut, apakah saya tidak seniman pula? Saya rasa itu juga sebuah bentuk arogansi berkesenian.

Jadi saya setuju dengan unek-unek Babab dalam tulisannya tersebut. Tapi pertanyaan kemudian yang ingin saya munculkan, apakah tak pernah disadari dan dilakukan perbaikan terhadap geliat buruk itu? Dengan yakin dan percaya saya ingin menjawabnya sendiri dalam kesempatan ini. Pernah dan sedang dilakukan.

Lalu siapa yang melakukannya? Mereka adalah para pemula atau anak-anak muda yang baru seumur jagung berkecimpung dalam dunia teater. Dari bantuan “kaum tua” yang sadar akan buruknya persaingan dunia teater kita dari berpuluh tahun yang lalu. Dari kaum tua tersebut, para pemula ini mendapatkan cerita tentang buruknya sejarah geliat teater Sumbar, dan itupun masih terasa sampai kini, saat mereka bersentuhan langsung. Dan tidak sekedar hanya mendapatkan cerita.

Dalam hal ini, saya tidak bersepakat dengan Alee Kitonanma, yang mensinyalir Afrizal Harun –atau barangkali Alee sendiri?- kecewa dengan kurangnya komunikasi antara seniman tua dengan seniman muda. Seperti tidak adanya keakraban yang terjalin antara Wisran Hadi dan seniman-seniman muda.

Pada kemudian, mereka merapatkan barisan, saling membuka diri dan bersilaturhmi. Membangun jejaring antar individu dam komunitas. Tidak hanya di Sumbar saja, tapi melebar hingga ke luar. Tidak hanya pada satu genre kesenian saja, tapi melintas antar genre seni lainnya. Tidak hanya kalangan mereka saja, tapi juga pada seniman yang telah lebih dahulu bereksenian daripada mereka. Hal itu saya rasakan, karena saya bagian dari mereka, anak-anak muda atau pemula.

Buktinya, antara lain bisa dilihat dalam catatan-catatan pementasan yang sering muncul di media cetak daerah ini. Sebagian besar yang menulis itu adalah anak muda. Dan tak ada saya temukan kritikan dalam catatan-catatan itu keluar dari konteks pementasan. Anak-anak muda ini tetap menulis catatan pementasan, tanpa memandang siapa dan group mana yang tampil

Meskipun harus diakui pula, bukan berarti pergunjingan antara mereka tidak ada. Namun pergunjingan itu hanya sebatas dalam komunitas masing-masing mereka, tidak dibawa keluar. Yang lebih sebagai bahan introspeksi diri. Sehingga kerapatan barisan yang telah disusun, sampai saat ini, setahu saya masih kokoh berdiri.

Dalam hal ini saya bersepakat dengan Alee Kitonanma, yang dalam tulisannya tersebut mengatakan, tidak sedikit acara yang diselenggarakan sebuah komunitas dengan mengundang komunitas lain untuk hadir dan ikut andil dalam mengisi acara yang dibuat. Seperti acara “Seribu Puisi Untuk Chairli Anwar” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Sastra Unand. Di mana anak-anak muda penggiat seni teater dari berbagai komunitas juga terlibat dalam acara tersebut. Yang memperlihatkan ajang tersebut bukan sekedar silaturrahmi antar komunitas, tapi juga menunjukan keakraban mereka dalam berkesenian.

Lalu timbul pula pertanyaan lain. Apakah kesadaran dari generasi muda seniman Sumatera Barat untuk melakukan perubahan terhadap arogansi dan infatilisme berkesenian para seniman Sumatera Barat secara umum, sebagaimana dinyatakan Afrizal Harun itu, telah berhasil?
 
Seperti yang saya beberkan dalam tulisan di atas, maka saya menjawabnya belum. Dan saya meragukan, hal ini bisa merubah prilaku arogansi dan infantilisme pada sejumlah oknum seniman.

Namun, saya melihat ada harapan yang muncul dari kesadaran para anak-anak muda atau pemula itu. Kesadaran untuk tidak mengulang hal yang sama, yang menjadikan persoalan uang sebagai pemicu retaknya hubungan harmonis yang sedang mereka bangun ini, hingga ketika kelak mereka jadi tua dan jadi panutan pada generasi selanjutnya. Mudah-mudahan!


Penulis adalah penikmat dan pengamat seni teater


SEBUAH KECEMASAN YANG BERLEBIH-LEBIHAN [Tanggapan untuk tulisan Afrizal Harun]

Oleh : Alee Kitonanma,
anggota teater imam bonjol.

Diterbitkan Padang Ekspres, Minggu 23 Mei 2010



Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Afrizal Harun “SenimanTeater Sumatera Barat: Antara Arogansi dan Infantilisme Berkesenian” yang terbit di koran Padang Ekspres edisi 16 Mei 2010. Dalam tulisan tersebut, Afrizal Harun mengemukakan beberapa pikiran tentang seniman teater di Sumatra Barat.

Pertama, seniman Sumatra Barat memperlihatkan kepongahan dalam berkesenian. Kepongahan ini terutama muncul di kalangan seniman yang merasa diri punya kekuatan lebih dari apa yang sesungguhnya mereka miliki. Afrizal menyebut kecendrungan itu sebagai “panyakit Post-Power Syndrome.”

Saya berpandangan, arogansi yang muncul (kalau pun demikian realitasnya) adalah keawajaran belaka jika memang didukung oleh karya yang dihasilkan. Sebab, untuk memproduksi sebuah pementasan teater, kita tahu, para seniman teater melewati proses yang luar biasa. Mereka latihan berbulan-bulan tanpa menerima upah yang setimpal. Mereka dengan sukarela menghabiskan tenaga, waktu, dan pikirannya untuk itu. Kemudian tidak jarang, mereka melewati konflik-konflik sesama aktor, atau dengan sutradara yang terkadang terasa menambah beban hidup demi mengharapkan tepuk tangan para penonton setelah pementasan usai. Apakah salah kiranya kalau seniman teater kemudian merasa puas, bangga, dan mungkin terkesan arogan—walaupun sebenarnya saya tidak yakin kata itu yang cocok dipakai untuk melihat realitas berkesenian hari ini di Sumatera Barat.

Kedua, Afrizal Harun menganggap seniman teater di Sumatera Barat dalam sepuluh tahun terakhir terkesan anti kritik, emosional dalam menanggapi kritik. Ini disebabkan karena, tutur Afrizal, adanya gap-gap, jurang-jurang yang memisahkan pekerja teater di Sumatera Barat. Afirzal Harun menulis: “Paradigma gap (jurang pemisah, kesenjangan) seperti ini telah menjadikan pribadi seniman teater cendrung anti-kritik dan emosional dalam menyikapi persoalan berteater yang sedang dihadapi.”

Pertanyaan saya, apakah benar telah tercipta gap-gap yang demikian lebar sehingga menyebabkan pekerja teater menjadi anti-kritik? Apakah memang separah itukah kehidupan teater Sumatera Barat? Saya rasa tidak, “Berperang Pikiran” merupakan sebuah pancingan untuk menghadirkan ide-ide baru ke depannya. Setidaknya, usai perdebatan, menyisakan hal-hal yang dapat diambil dari gagasan orang lain. Sepanas-panas apapun diskusi karya, toh belum ada terdengar kabar seorang seniman teater saling tidak bertegur sapa, atau saling benci setelah perdebatan teater usai. Bahkan tidak jarang kita melihat mereka tertawa riuh bersama di kedai kopi, atau bertemu di jalan setelah berperang pikiran di belakang pentas atau di media masa.

Ketiga, Afrizal Harun menjadikan popularitas sebagai tolak ukur dalam berkesenian, dengan membandingkan seniman teater Sumatra Barat dengan sepuluh lebih seniman teater di Indonesia yang terkenal. Setelah itu mengemukakan alasan mengapa mereka bisa exist di dunia teater. Berikut kutipannya; “Hal itu tercermin karena mereka berproses secara intens, kontinyu, dewasa dalam menyikapi teater Indonesia sehingga melahirkan karya-karya yang layak diapresiasi sampai saat sekarang ini.” Bukankah dengan kata lain Afrizal Harun menjadikan popularitas sebagai tolak ukur keberhasilan seorang seniman teater. Saya rasa tidak seperti itu. Dunia teater bukanlah dunia sinetron yang sering “kita” tonton. Sering muncul, laris di pasaran, dan selalu rutin berkarya bukanlah tujuan utama dalam berteater. Bukankah kita lebih mengutamakan proses dan pembelajaran?

Pertanyaan yang juga muncul dari kutipan esai Afrizal Harun di atas untuk keteateran Sumatra Barat hari ini adalah; “Mengapa teater Sumatra Barat tidak sepopuler teater yang ada di luar?” Di daerah Jawa misalnya, para seniman berkesenian dengan kemapanan, menjual tiket pementasan teater dengan harga ratusan ribu perkepala adalah hal yang biasa. Begitu juga halnya dengan penonton, kesiapan dalam materil menjadi syarat utama untuk mendapatkan tontonan teater yang entah berguna entah tidak bagi mereka. Kemudian gedung pertunjukan pun penuh sesak. Sampai-sampai penonton harus memesan tiket jauh-jauh hari. Layaknya sebuah penerbangan pesawat terbang pada musim libur dan mudik. Hal inilah yang menjadi kecemasan bagi Afrizal Harun, lalu muncul perkiraan Afrizal Harun berupa keluhan-keluhan para seniman teater Sumatra Barat yang menurut Afrizal Harun tudak bisa dihindarkan lagi. Seperti kutipan berikut ini; “(1) mengenai minimnya dana produksi (2) proposal pertunjukan belum dikabulkan oleh pihak donator Instansi pemerintah dan swasta, dan (3) tiket pertunjukan belum begitu membudaya karena kecendrungan penonton ingin menyaksikan teater secara gratis.

Seperti kita rasakan bersama, iklim teater Sumatra Barat dari dulu sampai hari ini, para seniman teater memang melakukan pertunjukan teater dengan musiman, bila ada iven, festival, atau diundang untuk mengisi sebuah acara. Berdasarkan sejarah kultur di Minangkabau, segala bentuk permainan anak nagari di mainkan ketika mereka butuh saja. Mereka bermain atas kesenangan saja. Tidak tergantung mapan atau tidak. Ketika keinginan itu muncul, latihan tidak dapat dibendung lagi, lalu hadirlah mereka di atas pentas, entah dapat dana dari mana, entah ada dana atau tidak. Pernahkah kita mendengar sebuah pertujukan teater di Sumatra Barat dibatalkan karena tidak mendapatkan dana? Permasalahan yang sama muncul dari pikiran penonton. Sebagai anak nagari yang menikmati seni, wajarlah sebuah pementasan teater sepi ketika penonton harus merogoh saku dulu. Tapi pernahkah kita mendengar, seniman teater menjadi pesimis dan tidak mau berkarya lagi karena minimnya penonton yang datang ketika sebuah pementasan menjual tiket? Satu lagi kutipan dari tulisan Afrizal Harun; “Sehingga banyak seniman-seniman teater yang sebelumnya produktif berkarya menjadi pesimis, mengurangi proses kreatifnya atau bahkan meninggalkan teater itu sendiri.” Agaknya, sedikit lucu kalimat di atas.

