Selasa, Maret 23, 2010

RESUME BUKU

TRILOGI SENI:
PENCIPTAAN, EKSISTENSI, DAN KEGUNAAN SENI
Oleh : Prof. Soedarso Sp., MA



PENGERTIAN SENI

Manusia dan Seni

Mengawali dari tulisan buku ini, Soedarso Sp menjelaskan tentang posisi seni dalam kehidupan manusia. Kebutuhan seni sebagai kebutuhan sekunder sangat-lah penting disamping kebutuhan primer manusia itu sendiri. Begitu besar kebutuhan manusia terhadap terhadap seni, sehingga berbagai carapun dilakukan agar dapat mendapat kepuasan dalam menikmati kesenian itu, seperti yang digambarkan Soedarso Sp pada era kekuasaan Mao Zedong di Cina. Bahwa segala yang indah pada masa itu memang di berangus karena dianggap produk barat, seperti taman bunga dan ikan di akuarium.

Misalnya dengan memberikan pernak-pernik terhadap pakaian yang secara fungsinya hanyalah penutup tubuh, disitulah dapat disimpulkan betapa hebatnya manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan hal-hal yang indah. Seni pada masa lalu selalu dikonotasikan dengan keindahan. Keindahan adalah realisasi dari usaha manusia untuk menciptakan yang indah-indah itu. Seni merupakan kebutuhan manusia, walaupun bukan kebutuhan pokok. Sangat susah kita membayangkan apabila manusia hidup di dunia ini tanpa ada ruang yang disebut dengan seni, seperti hening, tidak ada musik, tari, teater, seni rupa. Dengan itu, kesenian dalam konteks nilai yang dilakukan oleh penciptanya untuk bermacam tujuan dan kegunaan seperti untuk pendidikan, hiburan, saranap pemujaan, dan untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari.

Seni dalam berbai Istilah dan Asal Mula

Istilah “seni” dalam berbagai pemahaman ada yang mengatakan bersal dari kata “sani” dalam bahasa sansekerta yang berarti pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencarian dengan hormat dan jujur. Selanjutnya ada yang mengatakan bahwa seni diambil dari istilah Belanda yaitu “genie” atau jenius. Kedua asal kata tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang aktivitas apa sekarang yang dibawakan oleh istilah tersebut. Dalam majalah Pujangga Baru terbitan 10 April 1935, kata seni kemudian disesuaikan dengan padanan kata Inggris yaitu “art”. Dalams ebuah esai, tulisan RD berjudul “Pergerakan 80” yang dimuat dalam majalah itu tersebut kata-kata ‘de aller-individueelste expressie van der individueelste emotie’ (kelahiran yang sekhusus-khususnya dari perasaan yang sekhusus-khususnya).

Dalam bahasa Sansekerta, seni disebut dengan Cilpa. Sebagai kata sifat Cilpa berarti berwarna dan kata jadianya, su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihias dengan yang indah. Cilpacastra di Indonesia sudah populer karena banyak disebut dalam sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman untuk para cilpin, yaitu tukang, atau seniman.

Dalam bahasa latin abad pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah teknik atau craftsman-ship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu. Adapun artes berarti societates mesteriorum atau kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan tersebut (craft guilds); dan artista adalah anggota yang ada dalam kelompok-kelompok itu. Artista dapat kita persamakan dengan cilpin di atas. Pada fase dunia Industri di Eropa muncul gilde (Belanda) atau guild, organisasi kemudian yang memberikan bantuan kepada seniman-seniman dalam berkarya dan memasarkan karya-karya tersebut.

Ars inilah yang kemudian berkembang menjadi I’arte (Italia), I’art (Perancis), el arte (Spanyol), dan art (Inggris). Bersamaan dengan itu isinya-pun berkembang sedikit demi sedikit kearah pengertiannya sekarang. Di Eropa juga ada istilah lain untuk menamai hal yang sama. Orang Jerman menyebut seni dengan die Kunst dan orang Belanda menyebutnya Kunst, yang berasal dari akar kata lain yang memiliki pengertian yang sama.

Yunani yang dipandang sebagai sumber kebudayaan Eropa, juga tidakmenemui kata sepadan berkaitan dengan seni. Kata yang dekat dengan istilah itu adalah “techne” atau teknik. Menurut Aristoteles, (techne) sebut saja seni, kemampuan untuk membuat atau mengerjakan disertai dengan pengertian yang betul tentang prinsip-prinsipnya. Pada masa ini, tidak ada pembatas antara seniman dan kriyawan, kriyawan mencipta sepatu dan para pelukis hanyalah menghasilkan tiruan dari sepatu tersebut. Timbulnya istilah fine art atau seni murni dalam abad ke-18. Maka terjadi pembedaan antara seniman dan kriyawan. Seniman adalah pekerja seni yang berurusan dengan kreatifitas dan ekspresi, sedangkan kriyawan adalah tukang yang bekerja dengan keterampilan tangannya. Fine art bukanlah kesenian yang rumit melainkan seni yang indah atau beutiful (les beaux arts, le belle arti, die schone Kunst). Seni yang mementingkan keindahan daripada kegunaanya. Pada abad ke-19, di Inggris terdapat suatu usaha untuk menyatukan kembali seni murni dan seni kriya tersebut yang dipelopori oleh John Ruskin dan William Morris.