Keempat, tidak adanya ruang dialog dan iven kreatifitas bersama antar komunitas dan seniman teater. Afrizal Harun mengatakan; “Berkaca pada situasi ‘seniman teater’ Sumatra Barat hari ini, penulis menilai, iklim kesenian teater tidak ubahnya seperti anak-anak yang sedang bermain petak umpet. Suatu suasana permainan yang penuh persaingan, gap-gap, penuh kecurigaan, ambisi, anti-kritik, emosional, dan lain-lain.” Adanya Temu Karya satu kali empat bulan yang dilakukan oleh komunitas-komunitas seni dan teater di Sumatra Barat merupakan sebuah pernyataan bahwa komunitas teater tidak memiliki gap-gap dan mengutamakan arogansi dalam berkesenian seperti yang diperkirakan Afrizal Harun. Kemudian, tidak sedikit acara yang di selenggarakan sebuah komunitas dengan mengundang komunitas lain untuk hadir dan ikut andil dalam mengisi acara di sana. Pada tanggal 28 April 2010 lalu, Penggiat sastra UNAND menggelar acara “Seribu Puisi Untuk Chairil Anwar,” para penyair dan sastrawan Sumatra Barat menyumbangkan puisinya dalam acara tersebut. Terlihat para penggiat seni yang pada umumnya pekerja teater saling memberikan dukungan dan partisipasi dalam acara tersebut. Jelas, ini bukan hanya ajang silahturahmi antar komunitas seni, tapi mereka menunjukkan keakraban mereka dalam berkesenian.

Tidak hanya itu, bahkan satu komunitas tidak segan-segan mengundang personil dari komunitas lain untuk ikut “bermain” dalam sebuah pementasan. Seperti halnya pementasan “Rumah Jantan” produksi Teater Noktah kerya Syuhendri pada pertengahan Juli 2009 lalu. Di sana membaurlah tim produksi dan tim artistik yang tergolong dari komunitas yang berbeda. Seperti Julnadi yang berasal dari Teater Imambonjol, Rio SY dari komunitas Teater Oase, Tatang Rusmana, M.Sn dari ISI Padangpanjang dan lain sebagainya. Terbukti, mereka membuka diri satu sama lain, bermain asik, tanpa ada rasa pongah, rasa ingin muncul dan menang sendiri.

Sebagai orang akedimisi yang memberikan pandangan pada dunia teater, seharusnya Afrizal Harun mengadakan penelitian untuk menulis iklim teater Sumatra Barat hari ini. Tidak hanya menyangkal dan memperhatikan dari jauh.

Tapi, ada benarnya juga Afrizal Harun Berkata demikian, barangkali Afrizal Harun kecewa dengan kurangnya komunikasi antara seniman tua dengan seniman muda, seperti, tidak adanya keakraban yang terjalin antara Wisran Hadi dengan seniman-seniman muda. Barangkali kita mencemaskan hal yang sama.

Jumat, Mei 21, 2010

SENIMAN TEATER SUMATERA BARAT: antara arogansi dan infantilisme berkesenian

Oleh: Afrizal Harun
 diterbitkan: Koran Padang Ekspress, Minggu 16 Mei 2009

Teater modern Sumatera Barat tumbuh dan berkembang jelas karena faktor seniman yang terus menghidupinya. Kata ‘menghidupi’ di sini tentu saja memiliki banyak kendala dan persoalan yang dihadapi. Dalam menghidupi teater, seniman terus saja kewalahan dalam setiap akses pendanaan untuk menunjang pementasan. Hampir setiap proposal yang diajukan kepada Instansi Pemerintah dan Swasta  baik melalui prosedur birokrasi ataupun kontak personal, terkadang tidak semua bisa dikabulkan dan diharapkan. sehingga seniman teater Sumatera Barat selalu berada pada posisi dilematis dalam menghidupi teaternya sendiri, terengah-engah, karena terlalu lelah dan letih. Namun tetap saja, pertunjukan teater sebagai ekspresi estetik-artistik berjalan walaupun hanya dengan dana yang begitu pas-pasan.
Seniman teater Sumatera Barat, kembali bisa bernafas lega apabila ada bantuan proses dari setiap iven teater yang diselenggarakan oleh Taman  Budaya, Dinas Pariwisata, Institusi Seni apalagi kalau lulus dalam hibah seni (inovatif dan keliling) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kelola Jakarta setiap tahunnya. Maka, eksplorasi terhadap naskah drama sebagai kendaraan pertunjukan teater mulai dilakukan, pemain-pemain mulai dihadirkan, elemen artistik  mulai dimunculkan dan sutradara yang lebih mengutamakan penuangan gagasan melalui eksplorasi tubuh-pun juga menghadirkan  bentuk-bentuk pertunjukan beraneka-warna dalam koridor yang sering disebut dengan istilah teater tubuh. Namun, setelah bantuan dan hibah itu-pun usai, seniman teater kembali kepada persoalan-persoalan klasik yang cenderung dijadikan sebagai ajang perdebatan yang tidak pernah habis-habisnya. Teater kembali vakum, dan secara tidak sadar seniman telah membunuh kehidupan teater dalam dirinya.
Peliknya kehidupan teater di Sumatera Barat, kebanyakan hampir semua gagasan dan pikiran cemerlang seniman hanya selesai di kedai kopi, berdebat layaknya perseteruan dua aktor di atas panggung pada momen suasana konflik yang begitu dramatis, walaupun terkadang perdebatan tersebut tidak pernah menemukan titik yang bersifat solutif, perdebatan eksistensi seolah-olah teater dunia berada digenggaman dan orang-orang yang menyaksikan begitu terkesima tanpa mengedipkan mata karena kebingungan. Situasi ini cenderung menjadikan seniman teater Sumatera Barat memperlihatkan sisi kepongahan dalam berkesenian, apalagi bagi mereka yang mengidap penyakit Post-Power Syndrome.
 Ketika seniman teater itu kembali pada habitatnya masing-masing (komunitas atau kelompok) maka ia kembali dihadapkan pada kenyataan-kenyataan berkesenian yang tidak sesuai  dengan apa yang diharapkan.  Keluhan-keluhan tidak bisa lagi dihindarkan misalnya, (1) mengenai minimnya dana produksi, (2) proposal pertunjukan belum dikabulkan oleh pihak donator Instansi Pemerintah dan Swasta, dan (3) tiket pertunjukan belum begitu membudaya karena kecenderungan penonton ingin menyaksikan teater secara gratis. Sehingga banyak seniman-seniman teater yang sebelumnya produktif berkarya menjadi pesimis, mengurangi proses kreatifnya atau bahkan meninggalkan teater itu sendiri. Sementara, bagi mereka yang masih ingin dianggap eksis sebagai ‘seniman teater’ cenderung menghadirkan karya-karya teaternya secara instan (kejar tayang), hanya memperhatikan sisi kuantitas saja tanpa mempertimbangkan sisi kualitas dari karya yang ditampilkan.
 Sehingga dapat dipahami, seniman teater seperti ini mencoba mencari kesenangan lain dalam rangka menutupi kekurangan diri dan proses kreatifnya dengan cara menyatakan keunggulan-keunggulan karya-karyanya dihadapan orang banyak terutama dihadapan pemula. Lebih parah lagi apabila seniman seperti ini cenderung menciptakan iklim berkesenian yang tidak kondusif dengan cara menjelek-jelekkan karya dan pribadi seniman lain, menganggap karyanya lebih bagus dan layak daripada seniman lain. Paradigma gap (jurang pemisah, kesenjangan) dalam berkesenian seperti ini telah menjadikan pribadi seniman teater cenderung  anti-kritik dan  emosional dalam menyikapi persoalan berteater yang sedang dihadapi. Apabila hal ini terus dibiarkan berlarut-larut, maka tujuan berteater itu sendiri sebagai suatu wujud kontribusi ekspresi estetik dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat tidak akan tercipta dengan baik.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan personal seniman apalagi salah satu kelompok ataupun komunitas teater manapun di Sumatera Barat. Ini hanyalah sebuah refleksi terhadap pengamatan penulis terhadap iklim perteateran di Sumatera Barat sepuluh tahun terakhir. Teater Sumatera Barat menghadapi banyak sekali persoalan namun seolah-olah tidak perlu dipersoalkan oleh senimannya. Sehingga tetap menjadi api dalam sekam. Hal ini dapat diamati dari persoalan proses kreatif, pendanaan, dan interaksi dialogis sesama seniman. Sinergisme ini dalam iklim teater di Sumatera Barat tidak tercipta secara baik. Sehingga menyebabkan adanya sekat-sekat yang berlarut-larut dan harus dihancurkan secara bijak dan cerdas. bukan arogan dan kekanak-kanakan.

Benarkah Seniman Teater Sumatera Barat Arogan dan Infantil?

Seniman Teater, sebuah penamaan yang terkadang begitu mudah untuk disebutkan, namun tetap saja memiliki beban yang sangat berat untuk dipikul.  Seseorang disebut seniman teater bukan karena ia memproklamirkan diri untuk diakui keberadaannya, tetapi karena adanya faktor masyarakat, kritikus,  dan pengamat yang menilainya. Tergantung sejauh mana sumbangsih seniman itu  dihadapan publik  dalam berteater secara kontinyu, intens, berkualitas dan mampu diterima oleh masyarakat. Kita mengenal tokoh-tokoh teater di Indonesia bukanlah karena namanya yang besar tetapi adalah karya-karyanya yang begitu besar sebut saja Teguh Karya (alm), Suyatna Anirun (alm), W.S Rendra (alm), Putu Wijaya, Ikranegara, Arifin C Noer (alm), Wisran Hadi, Nano Riantiarno, Rahman Sabur, Dindon W.S  dan lain-lain. Hal itu tercermin karena mereka berproses secara intens, kontinyu, dewasa dalam menyikapi teater Indonesia sehingga melahirkan karya-karya teater yang layak diapresiasi sampai saat sekarang ini. Di sinilah letak idealisme kreatifitas seorang seniman yang patut kita contoh dan teladani yang tidak hanya berfikir untuk mengejar popularitas karena kualitas itu benar-benar tercermin dari karya-karya teater yang dihasilkan.
Penamaan terhadap kata ‘seniman teater‘ memang membutuhkan paradigma berfikir yang dewasa dan konstruktif. Menyingkirkan seluruh tendensi yang berbau arogan dan kekanak-kanakan. Apakah anda seniman teater? Berapa lama anda berproses teater? Sudah berapa banyak karya teater yang anda buat? Bagaimana anda memulai berteater? Seperti apakah metode teater anda? Sejauh mana kontribusi anda dalam dunia teater di Sumatera Barat dan Nasional? Barangkali saja, inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu tersimpan dalam memori seseorang yang dikatakan sebagai ‘seniman teater’, suatu pertanyaan yang tidak bisa hanya dijawab dengan kata-kata tetapi juga dengan tindakan.
Berkaca pada situasi ‘seniman teater’ Sumatera Barat hari ini, penulis menilai bahwa iklim kesenian teater tidak ubahnya seperti anak-anak yang sedang bermain petak umpet. Suatu suasana permainan yang penuh persaingan, gap-gap, penuh kecurigaan, ambisi, anti-kritik, emosional, dan lain-lain. Apakah anda termasuk kategori seperti itu? Maka bercerminlah, maka anda akan menemukan jawabannya. Inilah situasi perteateran di Sumatera Barat sepuluh tahun terakhir, cenderung arogan (pongah-sombong) dan invantil (kekanak-kanakan). Iklim teater di Sumatera Barat layaknnya seperti api dalam sekam, lain dimulut ternyata lain pula dihati, onak dalam duri, penyakit hati yang harus dicarikan jalan keluar pengobatannya. Namun siapakah yang mampu untuk menjadi obat penawar? Jawabannya adalah seniman itu sendiri, asal ia punya keinginan untuk terbuka dan menyadari kalau penyakit itu hadir karena ulahnya sendiri.