Hubungan antara Seni dan Keindahan

Bicara mengenai seni memang melahirkan suatu pemahaman yang berbeda-beda, ada yang mengatakan seni itu indah, seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan manusia. Ada juga yang mengatakan seni tidak harus indah. Lalu muncul sebuah pertannyaan, menilai seni dalam konteks indah apakah dilihat dari subjek atau objeknya, pada benda seni atau orang yang melihatnya. Plato seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa keindahan itu terletak pada pikiran manusia yang ideal sehingga tidak mungkin kita peroleh dari dunia yang wadak ini, baik subjek maupun objeknya. Keindahan menurutnya tergantung pada rasa suka dan tidak suka seseorang secara individual, tetapi atas pemahaman intelektual terhadap cara pandangnya melihat persoalan.

Filsuf Kristiani Santo Augustinus (354-430) dan Thomas Aquinas (1225-1274) juga sependapat, bahwa keindahan itu adalah sinonim, berkaitan dengan kebenaran, bahwa kebenaran yang ilahiah akan melahirkan konsep keindahan, dan usaha untukmengekspresikan kebenaran-kebenaran tersebut akanmenghasilkan bentuk-bentukyang indah. Santo Augustinus mendefenisikan keindahan sebagai kesatuan bentuk omnis pulcritudinis forma unitas est dan Thomas Aquinas membagi dalam tiga hal yaitu: (1) adanya integritas atau perfeksi; (2) proporsi yang tepat atau harmonis; dan (3) adanya klaritas atau kejelasan. Pada zaman modern, Herbert Read menambahkan bahwa beuty is a unity of formal relations among our sense-perceptions. Ketiganya meletakkan keindahan sebagai objek. Sokrates pernah menyatakan bahwa keindahan itu adalah segala sesuatu yang menyenangkan dan memenuhi keinginan terakhir.

Pandangan di atas masih dianggap subjektif, karena memandang keindahan dari diri orang yang melihat atau mendengar (beuty is in the eye of the beholder). Immanuel Kant (1724-1804), menyatakan bahwa keindahan itu adalah hal yang menyenangkan tanpa pamrih dan tanpa adanya konsep-konsep tertentuyang terkesan basa basi. Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762) seorang filsuf Jerman, dalam disertasinya membedakan tiga kesempurnaan dalam dunia yaitu: (1) kebenaran (das wahre), ialah kesempurnaan yang bisa ditangkap dengan perantaraan rasio; (2) kebaikan (das Gute), kesempurnaan yang ditangkapoleh moral atau hati nurani; dan (3) keindahan (das Schone), yaitu kesempurnaan yang ditangkap dengan indera (perfectio cognitionis sensitivae,qua talis). Pandangan Baumgarten ini kemudian lahirlah nama untuk filsafat keindahan yaitu “Estetika” yang berasal dari bahasa Yunani ‘aisthesis’ yang artinya persepsi.bagi Baumgarten estetika adalah the science of perceptual cognition. Artinya menilai suatu keindahan terletak pada pada pandangan kita bagaimanakah yang indah itu. De gustibus non est disputandum (kita tidak bisa memperdebatkan rasa).


Hubungan antara Seni dan Alam

Bagi seorang seniman interaksi antara manusia dengan alam banyak mengispirasi penciptaan karya seni baik dari sisi motivasi penciptaan maupun hasilnya kemudian. Ilmu kebudayaan mengajarkan bahwa manusia banyak mempengaruhi dandipengaruhi oleh alam sekitarnya, manusia telah menciptakan habitatnya menjadi tempat yang cocok dan enak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal, walaupun ada juga sebagaian manusia yang merusak tatanan tersebut seperti penebangan hutan, menjual pasir lau dan lain-lain. Dari hal-hal seperti ini, cerminan sebuah inspirasi maka alam-pun dijadikan sebagai objek dalam karya lukis, sehingga dengan media alam banyak lahir karya-karya seni lukis dari Barat dan Indonesia khususnya seperti lukisan alam Basuki Abdullah dengan judul ‘Ngarai Sianok’. Seniman-seniman Indonesia masa lampau tidak tertarik untuk melukiskan bentuk-bentuk alam ini seperti apa adanya.mereka lebih tertarik untuk melukiskan sesuatu yang lebih dalam sifatnya;baik tangkapan kehalusan jiwa maupun pandangan religiusnya.

SENI DARI MASA KEMASA


Seni dan Magi

Istilah yang dipakai oleh van Peursen, berdasar atas sifat-sifat pokok manusia dan masyarakat yang ada di dalamnya, sejarah kebudayaan manusia dapat dibagi menjadi tiga tahap besar, yaitu: tahap mitis, tahap ontologis, dan tahap fungsional. Dalam tahap mitis, kehidupan manusia sangat tergantung dengan alam, karena ada kekuatan-kekuatan yang di luar rasio manusia sangat sulit untuk ditaklukkan seperti kekuatan roh, kekuatan dewa-dewa alam, dan kekuatan kesuburan. Dalam tahap ontologis, manusia tidak lagi merasa hidup dalam cengkraman kekuatan di luar rasionya, bahkan manusiasudah mulai melakukan penelitian segala ikhwal yang ada di sekitarnya dengan pandangan mencari hakekat sebuah pengatahuan (ontologis). Dalam tahap fungsional, manusia tidak lagi merasa terkungkung dengan alamnya dan juga terhadap kekuatan-kekuatan ghaib yang ada disekitarnya.