Perlunya Ruang dialog dan iven kreatifitas bersama
 Kurangnya komunikasi sesama seniman teater sehingga menciptakan sekat-sekat dan gap menyebabkan interaksi yang seharusnya dapat dibina dengan baik jarang terjadi, inilah yang tidak disadari oleh seniman teater di Sumatera Barat. Padahal perkembangan teater hari ini di Indonesia terus saja bergerak maju dalam bentuk eksplorasi-eksplorasi gagasan-pertunjukan secara artistik-estetik, pembenahan manajemen kelompok/komunitas secara baik, membangun jejaring kesenian seluas-luasnya, sehingga kendala-kendala dalam berteater baik menyangkut proses kreatif, pendanaan, interaksi sesama seniman dapat teratasi.
 Sementara di daerah (Sumatera Barat) pikiran teater hanya sibuk dalam konteks mengedepankan eksistensi masing-masing ‘inilah aku, kau tidak ada apa-apanya’  kesalahan dalam cara pandang ini diharapkan memang harus bisa disikapi secara bersama. Melihat teater Sumatera Barat berada pada tiga tempat yang strategis yaitu Padang, Padangpanjang dan Payakumbuh. Hal ini, sangat memberikan peluang bagi seniman yang mau membuka diri untuk saling bahu-membahu dalam menciptakan iklim berteater di Sumatera Barat yang kondusif dan Indonesia secara umum.
Ruang dialog seniman teater Sumatera Barat dan iven kreatifitas bersama adalah jawaban untuk menjernihkan segala persoalan yang dialami oleh seniman-seniman teater itu sendiri juga menjadi obat dari penyakit hati yang sudah bersarang selama ini. Tentunya, banyak sekali nilai positif yang dapat diambil dari ruang dialog dan kreativitas dilakukan yaitu, (1) membangun ruang komunikasi dan silaturrahmi sesama seniman teater Sumatera Barat dalam konteks meng-eleminir kecenderungan gap-gap dalam berkesenian teater juga menepis semua penyakit hati seniman teater yang cenderung arogan dan infantil, (2) mampu menjadi ruang efektif dalam berbagi informasi dari seluruh aspek yang bersentuhan dengan teater seperti proses kreatif, penyutradaraan, keaktoran, manajemen kesenian, jejaring kesenian dan lain-lain, (3) dengan adanya ruang ini maka kendala-kendala yang menyangkut  pendanaan proses kreatif dan pementasan, sebagai langkah untuk menghidupi teater Sumatera Barat dapat teratasi dengan baik, dan (4) teater Sumatera Barat benar-benar mampu diperhitungkan dalam percaturan teater secara Nasional bahkan Internasional. Salam Teater*


Solo, 12 Mei 2010
Penulis adalah Pemerhati Seni dan budaya
Khususnya Teater

Selasa, Mei 04, 2010

MAYUR: Tragedi Negeri yang Diparut dalam Ruang Kecil
(catatan kecil pertunjukan Teater Ruang berjudul Mayur karya/sutradara Ery Aryani).

Oleh: Afrizal Harun


Pertemuan sayur-mayur dengan peralatan dari kayu dan besi. Dengan kata lain bercerita tentang pertabrakan antara benda lunak dengan benda keras dan tajam, atau manusia bertabrakan dengan teknologi atau sistem yang "bertangan besi" (Joko Bibit Santoso)


Ketika lampu perlahan dihidupkan (fade in) pada sisi kiri belakang panggung, perempuan dengan pakaian lusuh membawa parut kecil. Melalui sebuah gerak teatrikal, perempuan membelakangi penonton menuju samping kanan, perempuan tersebut menepuk parut sehingga memberikan gambaran kehidupan yang jatuh lalu diinjak tanpa kata-kata sedikitpun hanya degup detak jantung dalam mengawali pertunjukan malam itu. Lalu, seorang lelaki (sebut saja lelaki 1) dengan rambut pendek, bertelanjang dada, bercelana pendek warna hitam muncul dari sisi kiri belakang melalui eksplorasi tubuh seolah-olah menguntai dan mengulur berjuta benang namun tetap saja tidak pernah terselesaikan. Bersamaan dengan peristiwa tubuh yang sedang dibangun, seorang lelaki beramput gondrong (sebut saja lelaki 2) muncul dari sisi kanan depan panggung dengan memberikan sebuah tawaran gestur layaknya seorang yang sedang menggulung benang, namun tetap saja benang itu merupakan sebuah imaji kerumitan hidup yang susah untuk dituntaskan, tidak jelas, alias absurd. Mungkin saja ini sebuah gambaran kehidupan yang absurd.

Tanpa kata, namun pertunjukan berusaha memberikan ruang komunikasi dramatik melalui bahasa-bahasa tubuh, sett, properti, dan pencahayaan sebagai teks pertunjukan yang penuh dengan muatan-muatan semiotika visual. Dua lelaki berdialog bersama parut dan tubuhnya, bergelut dengan teknik akrobatik tubuh layaknya fenomena teater tubuh yang begitu menjadi perhatian dalam perkembangan teater kontemporer di Indonesia saat sekarang ini seperti Teater Sae (Budi S Otong), Teater Kubur (Dindon W.S), Teater Payung Hitam (Rahman Sabur), komunitas seni Hitam-Putih (Yusril), teater Garasi (Yudi A Tajudin), Teater Tetas (Ags. Arya Dipayana), Toni Broer, teater Sakata (Tya Setiawati), namun tetap saja, Teater Ruang memiliki metode dan pilihan yang berbeda dalam menyikapi tubuh sebagai media ekspresinya, teater yang mencoba tidak ‘konsumtif’ (istilah yang dilontarkan Joko Bibit sebelum pertunjukan dimulai) mungkin kita tidak perlu mengadopsi teater Barat secara mentah-mentah, karena jelas kita memiliki kekayaan lokal yang begitu banyak untuk digali dan dieksplorasi demi kebutuhan teater kita hari ini yaitu teater Indonesia.

Kembali pada pertunjukan, perempuan kembali muncul dengan membawa parut berukuran besar, ditengahnya tertancap ribuan paku. Perempuan mencoba memahami parut besar dalam konteks tekanan-tekanan. Perempuan meniduri ribuan paku yang tertancap pada papan parut, bercinta dengan keperihan dan kepahitan, walaupun terkadang sedikit kosong. Perempuan tetap saja berada pada posisi yang tidak begitu menguntungkan dalam kehidupan, sub-ordinat, eksploitasi, pelecehan, dan semua istilah yang tidak menguntungkan dalam aspek marginalisasi gender. Kemudian, Sedikit tembang dari lelaki 2 yang berada di atas batten lampu begitu memberikan sentuhan-sentuhan yang estetik dan lelaki 1 muncul sambil membawa sayur mayur, kemudian sayur mayur tersebut di buang ke beberapa sisi panggung, lelaki 1 melampiaskan kemarahan pada properti Mayur, dan menancapkan pada paku parut yang tergantung, perempuan bergerak menuju arah depan kanan, Mayur-pun berjatuhan ke arahnya, lalu lingkaran jarum yang diikat dengan benang secara perlahan turun, perempuan menggantung Mayur pada jarum, dengan pencahayaan sederhana namun begitu membantu peristiwa dramatik lakon, jarum kembali perlahan naik, perempuan menyanyikan lagu “Bintang Kecil”, bagian ini sepertinya berupaya memberikan suatu konklusi pertunjukan, namun tetap saja ambigu karena harapan-harapan tetap saja berujung pada kesia-siaan, mungkin inilah sebuah tragedi kehidupan yang tidak akan pernah selesai dan kita adalah generasi-generasi yang tetap saja diparut layaknya Mayur. Kemudian, lampu perlahan dimatikan (fade out). Tepuk tangan-pun menggema dari penonton yang mungkin saja banyak menimbulkan pertanyaan dalam diri mereka, apa sebenarnya yang telah mereka lihat?

Begitulah akhir dari pertunjukan Teater Ruang degan judul Mayur, karya/sutradara Ery Aryani yang dipentaskan di Sanggar Teater Ruang, Kampung Tanggul Dawung Wetan RT 3/15, Kelurahan Danukusuman, Solo, pada 1 Mei 2010 mulai pukul 20.00. Pertunjukan yang sama juga sudah digelar pada hari sebelumnya, taanggal 30 April 2010.

Tragedi negeri yang diparut dalam ruang kecil
Barangkali saja, ini hanyalah sebuah interpretasi penulis dalam menangkap pertunjukan Mayur karya/sutradara Ery Aryani produksi teater Ruang Surakarta. Walaupun banyak kemungkinan-kemungkinan tafsir yang bisa dimunculkan dalam pertunjukan ini. Sebuah peristiwa pertunjukan yang menjadikan tubuh sebagai media ekspresi dalam mengkomunikasikan teks-teks sehingga memunculkan banyak sekali pemahaman tersirat, karena teks pertunjukan yang hadir menjadi pemahaman sebagai tanda dalam memahami persoalan-persoalan yang ada di luar teks itu sendiri. Persoalan Indonesia, yang begitu kaya dengan sumber daya alam, namun tetap saja arus globalisasi menggilas kekayaan tersebut, merusaknya, tanah tidak lagi menjadi subur, karena pupuk sayuran tidak lagi organik. Mayur telah berubah menjadi Centucky Fred Chicken, Mc Donald, Hot dog ala Amerika. Generasi hari ini telah berubah menjadi generasi yang bermental komsumtif, hedonistik, korup dan lain sebagainya. Inilah gambaran sebuah tragedi negeri yang penuh carut-marut, kemudian diparut dalam ruang pertunjukan kecil dan sederhana bernama teater tubuh.

Panggung kecil dalam kantong kebudayaan dan seni pertunjukan yang hadir di tengah-tengah masyarakat, Teater Ruang mencoba memberikan penawaran-penawaran eksplorasi tubuh, properti dan pencahayaan. Walaupun secara ide hanya berangkat dari persoalan yang sederhana, sutradara Ery Aryani mengutarakan pada sesi diskusi “Kita berjualan sayur mayur selama satu bulan” karya ini hanya berangkat dari ide itu, kami pernah membeli sayur mayur dari para petani di Cepogo Boyolali, dan dijual kepada para pedagang di Pasar Legi Surakarta. Walaupun dari usaha berjualan sayur yang sempat rugi Rp 4 juta akhirnya, menjadi sebuah inspirasi untuk membuat pertunjukan Mayur. Selama satu bulan, tiga pemain melakukan eksplorasi bentuk, dan mencari kemungkinan-kemungkinan artistik dalam menyikapi tubuh dan properti sehingga menghasilkan sebuah karya teater tubuh yang layak untuk diapresiasi.

Bukan hanya sekedar pujian, barangkali sebuah kritik juga akan bisa membantu untuk proses selanjutnya. Saaduddin (aktor teater Sakata Sumatera Barat) menyampaikan dalam sesi diskusi “apabila ini dieksplorasi lagi lebih mendalam, barangkali saja suatu saat akan menemukan kekuatan-kekuatan baru dalam pertunjukan ini”. Juga ada yang menyampaikan “saya hanya suka melihat pertunjukan ini” lalu dari komentar yang lain juga mengatakan “karena posisi saya begitu awam dengan teater, karena saya mahasiswa tari. Saya melihat pertunjukan malam ini seperti koreografi tari karena tidak ada dialog sedikitpun, walaupun hanya tembang, tapi tetap saja yang saya lihat adalah tari”. sebuah komentar yang harus disikapi dengan cermat dan bijak.