Kerangka mitis terdapat banyak mitos, yaitu berupa cerita-cerita rakyat yang dituturkan maupun diperagakan lewat tari-tarian, musik dan lain-lain. Inti cerita itu adalah lambang-lambang yang menguraikan pengalaman manusia purba, lambang-lambang kebaikan dan kejahatan, kehidupan dan kematian. Kesenia pada masa ini tidak hanya sekedar tontonan tetapi juga memuat nilai tuntunan sebagai pedoman bagi masyarakat penontonnya. Dalam kehidupan masyarakat primitif magi memiliki peranan yang sangat penting. Magi adalah tindakan atau mantra-mantra yang dimaksudkan untuk mempengaruhi atau menguasai seseorang atau suatu kekuatan dalam rangka mencapai suatu maksud tertentu.

Sebuah lukisan babi hutan yang kena tombak di dinding gua Pattae di dekat Maros, Sulawesi Selatan atau di Eropa dengan lukisan Bison kena panah di gua Niaux di Ariege, Perancis. Dua lukisan dinding ini bukanlah bertujuan sebagai hiasan dinding oleh pembuatnya, menurut Malinowski lukisan tersebut bukanlah untuk memenuhi keinginan manusia akan hal-hal yang indah, tetapi hanyalah untuk memenuhi hasrat hidup yang pertama yaitu mempertahankan hidup.


Seni dan Simbolisme

Seni-seni prasejarah dan klasik Indonesia, memiliki muatan-muatan dan isian berupa simbol-simbol yang sarat maknanya. Seperti patung perwujudan nenek-moyang dari pulau Nias atau Tanimbar, seni hias pa’ tedong atau pa’ barre allo dari Toraja, motif semut beriring dari Bengkulu, motif pohon hayat pada kain tenun Sumba, dan motif candi seperti purnaghata, kala-makara, kalpataru dan lain-lain. Malinowski dan beberapa pengikutnya menyatakan bahwa mitos merupakan “charter” atau inti dari kepercayaan, tindakan, dan hubungan sosial masa kini.
Seni hias perunggu dari kebudayaan Dongson tidak memuat makna simbolik tertentu seperti motif pilin, pilin berganda, meander, pinggir awan, atau motif-motif lainnya. Sehingga seni hias perunggu ini sering disebut sebagai I’art pour I’art, seni untuk seni, seni yang tidak dibebani dengan tugas-tugas lain kecuali tugas menampilkan keindahan itu sendiri.

Susanne K. Langer mengatakan bahwa simbol-simbol yang ditempelkan pada karya seni disebut the symbol in art yang harus dibedakan dengan the art symbol yang kemudian istilah ini diubahnya menjadi expressive form karena banyak kesalah-pahaman yaitu bahwa seni sebagai expression of feeling, sebagai ekspresi dari jalinan antara sensibilitas, emos, perasaan, dan kognisi yang impersonal, merupakan ciri utama karya seni sehingga Langer mengatakan sebagai expressive form. Maka seni adalah simbol yang sekaligus juga bermuatan simbol.


Seni dan Religi

Seni dan religi pada masa dulu sampai sekarang menjadi cerminan dalam memberikan pencerahan agama-agama melalui media seni kepada masyarakat. Seni selalu hadir dalamsetiapagama yang pernah ada, misalnya candi Prambanan yang menunjang kebesaran agama Hindu, stupa di Borobudur sebagai cerminan kebesaran agama Budha, masjid Nabawi di Madinnah, gereja Santo Petrus di pusat kota Roma.

Di dalam seni, manusia mengekspresikan ide-idenya, pengalaman keindahan atau pengalaman estetiknya. Jiwa manusia yang bergetar, jiwa manusia yang terharu itulah yang melahirkan karya seni. Menurut Alma M.Hawkins bahwa seniman harus selalu berusaha untuk terlibat dalam suasana kebahagiaan dan keputus-asaan manusia karena keduanya terdapat sumber dari perasaan yang membuat karya seni memiliki daya pikat.

Posisi antara seni dan religi pada prinsipnya terletak pada kecenderungan sifat keduanya, apabila religi atau agama dianggap lebih mengikat, namun seni bisa berdiri sendiri tanpa agama. Pandangan ini,memberikan suatu gambaran bahwa apabila seni terikat dalam konsep-konsep doktrin dan dogmatis agama, maka seni akan menjadi liturgi karena bersifat mengikat. Namun apabila seni dan agama hanya sebatas interaksi, maka posisi seni dan agama menjadi hal yang tidak dogmatis, karena posisi seni hanya menjadi media saja, tanpa harus diikat untuk kebutuhan doktrin tertentu.

Perlu diingat bahwa manusia itu merupakan kesatuan rohani-jasmani. Dalam pandangan fenomenologi eksistensial dikatakan bahwa ke-ada-an kita berupa “in-der-Welt-sein”. Dalam diri manusia terdapat dua hakekat yang tidakdapat dipisahkan satu dengan yang lainnya yaitu hakekat jasmani dan hakekat rohani (roh), keduanya ini menjadi kesatuan yang disebut dengan manusia.

Berkaitan dengan pengalaman estetik, kemudian melahirkan sebuah karya seni yang disuarakan, dibahasakan, ditarikan atau dilukiskan. Ini merupakan suatu momentum estetik yang dimiliki manusia. Pengalaman estetik yang bentuknya murni merupakan sebuah pengalaman yang sangat mendalam.


Seni dan Kenikmatan Hidup

Sebuah teori yang hedonistik, apabila diartikan secara apa adanya adalah penciptaan seni yang hanya satu tujuan, yaitu memberikan kenikmatan kepada masyarakat pendengar atau pengamatnya. Namun ada pengertian yang lebih khusus, yaitu bukan semata-mata ‘kenikmatan’ tetapi ‘aesthetic pleasure’ atau ‘kenikmatan estetik’, artinya, kenikmatan itu dikaitkan dengan estetika sehingga ia memiliki kualifikasi dari estetika mana yang dipakai.
Di masa Rokoko di Perancis (abad XVIII), banyak ditemukan lukisan-lukisan erotis dengan penggambaran wanita-wanita telanjang seperti “Toalet Venus” dan “Miss O’Murphy” karya Francois Boucher, “Orang-orang Mandi”, dan “Wanita Mandi” karya Jean-Honore Fragonard. Lukisan digunakan sebagai hiasan dinding Istana yang lebih mengutamakan pada kenikmatan hidup yang bersifat hedonistik.

Hal ini, juga dapat dirasakan dari bentuk kesenian-kesenian lainnya di luar seni rupa, seperti musik, tari dan drama dengan memberikan suatu penggambaran karya seni yang hanya mengedepankan unsur kenikmatan saja, sehingga memang karya tersebut jauh dari nilai tuntunan sebagai wujud dari keinginan seniman untuk memberikan suatu pemahaman moral kepada masyarakat tidak akan tercipta apabila karya seni yang dihadirkan bersifat hedonistik,yang hanya mengandalkan unsur ”nikmat”-nya saja.


Seni dan Ekspresi

Menurut Jacques Maritain dan George Santayana, art is the creative of beauty, seni adalah penciptaan keindahan, yang diartikan dalam hubungannya dengan kenikmatan. Filsuf lain yang tidak sependapat dengan pandangan ini yaitu Eugene Veron, Leo Tolstoy, atau Yrjo Hirn. Fungsi seni menurut Veron dan Tolstoy adalah mengekspresikan seluruh emosi manusia, yang menyenangkan maupun juga yang menyedihkan. Dan dari Timur,Sudjojono berpendapat bahwa seni adalah jiwa yang nampak. Pandangan tersebut diformulakan pertama kali oleh Eugene Veron dalam buku berjudul L’Esthetique (1878) di mana ia menyatakan bahwa seni adalah ekspresi emosi. Ada seni yang bersifat dekoratif dan juga seni yang bersifat ekspresif (sama sekali tidak ada urusannya dengan keindahan).


Seni dan Kegunaan Praktis

Apabila dirunut pada sejarah seni pada awalnya, hanyalah untuk memenuhi kebutuhan praktis manusia belaka tanpa ada unsur estetika yang dimaksudkan dalam seni tersebut. Baik yang ditemukan dalam artefak-artefak, dan benda-benda purbakala yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan primer yang bersifat praktis. Benda-benda yang dibuat manusia sepert i:belanga, hulu pedang, kursi, tombak, songket dan lain-lain pada awalnya dipersiapkan untuk kebutuhan praktis manusia, namun agar benda-benda tersebut terlihat indah, nyaman dan enak dipandang, maka segala bentuk pernak-pernik, ukiran, tenunan-pun dibubuhkan dalam benda-benda praktis tersebut dengan tujuan agar para pengguna secara nyaman dapat menggunakan dengan baik. Dengan itu muncullah istilah seni kriya sebagai saudara seni murni, dengan menambahkan nilai ekspresi di dalamnya.


DEFENISI DAN BENTUK SERTA SIFAT-SIFAT SENI


Perbandingan macam-macam Defenisi Seni

Dalam Ensiklopedia Indonesia disebutkan bahwa,”apa yang disebut seni atau kesenian itu meliputi penciptaan dari segala macam hal atau benda yang karena keindahan bentuknya senang orang melihat atau mendengarnya”. Rumusan dari pengertian ini adalah bahwa seni itu indah dan barang yang indah itu menyenangkan buat yang melihat atau mendengarnya.

Kalau kita mencoba melakukan suatu perbandingan dari karya seniyang terdapat pada rumah adat di Minangkabau, Wayang Kulit, rumah joglo dari Jawa, adalah indah dan menyenagkan. Begitu pula tari ballet ‘Bolshoi’dari Rusia atau tari ‘Gambyong’ dari Jawa Tengah, juga indah dan menyenangkan. Tapi kalau kita berhadapan dengan karya patung ‘The State Hospital’ karya Kienholz, lukisan ‘Woman I’ karya Willem de Kooning, justru yang indah itu tidak tampak dalam karya ini, justru adalah karya-karya yang memuakkan karena karya seni yang mereka buat lebih mengedepan nilai filosofi yang harus diterjemahkan karena sarat dengan kritik sosial.

Everyman Encyclopedia menyebutkan bahwa seni adalah “ all that which is not done by man in the way of utility, in other words, all that he does in the way of luxury, pleasure, or from spiritual need.” Sumber ini tidak ada menyatakan keindahan di dalamnya, artinya keindahan tidak menjadi syarat lahirnya sebuah karya seni. Sebaliknya, yang disyaratkan adalah motivasi penciptaannya.

Achdiat Karta Mihardja juga tidak menyebutkan tentang keindahan, menurut dia seni adalah kegiatan rohani manusia yang merefleksikan realitet (kenyataan) dalam suatu karya berdasarkan bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani si penerimanya.