Penulis begitu mengapresiasi semangat teater Ruang pimpinan Joko Bibit Santoso dalam melakukan proses kreatif teater, menciptakan kantong-kantong pertunjukan sendiri walau sederhana, memiliki penonton yang begitu apresiatif sehingga menjadi catatan tersendiri bagi penulis. Namun, yang perlu dicermati dalam melakukan proses eksplorasi tubuh hanyalah bagaimana memaknai tubuh itu sendiri sehingga tidak terjebak pada situasi gerak koreografi yang artifisial, tanpa sebuah motivasi laku maka ekspresi tubuh yang dijadikan sebagai teks pertunjukan hanyalah sebuah gerak kosong tanpa isi. Penyikapan terhadap tubuh setidaknya mampu menangkap makna-makna filosofi dari kehidupan yang sedang dicermati dalam peristiwa pertunjukan, sehingga kita tidak terjebak pada pencaharian-pencaharian estetika belaka walaupun itu sangat dibutuhkan, namun yang paling penting adalah bagaimana seorang kreator (pemain dan sutradara teater) harus mampu menjadikan teater sebagai sarana ekspresi dan komunikasi kepada penikmat dari sesuatu persoalan kehidupan yang dihadirkan di atas pentas. Salam Teater*


Solo, 2 Mei 2010


Link Terkait: http://afrizalharun.blogspot.com

Rabu, Maret 24, 2010

Selasa, Maret 23, 2010

RESUME BUKU

TRILOGI SENI:
PENCIPTAAN, EKSISTENSI, DAN KEGUNAAN SENI
Oleh : Prof. Soedarso Sp., MA



PENGERTIAN SENI

Manusia dan Seni

Mengawali dari tulisan buku ini, Soedarso Sp menjelaskan tentang posisi seni dalam kehidupan manusia. Kebutuhan seni sebagai kebutuhan sekunder sangat-lah penting disamping kebutuhan primer manusia itu sendiri. Begitu besar kebutuhan manusia terhadap terhadap seni, sehingga berbagai carapun dilakukan agar dapat mendapat kepuasan dalam menikmati kesenian itu, seperti yang digambarkan Soedarso Sp pada era kekuasaan Mao Zedong di Cina. Bahwa segala yang indah pada masa itu memang di berangus karena dianggap produk barat, seperti taman bunga dan ikan di akuarium.

Misalnya dengan memberikan pernak-pernik terhadap pakaian yang secara fungsinya hanyalah penutup tubuh, disitulah dapat disimpulkan betapa hebatnya manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan hal-hal yang indah. Seni pada masa lalu selalu dikonotasikan dengan keindahan. Keindahan adalah realisasi dari usaha manusia untuk menciptakan yang indah-indah itu. Seni merupakan kebutuhan manusia, walaupun bukan kebutuhan pokok. Sangat susah kita membayangkan apabila manusia hidup di dunia ini tanpa ada ruang yang disebut dengan seni, seperti hening, tidak ada musik, tari, teater, seni rupa. Dengan itu, kesenian dalam konteks nilai yang dilakukan oleh penciptanya untuk bermacam tujuan dan kegunaan seperti untuk pendidikan, hiburan, saranap pemujaan, dan untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari.

Seni dalam berbai Istilah dan Asal Mula

Istilah “seni” dalam berbagai pemahaman ada yang mengatakan bersal dari kata “sani” dalam bahasa sansekerta yang berarti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencarian dengan hormat dan jujur. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa seni diambil dari istilah Belanda yaitu “genie” atau jenius. Kedua asal kata tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang aktivitas apa sekarang yang dibawakan oleh istilah tersebut. Dalam majalah Pujangga Baru terbitan 10 April 1935, kata seni kemudian disesuaikan dengan padanan kata Inggris yaitu “art”. Dalams ebuah esai, tulisan RD berjudul “Pergerakan 80” yang dimuat dalam majalah itu tersebut kata-kata ‘de aller-individueelste expressie van der individueelste emotie’ (kelahiran yang sekhusus-khususnya dari perasaan yang sekhusus-khususnya).

Dalam bahasa Sansekerta, seni disebut dengan Cilpa. Sebagai kata sifat Cilpa berarti berwarna dan kata jadianya, su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihias dengan yang indah. Cilpacastra di Indonesia sudah populer karena banyak disebut dalam sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman untuk para cilpin, yaitu tukang, atau seniman.

Dalam bahasa latin abad pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah teknik atau craftsman-ship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu. Adapun artes berarti societates mesteriorum atau kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan tersebut (craft guilds); dan artista adalah anggota yang ada dalam kelompok-kelompok itu. Artista dapat kita persamakan dengan cilpin di atas. Pada fase dunia Industri di Eropa muncul gilde (Belanda) atau guild, organisasi kemudian yang memberikan bantuan kepada seniman-seniman dalam berkarya dan memasarkan karya-karya tersebut.

Ars inilah yang kemudian berkembang menjadi I’arte (Italia), I’art (Perancis), el arte (Spanyol), dan art (Inggris). Bersamaan dengan itu isinya-pun berkembang sedikit demi sedikit kearah pengertiannya sekarang. Di Eropa juga ada istilah lain untuk menamai hal yang sama. Orang Jerman menyebut seni dengan die Kunst dan orang Belanda menyebutnya Kunst, yang berasal dari akar kata lain yang memiliki pengertian yang sama.

Yunani yang dipandang sebagai sumber kebudayaan Eropa, juga tidakmenemui kata sepadan berkaitan dengan seni. Kata yang dekat dengan istilah itu adalah “techne” atau teknik. Menurut Aristoteles, (techne) sebut saja seni, kemampuan untuk membuat atau mengerjakan disertai dengan pengertian yang betul tentang prinsip-prinsipnya. Pada masa ini, tidak ada pembatas antara seniman dan kriyawan, kriyawan mencipta sepatu dan para pelukis hanyalah menghasilkan tiruan dari sepatu tersebut. Timbulnya istilah fine art atau seni murni dalam abad ke-18. Maka terjadi pembedaan antara seniman dan kriyawan. Seniman adalah pekerja seni yang berurusan dengan kreatifitas dan ekspresi, sedangkan kriyawan adalah tukang yang bekerja dengan keterampilan tangannya. Fine art bukanlah kesenian yang rumit melainkan seni yang indah atau beutiful (les beaux arts, le belle arti, die schone Kunst). Seni yang mementingkan keindahan daripada kegunaanya. Pada abad ke-19, di Inggris terdapat suatu usaha untuk menyatukan kembali seni murni dan seni kriya tersebut yang dipelopori oleh John Ruskin dan William Morris.


Hubungan antara Seni dan Keindahan

Bicara mengenai seni memang melahirkan suatu pemahaman yang berbeda-beda, ada yang mengatakan seni itu indah, seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan manusia. Ada juga yang mengatakan seni tidak harus indah. Lalu muncul sebuah pertannyaan, menilai seni dalam konteks indah apakah dilihat dari subjek atau objeknya, pada benda seni atau orang yang melihatnya. Plato seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa keindahan itu terletak pada pikiran manusia yang ideal sehingga tidak mungkin kita peroleh dari dunia yang wadak ini, baik subjek maupun objeknya. Keindahan menurutnya tergantung pada rasa suka dan tidak suka seseorang secara individual, tetapi atas pemahaman intelektual terhadap cara pandangnya melihat persoalan.

Filsuf Kristiani Santo Augustinus (354-430) dan Thomas Aquinas (1225-1274) juga sependapat, bahwa keindahan itu adalah sinonim, berkaitan dengan kebenaran, bahwa kebenaran yang ilahiah akan melahirkan konsep keindahan, dan usaha untukmengekspresikan kebenaran-kebenaran tersebut akanmenghasilkan bentuk-bentukyang indah. Santo Augustinus mendefenisikan keindahan sebagai kesatuan bentuk omnis pulcritudinis forma unitas est dan Thomas Aquinas membagi dalam tiga hal yaitu: (1) adanya integritas atau perfeksi; (2) proporsi yang tepat atau harmonis; dan (3) adanya klaritas atau kejelasan. Pada zaman modern, Herbert Read menambahkan bahwa beuty is a unity of formal relations among our sense-perceptions. Ketiganya meletakkan keindahan sebagai objek. Sokrates pernah menyatakan bahwa keindahan itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan dan memenuhi keinginan terakhir.

Pandangan di atas masih dianggap subjektif, karena memandang keindahan dari diri orang yang melihat atau mendengar (beuty is in the eye of the beholder). Immanuel Kant (1724-1804), menyatakan bahwa keindahan itu adalah hal yang menyenangkan tanpa pamrih dan tanpa adanya konsep-konsep tertentuyang terkesan basa basi. Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762) seorang filsuf Jerman, dalam disertasinya membedakan tiga kesempurnaan dalam dunia yaitu: (1) kebenaran (das wahre), ialah kesempurnaan yang bisa ditangkap dengan perantaraan rasio; (2) kebaikan (das Gute), kesempurnaan yang ditangkapoleh moral atau hati nurani; dan (3) keindahan (das Schone), yaitu kesempurnaan yang ditangkap dengan indera (perfectio cognitionis sensitivae,qua talis). Pandangan Baumgarten ini kemudian lahirlah nama untuk filsafat keindahan yaitu “Estetika” yang berasal dari bahasa Yunani ‘aisthesis’ yang artinya persepsi.bagi Baumgarten estetika adalah the science of perceptual cognition. Artinya menilai suatu keindahan terletak pada pada pandangan kita bagaimanakah yang indah itu. De gustibus non est disputandum (kita tidak bisa memperdebatkan rasa).


Hubungan antara Seni dan Alam

Bagi seorang seniman interaksi antara manusia dengan alam banyak mengispirasi penciptaan karya seni baik dari sisi motivasi penciptaan maupun hasilnya kemudian. Ilmu kebudayaan mengajarkan bahwa manusia banyak mempengaruhi dandipengaruhi oleh alam sekitarnya, manusia telah menciptakan habitatnya menjadi tempat yang cocok dan enak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, walaupun ada juga sebagaian manusia yang merusak tatanan tersebut seperti penebangan hutan, menjual pasir lau dan lain-lain. Dari hal-hal seperti ini, cerminan sebuah inspirasi maka alam-pun dijadikan sebagai objek dalam karya lukis, sehingga dengan media alam banyak lahir karya-karya seni lukis dari Barat dan Indonesia khususnya seperti lukisan alam Basuki Abdullah dengan judul ‘Ngarai Sianok’. Seniman-seniman Indonesia masa lampau tidak tertarik untuk melukiskan bentuk-bentuk alam ini seperti apa adanya.mereka lebih tertarik untuk melukiskan sesuatu yang lebih dalam sifatnya;baik tangkapan kehalusan jiwa maupun pandangan religiusnya.

SENI DARI MASA KEMASA


Seni dan Magi

Istilah yang dipakai oleh van Peursen, berdasar atas sifat-sifat pokok manusia dan masyarakat yang ada di dalamnya, sejarah kebudayaan manusia dapat dibagi menjadi tiga tahap besar, yaitu: tahap mitis, tahap ontologis, dan tahap fungsional. Dalam tahap mitis, kehidupan manusia sangat tergantung dengan alam, karena ada kekuatan-kekuatan yang di luar rasio manusia sangat sulit untuk ditaklukkan seperti kekuatan roh, kekuatan dewa-dewa alam, dan kekuatan kesuburan. Dalam tahap ontologis, manusia tidak lagi merasa hidup dalam cengkraman kekuatan di luar rasionya, bahkan manusiasudah mulai melakukan penelitian segala ikhwal yang ada di sekitarnya dengan pandangan mencari hakekat sebuah pengatahuan (ontologis). Dalam tahap fungsional, manusia tidak lagi merasa terkungkung dengan alamnya dan juga terhadap kekuatan-kekuatan ghaib yang ada disekitarnya.

Kerangka mitis terdapat banyak mitos, yaitu berupa cerita-cerita rakyat yang dituturkan maupun diperagakan lewat tari-tarian, musik dan lain-lain. Inti cerita itu adalah lambang-lambang yang menguraikan pengalaman manusia purba, lambang-lambang kebaikan dan kejahatan, kehidupan dan kematian. Kesenia pada masa ini tidak hanya sekedar tontonan tetapi juga memuat nilai tuntunan sebagai pedoman bagi masyarakat penontonnya. Dalam kehidupan masyarakat primitif magi memiliki peranan yang sangat penting. Magi adalah tindakan atau mantra-mantra yang dimaksudkan untuk mempengaruhi atau menguasai seseorang atau suatu kekuatan dalam rangka mencapai suatu maksud tertentu.

Sebuah lukisan babi hutan yang kena tombak di dinding gua Pattae di dekat Maros, Sulawesi Selatan atau di Eropa dengan lukisan Bison kena panah di gua Niaux di Ariege, Perancis. Dua lukisan dinding ini bukanlah bertujuan sebagai hiasan dinding oleh pembuatnya, menurut Malinowski lukisan tersebut bukanlah untuk memenuhi keinginan manusia akan hal-hal yang indah, tetapi hanyalah untuk memenuhi hasrat hidup yang pertama yaitu mempertahankan hidup.


Seni dan Simbolisme

Seni-seni prasejarah dan klasik Indonesia, memiliki muatan-muatan dan isian berupa simbol-simbol yang sarat maknanya. Seperti patung perwujudan nenek-moyang dari pulau Nias atau Tanimbar, seni hias pa’ tedong atau pa’ barre allo dari Toraja, motif semut beriring dari Bengkulu, motif pohon hayat pada kain tenun Sumba, dan motif candi seperti purnaghata, kala-makara, kalpataru dan lain-lain. Malinowski dan beberapa pengikutnya menyatakan bahwa mitos merupakan “charter” atau inti dari kepercayaan, tindakan, dan hubungan sosial masa kini.
Seni hias perunggu dari kebudayaan Dongson tidak memuat makna simbolik tertentu seperti motif pilin, pilin berganda, meander, pinggir awan, atau motif-motif lainnya. Sehingga seni hias perunggu ini sering disebut sebagai I’art pour I’art, seni untuk seni, seni yang tidak dibebani dengan tugas-tugas lain kecuali tugas menampilkan keindahan itu sendiri.

Susanne K. Langer mengatakan bahwa simbol-simbol yang ditempelkan pada karya seni disebut the symbol in art yang harus dibedakan dengan the art symbol yang kemudian istilah ini diubahnya menjadi expressive form karena banyak kesalah-pahaman yaitu bahwa seni sebagai expression of feeling, sebagai ekspresi dari jalinan antara sensibilitas, emos, perasaan, dan kognisi yang impersonal, merupakan ciri utama karya seni sehingga Langer mengatakan sebagai expressive form. Maka seni adalah simbol yang sekaligus juga bermuatan simbol.


Seni dan Religi

Seni dan religi pada masa dulu sampai sekarang menjadi cerminan dalam memberikan pencerahan agama-agama melalui media seni kepada masyarakat. Seni selalu hadir dalamsetiapagama yang pernah ada, misalnya candi Prambanan yang menunjang kebesaran agama Hindu, stupa di Borobudur sebagai cerminan kebesaran agama Budha, masjid Nabawi di Madinnah, gereja Santo Petrus di pusat kota Roma.

Di dalam seni, manusia mengekspresikan ide-idenya, pengalaman keindahan atau pengalaman estetiknya. Jiwa manusia yang bergetar, jiwa manusia yang terharu itulah yang melahirkan karya seni. Menurut Alma M.Hawkins bahwa seniman harus selalu berusaha untuk terlibat dalam suasana kebahagiaan dan keputus-asaan manusia karena keduanya terdapat sumber dari perasaan yang membuat karya seni memiliki daya pikat.

Posisi antara seni dan religi pada prinsipnya terletak pada kecenderungan sifat keduanya, apabila religi atau agama dianggap lebih mengikat, namun seni bisa berdiri sendiri tanpa agama. Pandangan ini,memberikan suatu gambaran bahwa apabila seni terikat dalam konsep-konsep doktrin dan dogmatis agama, maka seni akan menjadi liturgi karena bersifat mengikat. Namun apabila seni dan agama hanya sebatas interaksi, maka posisi seni dan agama menjadi hal yang tidak dogmatis, karena posisi seni hanya menjadi media saja, tanpa harus diikat untuk kebutuhan doktrin tertentu.

Perlu diingat bahwa manusia itu merupakan kesatuan rohani-jasmani. Dalam pandangan fenomenologi eksistensial dikatakan bahwa ke-ada-an kita berupa “in-der-Welt-sein”. Dalam diri manusia terdapat dua hakekat yang tidakdapat dipisahkan satu dengan yang lainnya yaitu hakekat jasmani dan hakekat rohani (roh), keduanya ini menjadi kesatuan yang disebut dengan manusia.

Berkaitan dengan pengalaman estetik, kemudian melahirkan sebuah karya seni yang disuarakan, dibahasakan, ditarikan atau dilukiskan. Ini merupakan suatu momentum estetik yang dimiliki manusia. Pengalaman estetik yang bentuknya murni merupakan sebuah pengalaman yang sangat mendalam.


Seni dan Kenikmatan Hidup

Sebuah teori yang hedonistik, apabila diartikan secara apa adanya adalah penciptaan seni yang hanya satu tujuan, yaitu memberikan kenikmatan kepada masyarakat pendengar atau pengamatnya. Namun ada pengertian yang lebih khusus, yaitu bukan semata-mata ‘kenikmatan’ tetapi ‘aesthetic pleasure’ atau ‘kenikmatan estetik’, artinya, kenikmatan itu dikaitkan dengan estetika sehingga ia memiliki kualifikasi dari estetika mana yang dipakai.
Di masa Rokoko di Perancis (abad XVIII), banyak ditemukan lukisan-lukisan erotis dengan penggambaran wanita-wanita telanjang seperti “Toalet Venus” dan “Miss O’Murphy” karya Francois Boucher, “Orang-orang Mandi”, dan “Wanita Mandi” karya Jean-Honore Fragonard. Lukisan digunakan sebagai hiasan dinding Istana yang lebih mengutamakan pada kenikmatan hidup yang bersifat hedonistik.

Hal ini, juga dapat dirasakan dari bentuk kesenian-kesenian lainnya di luar seni rupa, seperti musik, tari dan drama dengan memberikan suatu penggambaran karya seni yang hanya mengedepankan unsur kenikmatan saja, sehingga memang karya tersebut jauh dari nilai tuntunan sebagai wujud dari keinginan seniman untuk memberikan suatu pemahaman moral kepada masyarakat tidak akan tercipta apabila karya seni yang dihadirkan bersifat hedonistik,yang hanya mengandalkan unsur ”nikmat”-nya saja.


Seni dan Ekspresi

Menurut Jacques Maritain dan George Santayana, art is the creative of beauty, seni adalah penciptaan keindahan, yang diartikan dalam hubungannya dengan kenikmatan. Filsuf lain yang tidak sependapat dengan pandangan ini yaitu Eugene Veron, Leo Tolstoy, atau Yrjo Hirn. Fungsi seni menurut Veron dan Tolstoy adalah mengekspresikan seluruh emosi manusia, yang menyenangkan maupun juga yang menyedihkan. Dan dari Timur,Sudjojono berpendapat bahwa seni adalah jiwa yang nampak. Pandangan tersebut diformulakan pertama kali oleh Eugene Veron dalam buku berjudul L’Esthetique (1878) di mana ia menyatakan bahwa seni adalah ekspresi emosi. Ada seni yang bersifat dekoratif dan juga seni yang bersifat ekspresif (sama sekali tidak ada urusannya dengan keindahan).


Seni dan Kegunaan Praktis

Apabila dirunut pada sejarah seni pada awalnya, hanyalah untuk memenuhi kebutuhan praktis manusia belaka tanpa ada unsur estetika yang dimaksudkan dalam seni tersebut. Baik yang ditemukan dalam artefak-artefak, dan benda-benda purbakala yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan primer yang bersifat praktis. Benda-benda yang dibuat manusia sepert i:belanga, hulu pedang, kursi, tombak, songket dan lain-lain pada awalnya dipersiapkan untuk kebutuhan praktis manusia, namun agar benda-benda tersebut terlihat indah, nyaman dan enak dipandang, maka segala bentuk pernak-pernik, ukiran, tenunan-pun dibubuhkan dalam benda-benda praktis tersebut dengan tujuan agar para pengguna secara nyaman dapat menggunakan dengan baik. Dengan itu muncullah istilah seni kriya sebagai saudara seni murni, dengan menambahkan nilai ekspresi di dalamnya.


DEFENISI DAN BENTUK SERTA SIFAT-SIFAT SENI


Perbandingan macam-macam Defenisi Seni

Dalam Ensiklopedia Indonesia disebutkan bahwa,”apa yang disebut seni atau kesenian itu meliputi penciptaan dari segala macam hal atau benda yang karena keindahan bentuknya senang orang melihat atau mendengarnya”. Rumusan dari pengertian ini adalah bahwa seni itu indah dan barang yang indah itu menyenangkan buat yang melihat atau mendengarnya.

Kalau kita mencoba melakukan suatu perbandingan dari karya seniyang terdapat pada rumah adat di Minangkabau, Wayang Kulit, rumah joglo dari Jawa, adalah indah dan menyenagkan. Begitu pula tari ballet ‘Bolshoi’dari Rusia atau tari ‘Gambyong’ dari Jawa Tengah, juga indah dan menyenangkan. Tapi kalau kita berhadapan dengan karya patung ‘The State Hospital’ karya Kienholz, lukisan ‘Woman I’ karya Willem de Kooning, justru yang indah itu tidak tampak dalam karya ini, justru adalah karya-karya yang memuakkan karena karya seni yang mereka buat lebih mengedepan nilai filosofi yang harus diterjemahkan karena sarat dengan kritik sosial.

Everyman Encyclopedia menyebutkan bahwa seni adalah “ all that which is not done by man in the way of utility, in other words, all that he does in the way of luxury, pleasure, or from spiritual need.” Sumber ini tidak ada menyatakan keindahan di dalamnya, artinya keindahan tidak menjadi syarat lahirnya sebuah karya seni. Sebaliknya, yang disyaratkan adalah motivasi penciptaannya.