Thomas Munro, seorang filsuf dan ahli teori seni menyatakan bahwa seni adalah alat buatan manusiayang dibuat untukmenimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihat efek tersebut mencakup tanggapan hasil dari pengamatan, pengenalan, imajinasi, baik yang rasional maupun yang emosional.

Leo Tolstoy mendefenisikan seni sebagai “expression and communication of emotion”. Seni adalah ekspresi-yang sesuai dengan pendapat veron bahwa seni adalah komunikasi emosi. Disatu sisi, seni adalah transfer of feeling-sesuai dengan bahasa khas Tolstoy-dan di sisi lain seni adalah pelepasan emosi yang menggelegak dalam hati.

Dalam Encyclopedia Britannicaedisi kesebelas (1910) Sydney Colvin menyatakan bahwa “art is every regulated operation or dexterity by which organized beings pursue ends which the know beforehand, together with the rules and the result of every such operation or dexterity.” Defenisi ini lebih mengedepankan seni sebagai sesuatu yang tinggi beserta aturan main dan hasil perolehannya. Kata ‘regulated’,’organized’, dan ‘rules’ yang terdapat di dalamnya memberikan petunjuk bahwa ‘keteraturan’ merupakan kata kunci dalam defenisi ini baik dari sisi pelaku maupun cara-cara mencapai tujuan seni tersebut.

Kata seni (art), perlu dibatasi pemakaiannya karena sangat terlalu longgar. Kata seni juga masuk dalam seni memasak, seni dalam perang, seni bela diri, sehingga pemahaman terhadapseni tidak menjadi rancu dalam pengunaannya. Dari paparan ini kita sudah mendapatkan masukan bahwa seni adalah (1) produk keindahan, atau sesuatu yang harus indah; (2) kehadirannya tidak dimaksudkan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia; (3) merupakan kegiatan rohani-dan jasmani; (4) merupakan kegiatan yang secara intensional menggiring publiknya untuk memperoleh efek-efek psikologis tertentu; (5) merupakan ekspresi dan komunikasi emosi; dan (6) kehadirannya mesti didampingi oleh keteraturan. Keteraturan adalah syarat bagi seni, disamping keindahan itu sendiri.


Bentuk dan Sifat-sifat Seni

Seni memiliki dua aspek yang berbeda yaitu (1) seni bersifat tradisional (tradisi); dan (2) seni merindukan nilai kreasi dan inovasi. Selalu mengejar apa yang belum ada (modern). Seni tradisi adalah seni yang taat akan pakem, taat azas, stereotip, sehingga usaha kreativitas tidak diperlukan di sini. Sementara seni modern merupakan seni yang selalu mengedepankan nilai kebaruan, kreasi, dan inovasi. Misalnya seperti Wayang Kulit, Wayang Orang, Randai, Makyong, dan lain-lain termasuk kesenian yang sudah memilki pakem dan bersifat tradisional. Sementara seni modern tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ikatan zaman, yang ditonjulkan adalah kreativitas dan sikap bathin senimannya. Sehingga pemahaman dari apa yang diamati dalam realitas keseharian, tentu saja dalam wujud penciptaan karya seni kreasidan inovasi bisa saja tidak sama, walaupun secara esensi yang dibuatnya berdasarkan dari realitas tersebut. Contoh, seorang seniman modern yang akan melukis seekor kuda, maka akumulasi ide kreatif-nya sangat liar, untuk menjadikan kuda tersebut dengan berbagai variasi baik melalui garis, warna dan lain-lain.

Logika umum menyatakan bahwa seni tradisi adalah seni masa lalu dan seni modern adalah seni hari ini, sementara pada perkembangannya muncul lagi istilah baru yang disebut dengan seni kontemporer. Namun kehadiran ketiga bentuk ini saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.

Akulturasi adalah suatu keadaan yang dihasilkan oleh karena adanya pertemuan yang serius dan terus-menerus antara sekelompok manusia dengan kelompok lain yang memiliki kebudayaan yang berbeda dan menimbulkan perubahan pada pola kebudayaan aslinya baik di salah satu sisi atau kedua kelompok yang bertemu. Proses akulturasi ini tidak hanya pada faktor genetika, agama, bahasa tapi juga kebudayaan yang kemudian masuk mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.

Sebuah akulturasi yang baik diperlukan beberapa syarat yaitu: (1) syarat persenyawaan atau afinitas, ialah adanya kesejajaran di antara satu atau banyak bagian dari kedua kebudayaan yang bertemu; (2) syarat keseragaman dan homogenitas, yaitu kedekatan atas kemiripan dari kedua kebudayaan yang bertemu, yang memudahkan persenyawaan antara keduanya; (3) syarat fungsi, artinya kemungkinannya unsur yang terambil dalam akulturasi itu mendapat tempat yang fungsional dalam konstelasi budaya yang mengambilnya, dan (4) syarat seleksi, ialah kemungkinannya unsur-unsur yang terambil dalam akulturasi tersebut merupakan pilihan yang tepat diantara apayang tersedia, artinya kebudayaan donornya selayaknya memiliki kekayaan dan kompleksitas yang tingi.


Seni, Bentuk dan Isi

Defenisi kebudayaan yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tidakan, dan hasil karya manusia. Maka seni juga berujud ‘ide’ atau ‘gagasan’, ’pengalaman’ atau ‘tindakan’ dan ‘hasil karya’ manusia atau ‘artefak’ seni bisa berbentuk ide, wawasan atau konsep yang ada dalam kalbu, atau visualisasinya dalam ujud penghitungan atau perencanaan yang berangkat darihasil karya manusia. Dalam seni ada dua hal yang tidak dapat dipisahkan yaitu bentuk dan isi, hal ini juga dapat kita lihat dalam seni rupa, tari, teater dan musik. Bagaimana seorang seniman, disamping memikirkan seperti apa bentuk karyanya, juga memikirkan secara dalam landasan konseptual yang termuat dalamide dan gagasan sebagai isi dari karya tersebut sehingga memiliki daya pikat di hadapan pemerhati yang melihat atau mendengar karya seni tersebut.


Stilisasi

Stilisasi adalah pengubahan bentuk-bentuk di alam dalam seni untuk disesuaikan dengan suatu bentuk artistik atau gaya tertentu, seperti yang terdapat dalam seni hias atau ornamentik. Stilisasi, juga berkaitan dengan ‘penggayaan’. Dalam bahasa Inggris disebut ‘stilization’, dalam bahasa Belanda disebut ‘stileren’ atau ‘styleren’. Ada juga yang menyebut stilasi (bahasa Indonesia). Kata lain yang berkaitandengan ini disebut ‘deformasi’ yang berarti perubahan bentuk secara besar-besaran sehingga bentuk ini berbeda dengan bentuk aslinya. Istilah ini berasal dari bahasa latin ‘deformare’ yang berarti meniadakan atau merusak bentuk. Kata lain yang dekat dengan deformasi adalah ‘distorsi’ yang berarti penyimpangan atau pemutarbalikan (bentuk,kenyataan, dan lain-lain) baik secara intensional atau tidak.

Stilisasi sudah lama dikenal dalam kesenian, terutama dalam seni ornamentik, sejak zaman Mesir sampai zaman sekarang. Stilisasi banyak dimanfaatkan dalam seni hias, yaitu dalam pembuatan motif-motif hias yang umumnya diambil dari unsur-unsur alam baik flora maupun fauna. Namun ada juga yang mengkritik bentuk hias atau ornamen ini seperti Adolf Loos (1870-1933), seorang arsitek Austria pernah mengatakan bahwa ‘Ornament is a Crime’, dalam bukunya Ornamnet und Verbrechen (1908).


Gaya dan Aliran

Gaya dan aliran dalam seni, nampak mirip atau sama dan dalam pemakainnya sehari-hari selalu dipertukarkan. Namun keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Gaya, corak, atau langgam yang dapat disejajarkan dengan istilah Inggris yaitu ‘Style’, adalah modus berekspresi dalam mengutarakan sesuatu bentuk, artinya gaya, corak, atau langgam ini berurusan dengan bentuk luar sesuatu karya seni. Serta aliran, paham, haluan adalah pandangan atau prinsip yang lebih dalam sifatnya. Seperti contoh ‘gaya’ yang abstrak dan ‘paham-alirannya’ adalah ekspresionisme melahirkan ‘abstrak-ekspresinisme’. Kalau dalam teater bisa dikatakan ‘gaya’ tragedi dengan paham ‘realisme’ dan lain-lain.

Realime dan naturalisme memiliki pemahaman konotasi yang berbeda, naturalismeadalah suatu paham yang memuja kebesaran alam, maka bagi kaum naturalis tidak mungkin melukiskan bagian alam ini yang jelek-jelek, lukisan naturalisme sifatnya selalu menggambarkan keindahan alam seperti lukisan “Mooi Indie” di Indonesia masa lalu. Naturalisme dianggap sebagai karya-karya idealistik sifatnya. Sementara realisme adalah suatu aliran yang ingin menangkap realitas seperti adanya, tanpa ilusi, tanpa bumbu apa-apa, di atas konsep kewajaran. Namun nilai kewajaran ini tetap memuat interpretasi seniman di dalamnya yang kemudian menghasilkan ketidak-wajaran itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam contoh seni rupa.



KLASIFIKASI SENI


Pohon Seni

Melakukan klasifikasi terhadap seni sudah lama dilakukan, termasuk para filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Pembagian tersebut juga berdasarkan pertimbangan alasan secara metafisis, psikologis, sosial dan lain-lain. Pembagian secara filosofi ini disebut dengan sistem, sistemini diwujudkan dalam bentuk pohon berikut akar-akarnya yang dalam metafora mendorong kelahiran seni.


Klasifikasi Filosofis dan Klasifikasi Praktis

Dalam abad ke-18 muncul istilah Inggris yaitu “fine art” yang berarti mulai adanya pemisahan dari pengertian seni secara umum menjadi seni murni estetik dan seni yang dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Hakekat ‘fine’ terkadang menjadi pemisahan antara seni dan bukan seni, seni yang estetik dan hedonistik dengan hal yang mementingkan kegunaan dan teknik bukanlah termasuk seni.

Di masa Kant ‘fine art’dipahami sebagai kemampuan yang bertujuan untuk menghasilkan keindahan yang bersumber pada kenikmatan tanpa pamrih dan tanpakemanfaatan praktis. Metode klasifikasi seni yang lebih praktis banyak dilaksanakan dalam abad ke-19 dan abad ke-20, karena kebutuhan seni juga terkait dengan manajemen museum, klasifikasi perpustakaan dan lain-lain. Selanjutnya juga ada klasifikasi seperti seni visualyang menyangkut penglihatan dan seni auditifyang berurusan dengan alat pendengaran manusia.