Achdiat Karta Mihardja juga tidak menyebutkan tentang keindahan, menurut dia seni adalah kegiatan rohani manusia yang merefleksikan realitet (kenyataan) dalam suatu karya berdasarkan bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya.

Thomas Munro, seorang filsuf dan ahli teori seni menyatakan bahwa seni adalah alat buatan manusiayang dibuat untukmenimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihat efek tersebut mencakup tanggapan hasil dari pengamatan, pengenalan, imajinasi, baik yang rasional maupun yang emosional.

Leo Tolstoy mendefenisikan seni sebagai “expression and communication of emotion”. Seni adalah ekspresi-yang sesuai dengan pendapat veron bahwa seni adalah komunikasi emosi. Disatu sisi, seni adalah transfer of feeling-sesuai dengan bahasa khas Tolstoy-dan di sisi lain seni adalah pelepasan emosi yang menggelegak dalam hati.

Dalam Encyclopedia Britannicaedisi kesebelas (1910) Sydney Colvin menyatakan bahwa “art is every regulated operation or dexterity by which organized beings pursue ends which the know beforehand, together with the rules and the result of every such operation or dexterity.” Defenisi ini lebih mengedepankan seni sebagai sesuatu yang tinggi beserta aturan main dan hasil perolehannya. Kata ‘regulated’,’organized’, dan ‘rules’ yang terdapat di dalamnya memberikan petunjuk bahwa ‘keteraturan’ merupakan kata kunci dalam defenisi ini baik dari sisi pelaku maupun cara-cara mencapai tujuan seni tersebut.

Kata seni (art), perlu dibatasi pemakaiannya karena sangat terlalu longgar. Kata seni juga masuk dalam seni memasak, seni dalam perang, seni bela diri, sehingga pemahaman terhadapseni tidak menjadi rancu dalam pengunaannya. Dari paparan ini kita sudah mendapatkan masukan bahwa seni adalah (1) produk keindahan, atau sesuatu yang harus indah; (2) kehadirannya tidak dimaksudkan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia; (3) merupakan kegiatan rohani-dan jasmani; (4) merupakan kegiatan yang secara intensional menggiring publiknya untuk memperoleh efek-efek psikologis tertentu; (5) merupakan ekspresi dan komunikasi emosi; dan (6) kehadirannya mesti didampingi oleh keteraturan. Keteraturan adalah syarat bagi seni, disamping keindahan itu sendiri.


Bentuk dan Sifat-sifat Seni

Seni memiliki dua aspek yang berbeda yaitu (1) seni bersifat tradisional (tradisi); dan (2) seni merindukan nilai kreasi dan inovasi. Selalu mengejar apa yang belum ada (modern). Seni tradisi adalah seni yang taat akan pakem, taat azas, stereotip, sehingga usaha kreativitas tidak diperlukan di sini. Sementara seni modern merupakan seni yang selalu mengedepankan nilai kebaruan, kreasi, dan inovasi. Misalnya seperti Wayang Kulit, Wayang Orang, Randai, Makyong, dan lain-lain termasuk kesenian yang sudah memilki pakem dan bersifat tradisional. Sementara seni modern tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ikatan zaman, yang ditonjulkan adalah kreativitas dan sikap bathin senimannya. Sehingga pemahaman dari apa yang diamati dalam realitas keseharian, tentu saja dalam wujud penciptaan karya seni kreasidan inovasi bisa saja tidak sama, walaupun secara esensi yang dibuatnya berdasarkan dari realitas tersebut. Contoh, seorang seniman modern yang akan melukis seekor kuda, maka akumulasi ide kreatif-nya sangat liar, untuk menjadikan kuda tersebut dengan berbagai variasi baik melalui garis, warna dan lain-lain.

Logika umum menyatakan bahwa seni tradisi adalah seni masa lalu dan seni modern adalah seni hari ini, sementara pada perkembangannya muncul lagi istilah baru yang disebut dengan seni kontemporer. Namun kehadiran ketiga bentuk ini saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.

Akulturasi adalah suatu keadaan yang dihasilkan oleh karena adanya pertemuan yang serius dan terus-menerus antara sekelompok manusia dengan kelompok lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda dan menimbulkan perubahan pada pola kebudayaan aslinya baik di salah satu sisi atau kedua kelompok yang bertemu. Proses akulturasi ini tidak hanya pada faktor genetika, agama, bahasa tapi juga kebudayaan yang kemudian masuk mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.

Sebuah akulturasi yang baik diperlukan beberapa syarat yaitu: (1) syarat persenyawaan atau afinitas, ialah adanya kesejajaran di antara satu atau banyak bagian dari kedua kebudayaan yang bertemu; (2) syarat keseragaman dan homogenitas, yaitu kedekatan atas kemiripan dari kedua kebudayaan yang bertemu, yang memudahkan persenyawaan antara keduanya; (3) syarat fungsi, artinya kemungkinannya unsur yang terambil dalam akulturasi itu mendapat tempat yang fungsional dalam konstelasi budaya yang mengambilnya, dan (4) syarat seleksi, ialah kemungkinannya unsur-unsur yang terambil dalam akulturasi tersebut merupakan pilihan yang tepat diantara apayang tersedia, artinya kebudayaan donornya selayaknya memiliki kekayaan dan kompleksitas yang tingi.


Seni, Bentuk dan Isi

Defenisi kebudayaan yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tidakan, dan hasil karya manusia. Maka seni juga berujud ‘ide’ atau ‘gagasan’, ’pengalaman’ atau ‘tindakan’ dan ‘hasil karya’ manusia atau ‘artefak’ seni bisa berbentuk ide, wawasan atau konsep yang ada dalam kalbu, atau visualisasinya dalam ujud penghitungan atau perencanaan yang berangkat darihasil karya manusia. Dalam seni ada dua hal yang tidak dapat dipisahkan yaitu bentuk dan isi, hal ini juga dapat kita lihat dalam seni rupa, tari, teater dan musik. Bagaimana seorang seniman, disamping memikirkan seperti apa bentuk karyanya, juga memikirkan secara dalam landasan konseptual yang termuat dalamide dan gagasan sebagai isi dari karya tersebut sehingga memiliki daya pikat di hadapan pemerhati yang melihat atau mendengar karya seni tersebut.


Stilisasi

Stilisasi adalah pengubahan bentuk-bentuk di alam dalam seni untuk disesuaikan dengan suatu bentuk artistik atau gaya tertentu, seperti yang terdapat dalam seni hias atau ornamentik. Stilisasi, juga berkaitan dengan ‘penggayaan’. Dalam bahasa Inggris disebut ‘stilization’, dalam bahasa Belanda disebut ‘stileren’ atau ‘styleren’. Ada juga yang menyebut stilasi (bahasa Indonesia). Kata lain yang berkaitandengan ini disebut ‘deformasi’ yang berarti perubahan bentuk secara besar-besaran sehingga bentuk ini berbeda dengan bentuk aslinya. Istilah ini berasal dari bahasa latin ‘deformare’ yang berarti meniadakan atau merusak bentuk. Kata lain yang dekat dengan deformasi adalah ‘distorsi’ yang berarti penyimpangan atau pemutarbalikan (bentuk,kenyataan, dan lain-lain) baik secara intensional atau tidak.

Stilisasi sudah lama dikenal dalam kesenian, terutama dalam seni ornamentik, sejak zaman Mesir sampai zaman sekarang. Stilisasi banyak dimanfaatkan dalam seni hias, yaitu dalam pembuatan motif-motif hias yang umumnya diambil dari unsur-unsur alam baik flora maupun fauna. Namun ada juga yang mengkritik bentuk hias atau ornamen ini seperti Adolf Loos (1870-1933), seorang arsitek Austria pernah mengatakan bahwa ‘Ornament is a Crime’, dalam bukunya Ornamnet und Verbrechen (1908).


Gaya dan Aliran

Gaya dan aliran dalam seni, nampak mirip atau sama dan dalam pemakainnya sehari-hari selalu dipertukarkan. Namun keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Gaya, corak, atau langgam yang dapat disejajarkan dengan istilah Inggris yaitu ‘Style’, adalah modus berekspresi dalam mengutarakan sesuatu bentuk, artinya gaya, corak, atau langgam ini berurusan dengan bentuk luar sesuatu karya seni. Serta aliran, paham, haluan adalah pandangan atau prinsip yang lebih dalam sifatnya. Seperti contoh ‘gaya’ yang abstrak dan ‘paham-alirannya’ adalah ekspresionisme melahirkan ‘abstrak-ekspresinisme’. Kalau dalam teater bisa dikatakan ‘gaya’ tragedi dengan paham ‘realisme’ dan lain-lain.

Realime dan naturalisme memiliki pemahaman konotasi yang berbeda, naturalismeadalah suatu paham yang memuja kebesaran alam, maka bagi kaum naturalis tidak mungkin melukiskan bagian alam ini yang jelek-jelek, lukisan naturalisme sifatnya selalu menggambarkan keindahan alam seperti lukisan “Mooi Indie” di Indonesia masa lalu. Naturalisme dianggap sebagai karya-karya idealistik sifatnya. Sementara realisme adalah suatu aliran yang ingin menangkap realitas seperti adanya, tanpa ilusi, tanpa bumbu apa-apa, di atas konsep kewajaran. Namun nilai kewajaran ini tetap memuat interpretasi seniman di dalamnya yang kemudian menghasilkan ketidak-wajaran itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam contoh seni rupa.



KLASIFIKASI SENI


Pohon Seni

Melakukan klasifikasi terhadap seni sudah lama dilakukan, termasuk para filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Pembagian tersebut juga berdasarkan pertimbangan alasan secara metafisis, psikologis, sosial dan lain-lain. Pembagian secara filosofi ini disebut dengan sistem, sistemini diwujudkan dalam bentuk pohon berikut akar-akarnya yang dalam metafora mendorong kelahiran seni.


Klasifikasi Filosofis dan Klasifikasi Praktis

Dalam abad ke-18 muncul istilah Inggris yaitu “fine art” yang berarti mulai adanya pemisahan dari pengertian seni secara umum menjadi seni murni estetik dan seni yang dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Hakekat ‘fine’ terkadang menjadi pemisahan antara seni dan bukan seni, seni yang estetik dan hedonistik dengan hal yang mementingkan kegunaan dan teknik bukanlah termasuk seni.

Di masa Kant ‘fine art’dipahami sebagai kemampuan yang bertujuan untuk menghasilkan keindahan yang bersumber pada kenikmatan tanpa pamrih dan tanpakemanfaatan praktis. Metode klasifikasi seni yang lebih praktis banyak dilaksanakan dalam abad ke-19 dan abad ke-20, karena kebutuhan seni juga terkait dengan manajemen museum, klasifikasi perpustakaan dan lain-lain. Selanjutnya juga ada klasifikasi seperti seni visualyang menyangkut penglihatan dan seni auditifyang berurusan dengan alat pendengaran manusia.