Seni rupa menjadi dua bagian besar yaitu (1) seni rupa dua dimensi seperti gambar, lukisan, seni grafis, fotografi, mosaik, intarsia,tenun, sulam, dan kolase, dan (2) seni rupatiga dimensi seperti patung, bangunan, keramik, monumen dan lain-lain. Seni suara berdasarkan atas medium atau instrumen yang dipergunakan seni suara dibagi menjadi (1) vokalia (solo, koor, dengan atau tanpa iringan instrumen), (2) instrumentalia (solo, piano, biola, klarinet, gamelan, rebab, drum, dan lain-lain). Seni pertunjukan atau seni rupa-rungu selalu identik dengan seni pertunjukan yang berkaitan dengan rupa dan suara, misalnya pertunjukan tari, teater, pantomim, opera, sendratari, seni pewayangan, film, televisi dan video. Seni sastra sangat besar jasanya dalam mengkomunikasikan ide dan gagasan manusia, baik sastra lisan sebelum adanya aksara maupun sastra tulis. Menurut bentuknya, seni sastra dibagi menjadi: (1) prosa, (2) puisi, dan (3) prosa lirik. Prosa lebih kental dengan bahasa sehari-hari, tidak bersajak, mantra atau irama. Sementara puisi dibagi dalam beberapa kategori yaitu pantun, syair, gurindam, distikhon, kuatrin, sekstet, stanza, soneta, dan sajak bebas. Semantara prosa-lirik merupakan penggabungan antara prosa dan puisi. Menurut fungsi dan modus komposisinya seni sastra dibagi atas (a) sastra narasi (narasi epik, balada, novel, novelet, cerita pendek, (b) sastra dramatik (tragedi, komedi, campuran), dan (c) sastra lirik yang bisa dibaca tersendiri atau dikawinkan dengan musik atau nyanyian (lirik lagu, syair pujian, parikan pedesaan).


KEGUNAAN SENI


Seni Murni dan Seni Terap

Karya seni hadir disebabkan berbagai motivasi yaitu karena keinginan manusia akan hal-hal yang indah, karena kehendak manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya, dan juga karena desakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seni murni atau fine art adalah seni yang lahir murni karena dorongan estetik, mengkomunikasikan dan mengekspresikan keindahan tanpa ada pretensi apa-apa. Sementara, seni terap (seni terapan) atau applied art adalah jenis seni yang kehadirannya justru karena akan dimanfaatkan oleh kepentingan lain selain ekspresi estetik, juga berkaitan dengan politik, agama, dan kebutuhan praktis sehari-hari.
Pada awalnya semuajenis seni itu selalu menyandang tugas untuk melayani masyarakat dalamkehidupannya sehari-hari, dari patung perwujudan nenek moyang sampai keris atau topeng ‘hudoq’ dari Kalimantan Timur. Semuanya itu adalah seni terapan. Karena munculnya pengaruh pengaruh barat, maka terjadi pergeseran fungsi dengan hadirnya museum-museum dan galeri seni dan akademi-akademi seni. Sehingga hadir produk-produk seni dengan buatan mesin, dengan stilisasi ornamen yang memberikan kesan estetik pada seni buatan mesin tersebut. Charles Batteaux (1713-80) dalam bukunya yang influensial yaitu Les Beaux arts reduits a un meme principe (1746) membagi seni menjadi seni guna, seni indah (lukisan, patung, musik dan puisi), dan seni-seni yang menggabungkan keindahan dan kegunaan, yaitu arsitektur dan seni berpidato.


Seni Kriya

Seni terap yang paling dominan adalah seni kriya yang merupakan salah satu contoh seni yang paling tua. Bentuk ini merupakan bentuk yang pada awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia,tidak ada embel-embel kalau itu adalah ‘seni’ maupun ‘kriya’. Namun pada perkembangannya ada istilah seni dan kriya di dalamnya.
Kriya atau seni kriya (craft atau handicraft) adalah: (1) sesuatu yang dibuat dengan tangan, dengan kekriyaan yang tinggi, (2) umumnya dibuat dengan sangat dekoratif atau secara visual sangat indah, dan (3) merupakan barang yang serba guna.


Seni Industri

Di Indonesia, istilah seni industri tidak begitu akrab didengar. Karena istilah ini lahir pada revolusi industridi Inggris. Bentuk seni industri ini dimulai dari tutup botol sampai dengan pesawat terbang. Pada fase ini hampir banyak produk-produk seni yang dibuat secara indutri mesin. Memang terjadi pro dan kontra dari pemberlakuan produk seni ini. Terutama pada sebuah pameran Great Exhibition 1851 di Inggris di mana sebagian orang menyatakan bahwa seni dan industri merupakan paduan yang tidak cocok, karena terjadi kekejaman cita-rasa dan langkah-langkah bodoh dari seni terapan (applied art).



PENCIPTAAN SENI


Motivasi Penciptaan Seni

Motivasi seorang seniman dalam melahirkan sebuah karya seni dalam berbagai hal dapat berbentuk motivasi untuk menjunjung tinggi nilai-nilai keindahan, motivasi untuk berekpresi dan berkomunikasi dengan yang lain melalui media seni, motivasi spiritual, dan lain-lain.


Masalah-masalah dalam Penciptaan

Masalah dalam penciptaan seni yaitu masalah-masalah teoritis dan teknis, hubungan bentuk dan isi dalam seni, hubungan antara bentuk yang dicapai dengan bahan dan teknik pembuatannya, atau hubungan antara seni dan teknologi pada umumnya,teori mengenai bentuk-bentukyang berkaitan dengan komposisi, proporsi, balans dan lain-lain.