Seni rupa menjadi dua bagian besar yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar, lukisan, seni grafis, fotografi, mosaik, intarsia,tenun, sulam, dan kolase, dan (2) seni rupatiga dimensi seperti patung, bangunan, keramik, monumen dan lain-lain. Seni suara berdasarkan atas medium atau instrumen yang dipergunakan seni suara dibagi menjadi (1) vokalia (solo, koor, dengan atau tanpa iringan instrumen), (2) instrumentalia (solo, piano, biola, klarinet, gamelan, rebab, drum, dan lain-lain). Seni pertunjukan atau seni rupa-rungu selalu identik dengan seni pertunjukan yang berkaitan dengan rupa dan suara, misalnya pertunjukan tari, teater, pantomim, opera, sendratari, seni pewayangan, film, televisi dan video. Seni sastra sangat besar jasanya dalam mengkomunikasikan ide dan gagasan manusia, baik sastra lisan sebelum adanya aksara maupun sastra tulis. Menurut bentuknya, seni sastra dibagi menjadi: (1) prosa, (2) puisi, dan (3) prosa lirik. Prosa lebih kental dengan bahasa sehari-hari, tidak bersajak, mantra atau irama. Sementara puisi dibagi dalam beberapa kategori yaitu pantun, syair, gurindam, distikhon, kuatrin, sekstet, stanza, soneta, dan sajak bebas. Semantara prosa-lirik merupakan penggabungan antara prosa dan puisi. Menurut fungsi dan modus komposisinya seni sastra dibagi atas (a) sastra narasi (narasi epik, balada, novel, novelet, cerita pendek, (b) sastra dramatik (tragedi, komedi, campuran), dan (c) sastra lirik yang bisa dibaca tersendiri atau dikawinkan dengan musik atau nyanyian (lirik lagu, syair pujian, parikan pedesaan).


KEGUNAAN SENI


Seni Murni dan Seni Terap

Karya seni hadir disebabkan berbagai motivasi yaitu karena keinginan manusia akan hal-hal yang indah, karena kehendak manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga karena desakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seni murni atau fine art adalah seni yang lahir murni karena dorongan estetik, mengkomunikasikan dan mengekspresikan keindahan tanpa ada pretensi apa-apa. Sementara, seni terap (seni terapan) atau applied art adalah jenis seni yang kehadirannya justru karena akan dimanfaatkan oleh kepentingan lain selain ekspresi estetik, juga berkaitan dengan politik, agama, dan kebutuhan praktis sehari-hari.
Pada awalnya semuajenis seni itu selalu menyandang tugas untuk melayani masyarakat dalamkehidupannya sehari-hari, dari patung perwujudan nenek moyang sampai keris atau topeng ‘hudoq’ dari Kalimantan Timur. Semuanya itu adalah seni terapan. Karena munculnya pengaruh pengaruh barat, maka terjadi pergeseran fungsi dengan hadirnya museum-museum dan galeri seni dan akademi-akademi seni. Sehingga hadir produk-produk seni dengan buatan mesin, dengan stilisasi ornamen yang memberikan kesan estetik pada seni buatan mesin tersebut. Charles Batteaux (1713-80) dalam bukunya yang influensial yaitu Les Beaux arts reduits a un meme principe (1746) membagi seni menjadi seni guna, seni indah (lukisan, patung, musik dan puisi), dan seni-seni yang menggabungkan keindahan dan kegunaan, yaitu arsitektur dan seni berpidato.


Seni Kriya

Seni terap yang paling dominan adalah seni kriya yang merupakan salah satu contoh seni yang paling tua. Bentuk ini merupakan bentuk yang pada awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia,tidak ada embel-embel kalau itu adalah ‘seni’ maupun ‘kriya’. Namun pada perkembangannya ada istilah seni dan kriya di dalamnya.
Kriya atau seni kriya (craft atau handicraft) adalah: (1) sesuatu yang dibuat dengan tangan, dengan kekriyaan yang tinggi, (2) umumnya dibuat dengan sangat dekoratif atau secara visual sangat indah, dan (3) merupakan barang yang serba guna.


Seni Industri

Di Indonesia, istilah seni industri tidak begitu akrab didengar. Karena istilah ini lahir pada revolusi industridi Inggris. Bentuk seni industri ini dimulai dari tutup botol sampai dengan pesawat terbang. Pada fase ini hampir banyak produk-produk seni yang dibuat secara indutri mesin. Memang terjadi pro dan kontra dari pemberlakuan produk seni ini. Terutama pada sebuah pameran Great Exhibition 1851 di Inggris di mana sebagian orang menyatakan bahwa seni dan industri merupakan paduan yang tidak cocok, karena terjadi kekejaman cita-rasa dan langkah-langkah bodoh dari seni terapan (applied art).



PENCIPTAAN SENI


Motivasi Penciptaan Seni

Motivasi seorang seniman dalam melahirkan sebuah karya seni dalam berbagai hal dapat berbentuk motivasi untuk menjunjung tinggi nilai-nilai keindahan, motivasi untuk berekpresi dan berkomunikasi dengan yang lain melalui media seni, motivasi spiritual, dan lain-lain.


Masalah-masalah dalam Penciptaan

Masalah dalam penciptaan seni yaitu masalah-masalah teoritis dan teknis, hubungan bentuk dan isi dalam seni, hubungan antara bentuk yang dicapai dengan bahan dan teknik pembuatannya, atau hubungan antara seni dan teknologi pada umumnya,teori mengenai bentuk-bentukyang berkaitan dengan komposisi, proporsi, balans dan lain-lain.

Dalam seni rupa terdapat elemen-elemen visual seperti garis, bidang, bentuk, warna, gelap-terang, tekstur merupakan kata-kata dalam bahasa visual seniman dan bersama dengan penyusunan atau pengorganisasiannya yaitu kesatuan (unity), keseimbangan (balance), dan irama (rhythm) jadilah bahasa ekspresi seniman untuk menyatakan isi hatinya.

Seni terdiri dari bentuk dan isi. Bentuk adalah yang bersifat inderawi yang kasatmata dan kasatrungu, sedang isi adalah apa yang ada dibalik kasatmata dan kasatrungu itu. Seni yang besar terletak pada gaung jiwa yang besar.


Seni dan Teknologi

Keterkaitan dengan seni dan teknologi. Memang ini menjadi persoalan yang mendasar menurut Soedarso SP. Karena dengan adanya institusi seni dimulai dari Padangpanjang sampai Denpasar belum dirasakan pembinaan seni dan teknologi baik secara teoritik, afektif dan psikomotorik. Dari dulu,antara seni dan teknologi saling berhubungan dan saling membutuhkan, paling tidak dipandang dari sisi manusia pemakainya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalumemerlukan sentuhan seni, seperti contoh perkembangan bentuk mobil sebagai manifestasi dari prestasi ilmu pengetahuan dan teknologi, dari awal ditemukannya sampai saat sekarang ini. Seni merupakan penghayatan manusia secara subjektif atas apa yang ada di luar dan didalam dirinya dengan segenap mata hatinya dan mengekspresikan hasilnya dalam bentuk yang setetikdan menggetarkan, sementara ilmu pengetahuan merupakan pemahaman atas objek-objeknya baik secara rasionalmaupun empiris dan menghasilkan sebuah pengamatan serta analisis yang objektif.


Segi Enam Victor Papanek

Victor Papanek mengatakan bahwa pada dasarnya semua orang adalah desainer. Karena desain merupakan dasar dari pekerjaan manusia. Menciptakan puisi adalah desain, melukis, menyusun lagu dan lain-lain. Konklusi Viktor adalah bahwa “Design is the conscious effort to imposse meaningful order.”

Berkaitan dengan segi enam berkaitan dengan slogan Louis Sullivan tentang “Form Follows Function” berarti bentuk mengikuti fungsi dengan rinciannya yaitu: (1) Methode, adalah interaksi antara alat,proses dan bahan; (2) Use (kegunaan), adalah ketepatan bentuk yang ingin dicapai dengan penggunaan-nya; (3) Need (kebutuhan), berkaitan dengan seni yang menjadi kebutuhan umat manusia. Baik kebutuhan secara ekonomis, psikologis, spiritual, teknologis dan intelektual; (4) Telelis, adalah penggunaan proses-proses di alamdan masyarakat secara sadar dan bertujuan demi memperoleh sasaran tertentu; (5) Association, merupakan tanggapan inderawi terhadap hal-hal yang selalu terekam dibenak manusia, bisa dalam dua bentuk asosiasi yaitu buruk dan jelek; dan (6) Aesthetics, estetika atau keindahan merupakan bagian yang paling menderita dengan “formfollows function”-nya Louis Sullivan.




MANAJEMEN SENI

Manajemen Seni Pertunjukan

Pada dasarnya manajemen adalah proses pengunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran tertentu. Di dalamnya menyangkut perencanaan, pengorganisiran, pengarahan dan kontrolatau pengendalian atas sumber daya manusia.
Seperti contoh karya tari, pada awalnya merupakan sebuah gagasan personal, maka untuk lebih mudah membahasnya maka dibutuhkan manajemen seni dalamtiga tahapan yaitu: (1) tahap awal yang bersifat pribadi atau individual; (2) tahap kolaboratif, dan (3) tahap produksi yang dua-duanya merupakan proses kerja sama.

Manajemen Seni Rupa

Berkaitan dengan manajemen seni rupa, merupakan hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana merancang proses pameran dari awal sampai akhir secara maksimal mungkin. Misalnya pameran tunggal atau pameran bersama, biasanya langsung dilakukan oleh seniman itu sendiri dengan mempersiapkan lukisan-lukisan yang akan dipamerkan,catalog, undangan, persiapan acara pembukaan dan lain-lain. Dengan adanya pemahaman tentang sebuah kerja manajemen, maka sangat dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang akan memenej hal tersebut, seperti event organizer dan lain-lain.

Peranan Perguruan Tinggi Seni, yang memiliki Fakultas atau Jurusan Seni Rupa untukdapat memperhatikan hal tersebut, sebagai langkah dalam meningkatkan pemahaman pentingnya sebuah manajemen dalam sebuah pameran seni rupa, disamping itu juga dibutuhkan manajemen yang berkaitan dalam urusan mengurusi artefak-artefak seni rupa baik dalam hal penyimpanan maupun penjualan produk-produk seni rupa tersebut.



APRESIASI DAN KRITIK SENI


Pengamatan Seni

Dalam menciptakan karya, seorang seniman berusaha untuk menghasilkan sebuah entitas yang unik, kaya, dalam arti mampu memberikan rangsangan-rangsangan kepada penontonnya untuk menimbulkan banyak kemungkinan imajinasi, dan tentunya semua tersaji secara indah dan menarik.

Dalam melakukan pengamatan seni, khususnya seni rupa, Feldman membedakan antara “visual form” dengan “aesthetic structure”. Bagian pertama bertujuan untuk mengamati benda seninya, suatu eksistensi yang dapat dilihat sedangkan kedua adalah hasilpengamatan kita terhadap benda seni tersebut sebagaimana yang terlihat oleh mata. Cir-ciri dari pengamatan tersebut dapat dilihat dari: (1) latar belakang pengalaman yang berbeda-yang mempengaruhi hasilpengamatan tersebut; (2) karena minat atau mood (tergantung seperti apasituasi perasaan seorang pengamat dalam melihat sebuah karya seni).

Pengamatan karya seni dapat dilihat dari beberapabagian yaitu: (1) Elemen-elemen visual, adalah elemen visual yang telah ditata oleh seniman seperti garis, bidang, bentuk, bukan tanah liat, cat, dan lain-lain; (2) Desain adalah organisasi dalamelemen-elemen visual demi tercapainya kesatuan, imbangan, atau ritme; (3) Objek seni, adalah hasil fisik yang akan dibuat seniman melalui media cat, tanah liat dan perunggu; (4) Visual form, adalah hasil yang bisa diamati dari sebuah eksekusi artistik; (5) Persepsi adalah tindakan melihat dari seseorang pengamat dalam rangka untuk memahami visual form; (6) Pengalaman estetik; dan (7) Aesthetic structure.


Emphaty

Emphaty merupakan terjemahan bahasa Inggris dari kata Jerman, Einfuhlung, yang artinya “feeling into”, merasa seolah-olah diri kita berada di dalam karya seni yang sedang kita amati. Istilah ini dipakai dalam usaha untuk (a) menggambarkan apa yang terasa dalam diri pengamat seni ketika ia sedang mengamati karya seni (b) menjelaskan asal-mula perasaan si pengamat tentang visual form. Hal ini diungkapkan oleh Theodor Lipps (1851-1941) sebagai salah seorang tokoh yang mempersoalkan pertama kali tentang emphaty, disebut dengan kehilangan jarak psikhis (Psychic distance).


Seni dan Apresiasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perkataan ‘apresiasi’ diberi arti (1) kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya kita, dan (2) penilain (penghargaan) terhadap sesuatu. Jadi secara umum ‘apresiasi’ adalah kesadaran terhadap nilai-nilai seni (dan budaya) sehingga dapat mengadakan penilaianatau penghargaan terhadapnya.

Mengapresiasi memiliki pengertian yaitu mengerti serta menyadari sepenuhnya sehingga mampu menilai semestinya. Mengadakan apresiasi sama dengan “sharing the artist’s experience”, ikut serta merasakan apa yang dialami oleh si seniman dalam waktu mencipta. Apresiasi juga memiliki nilai terhadap seluruh aspek-aspek kesenian (karya seni) secara dalam,tidakhanya kulit luarnya saja.


Teori Kritik Seni

Feldman mengatakan bahwa kritik seni adalah understanding, artinya, apresiasi adalah hakekat kritik seni karena mengadakan apresiasi sama dengan to understand fully in the right way. Yang paling penting dalam kritik seni adalah bahwa kita ingin tahu bagaimana informasi tersebut dihubungkan dengan kebolehan karya seni yang kita hadapi. Menanggapi bahwa karya seni itu sangat kompleks baikdari segibentukmaupun isi, Stolnitz mengatakan bahwa sebagai the “interpretive” function of criticism di dalamnya kita membutuhkan interpretative criticism.

Tujuan dari kritik seni adalah perolehan kesenangan atau kenikmatan, yang sama artinya dengan tujuan pertama yaitu understanding, dari mengetahui di bagian mana darikarya seni yang menimbulkan rangsangan pada perasaan dan pada kesadaran total dari kesepahaman kita.
Modal dasar yang harus dimiliki seorang kritikus dalam menjalankan tugasnya adalah: (1) pengetahuan yang luas tentang seni, seperti sejarah dan teori seni, gaya dan aliran seni; (2) memiliki citarasa yang luas,umum dan objektif; (3) kritikus seni juga perlu mengenali para seniman yang akan dibahasnya, sehingga dapat menghubungkan antara pribadi dengan karyanya; (4) pada umumnya,seniman sangat menghargai kritik yang tegas, kuat dan berdasar atas analisis yang mendalam, serta memberikan pengarahan yang jelas; (5) ada baiknya seorang kritikus adalah seorang seniman pencipta,walaupun tidak menonjol, karena pengalamannya dalam mencipta akan berguna dalam ia menganalisis karya-karya yang dibahasnya dan jelas nampak dalam kritiknya.

Jenis kritik seni, para ahli membagi jenis-jenis kritik seni menjadi beberapa bagian. Feldman membagi jenis-jenis kritik seni menjadiempat bagian, yaitu: (1) kritik jurnalistikyang banyak berfungsi untuk kebutuhan berita surat kabar (media massa) sehingga ruang analisis yang terdapat dalam kritik tersebut kurang medalam; (2) kritik pedagogik, yang ditujukan kepada mahasiswa dalam pendidikan dengan tujuan untuk pengembangan kemampuan artistik dan estetiknya. Kritikini lebik bersifat sugestif dan tidak selalu objektif; (3) kritik ilmiah, atau akademik. Yaitu kritik yang benar-benar objektif,kritis dan analitis dengan fungsi untuk mengadakan penilaian yang semestinya; dan (4) kritik popular yaitu kritik yang objektif, namun diterangkannya secara popular agar mudah dimengertioleh khalayak umum.

John Hosper membagi kritik menjadidua yaitu; (1) isolationism, yaitu membahas karya seni secara lepas dari hubungannya dengan macam-macam hal di luarnya, dan (2) contextualism, sebuah kritik yang mengkaitkan yang dalam dengan apa-apa yang ada disekitarnya.
Stephen C. Pepper menggolongkan menjadi empat yaitu: (1) Formistic Criticism, (2) Mechanistic Criticism, (3) Contextualistic Criticism, dan (4) Organistic Criticism.



PROBLEMATIK DALAM KESENIAN INDONESIA

Seni Tradisi Indonesia

Pengertian seni dalam bahasa Indonesia sebagaimana artinya sekarang ini memang relatif masih baru. Dalam bahasa Inggris disebut dengan “art” yang berarti kecil, halus atau lembut. Dalam bahasa Jawa disebut ‘ngrawit’. Seni tradisi Indonesia memiliki sifat ‘ngrawit’ yang juga berarti indah, halus dan lembut. Seni batik selain terdapat di Jawa, juga terdapat di Bali dan Sumatra.

Seni tradisi tidak mengenal ‘novelty’ atau kebaruan dan kreativitas yang menyertainya. Seni tradisi tidak menonjolkan kebaruan ataupun kreativitas, melainkan mengedepankan kedalaman isi serta perfeksi teknis penggarapannya menuju kesempurnaan ujud yang berujung pada bentuk yang indah dan ngrawit. Kedalaman isierat dengan “rasa”.


Seni sebagai Pendidikan

Apabila kesenian tradisional seperti pewayangan sudah terjadi pergeseran dari ‘tuntunan’ kepada nilai ‘tontonan’. Bisa dilihat bahwa kesenian Indonesia masa lalu sangat erat dengan muatan tontonan juga memberikan kontribusi pendidikan yang efektif kepada masyarakat. Cerita Wayang versi lama selalu memberikan gambaran yang hitam putih tentang dunia, sisi baik dan sisi buruk, sisi yang baik akan selalu di menangkan dan sisi yang gelapakan selalu dikalahkan untuk tujuan pensucian diri dan nilai pendidikan kepada masyarakat penonton sebagai penikmat. Begitu juga cerita lainnya di berbagai daerah Indonesia, seperti Randai, Makyong, Mendu, Mamanda, PM Toh, Ketoprak,Wayang Orang dan lain-lain.


Masalah Keindahan dalam Seni Indonesia

Keindahan karya seni di Indonesia tidak berangkat dari pemuasan sensualitas dari apa yang diterima oleh pancaindera, tetapi lebih pada pengalaman bathin sesorang atau rasa. Menurut bahasa Zoetmulder disebutkan bahwa pengalaman ekstatis, yaitu rangkuman pengalaman estetis dengan mistis atau religious. Banyak bentuk karya seni Indonesia dari masa lalu yang dibuat atas dasar kegunaan dan juga nilai estetik yang dilekatkan kepada benda tersebut misalnya piring, sendok, bejana, kendi,yang diukir dengan halus, rapih dan indah. Keris juga termasuk produk Indonesia yang cukup kaya dengan muatan estetik dari sisi bentuk, misalnya dengan bentuk ukiran yang terdapat pada sarung (warangka) keris.


Pertumbuhan Seni Indonesia Modern

Berkembangnya seni modern di Indonesia juga tidak lepas dari pengaruh revolusi yang terjadi di Eropa yang disebut dengan zaman renesans (zaman pencerahan), berkembangnya ilmu pengetahuan dan pola pikir manusia menyebabkan tumbuhnya humanisme yaitu mencuatnya harga individu yang di dalam seni tumbuhnya ekspresi yang sifatnya pribadi. Dan sampai juga di Indonesia pada masa jajahan Belanda melalui label VOC.

Perkenalan pertama orang-orang Indonesia terhadap gaya seni Barat adalah melalui hadiah VOC kepada pejabat-pejabat Jawa yang dianggap berjasa berujud lukisan, juga didatangkan juru gambar dari Belanda dan sekitarnya ke Indonesia untuk membuat ilustrasi untuk kebutuhan laporan tahunan mereka di Indonesia. Karena mendatangkan juru gambar sangat mahal, maka diputuskan untuk mendidik tenaga-tenaga lokal, maka muncullah Raden Saleh, melalui A.A.J. Payen seorang pelukis asal Belgia mengusulkan agar Raden Saleh belajar lukis di Belanda. Maka Raden Saleh adalah seniman Indonesia pertama yang serius mendalami seni lukis Barat di Eropa (1829-1851). Selanjutnya muncul generasi paska Raden Saleh yang tergabung dalam ‘Mooi Indie’ yaitu Abdullah Suriosubroto (1878-1941), Wakidi (1889-1980), dan Mas Pirngadi (1865-1936).

Disamping ‘Mooi Indi’, juga muncul PERSAGI yaitu Persatuan Ahli Gambar Indonesia melalui Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane, selanjutnya pertumbuhan seni Indonesia pada masa penjajahan Jepang, masa Orde Lama, dan Orde Baru memberikan satu bentuk periodesasi yang cukup signifikan dalam seni rupa Indonesia.


Situasi dalam Seni Pertunjukan

Perkembangan seni rupa di Indonesia, sudah sejak lamaberpengaruh denga dunia Barat, yaitu semenjak Raden Saleh (1807-1880) diutus ke Belanda, dan lahirnya Persagi pada tahun 1937. Namun, dalamseni pertunjukan tidakbegitu terasa pengaruh Barat di dalamnya, sehingga kesenian-kesenian pertunjukan di Indonesia seperti tari, musik karawitan, teater rakyat masih terlihat secara orisinil tanpa satu-pun sentuhan Barat di dalamnya. Sementara seni rupa, sangat cepat untuk mendapatkan pengaruh seni dari Eropa dan Amerika karena akses transportasi karena tidak perlu membutuhkan banyak orang.

Pengaruh Barat, terasa masuk dengan hadirnya beberapa jenis alat musik Barat di Keraton Yogyakarta pada masa Hamengku Buwono V (1822-1855) seperti Biola, Saxopon, trompet, seruling dan lain-lain. Dalam seni tari juga terasa dengan adanya minuman keras dalam tarian Srimpi (Sangopati). Pada tahun 50-an, Bagong Kussudiardja dan Wisnu Whardana belajar tari di Amerika Serikat di bawah asuhan Martha Graham juga terasa unsur Barat juga mempengaruhi kesenian tradisional setelah itu.

Di bidang musik diatonik, masuknya pengaruh Barat terutama melalui jalur-jalur musik rakyat (kroncong), musik gereja, dan musik-musik seriosa. Sampai pada perkembangan teknologi informasi seperti Televisi, kehadiran seni memang sudah jauh bergeser yang lebih mengedepan nilai tontonan belaka, tanpa memuat nilai tuntunan di dalamya, karena faktor yang paling mendasar adalah industrialisasi yang bersifat komersil dengan konsep yang hanya mengedepankan untung dan laba. Peran lembaga pendidikan sangat penting untuk memberikan filter terhadap kecenderungan kesenian sudah bergeser pada nilai-nilai yang konsumtif, hedonistik, sehingga melupakan akar kebudayaan nasional yang harus dijaga.


SELESAI