Dalam seni rupa terdapat elemen-elemen visual seperti garis, bidang, bentuk, warna, gelap-terang, tekstur merupakan kata-kata dalam bahasa visual seniman dan bersama dengan penyusunan atau pengorganisasiannya yaitu kesatuan (unity), keseimbangan (balance), dan irama (rhythm) jadilah bahasa ekspresi seniman untuk menyatakan isi hatinya.

Seni terdiri dari bentuk dan isi. Bentuk adalah yang bersifat inderawi yang kasatmata dan kasatrungu, sedang isi adalah apa yang ada dibalik kasatmata dan kasatrungu itu. Seni yang besar terletak pada gaung jiwa yang besar.


Seni dan Teknologi

Keterkaitan dengan seni dan teknologi. Memang ini menjadi persoalan yang mendasar menurut Soedarso SP. Karena dengan adanya institusi seni dimulai dari Padangpanjang sampai Denpasar belum dirasakan pembinaan seni dan teknologi baik secara teoritik, afektif dan psikomotorik. Dari dulu,antara seni dan teknologi saling berhubungan dan saling membutuhkan, paling tidak dipandang dari sisi manusia pemakainya.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selalumemerlukan sentuhan seni, seperti contoh perkembangan bentuk mobil sebagai manifestasi dari prestasi ilmu pengetahuan dan teknologi, dari awal ditemukannya sampai saat sekarang ini. Seni merupakan penghayatan manusia secara subjektif atas apa yang ada di luar dan didalam dirinya dengan segenap mata hatinya dan mengekspresikan hasilnya dalam bentuk yang setetikdan menggetarkan, sementara ilmu pengetahuan merupakan pemahaman atas objek-objeknya baik secara rasionalmaupun empiris dan menghasilkan sebuah pengamatan serta analisis yang objektif.


Segi Enam Victor Papanek

Victor Papanek mengatakan bahwa pada dasarnya semua orang adalah desainer. Karena desain merupakan dasar dari pekerjaan manusia. Menciptakan puisi adalah desain, melukis, menyusun lagu dan lain-lain. Konklusi Viktor adalah bahwa “Design is the conscious effort to imposse meaningful order.”

Berkaitan dengan segi enam berkaitan dengan slogan Louis Sullivan tentang “Form Follows Function” berarti bentuk mengikuti fungsi dengan rinciannya yaitu: (1) Methode, adalah interaksi antara alat,proses dan bahan; (2) Use (kegunaan), adalah ketepatan bentuk yang ingin dicapai dengan penggunaan-nya; (3) Need (kebutuhan), berkaitan dengan seni yang menjadi kebutuhan umat manusia. Baik kebutuhan secara ekonomis, psikologis, spiritual, teknologis dan intelektual; (4) Telelis, adalah penggunaan proses-proses di alamdan masyarakat secara sadar dan bertujuan demi memperoleh sasaran tertentu; (5) Association, merupakan tanggapan inderawi terhadap hal-hal yang selalu terekam dibenak manusia, bisa dalam dua bentuk asosiasi yaitu buruk dan jelek; dan (6) Aesthetics, estetika atau keindahan merupakan bagian yang paling menderita dengan “formfollows function”-nya Louis Sullivan.




MANAJEMEN SENI

Manajemen Seni Pertunjukan

Pada dasarnya manajemen adalah proses pengunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran tertentu. Di dalamnya menyangkut perencanaan, pengorganisiran, pengarahan dan kontrolatau pengendalian atas sumber daya manusia.
Seperti contoh karya tari, pada awalnya merupakan sebuah gagasan personal, maka untuk lebih mudah membahasnya maka dibutuhkan manajemen seni dalamtiga tahapan yaitu: (1) tahap awal yang bersifat pribadi atau individual; (2) tahap kolaboratif, dan (3) tahap produksi yang dua-duanya merupakan proses kerja sama.

Manajemen Seni Rupa

Berkaitan dengan manajemen seni rupa, merupakan hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana merancang proses pameran dari awal sampai akhir secara maksimal mungkin. Misalnya pameran tunggal atau pameran bersama, biasanya langsung dilakukan oleh seniman itu sendiri dengan mempersiapkan lukisan-lukisan yang akan dipamerkan,catalog, undangan, persiapan acara pembukaan dan lain-lain. Dengan adanya pemahaman tentang sebuah kerja manajemen, maka sangat dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang akan memenej hal tersebut, seperti event organizer dan lain-lain.

Peranan Perguruan Tinggi Seni, yang memiliki Fakultas atau Jurusan Seni Rupa untukdapat memperhatikan hal tersebut, sebagai langkah dalam meningkatkan pemahaman pentingnya sebuah manajemen dalam sebuah pameran seni rupa, disamping itu juga dibutuhkan manajemen yang berkaitan dalam urusan mengurusi artefak-artefak seni rupa baik dalam hal penyimpanan maupun penjualan produk-produk seni rupa tersebut.



APRESIASI DAN KRITIK SENI


Pengamatan Seni

Dalam menciptakan karya, seorang seniman berusaha untuk menghasilkan sebuah entitas yang unik, kaya, dalam arti mampu memberikan rangsangan-rangsangan kepada penontonnya untuk menimbulkan banyak kemungkinan imajinasi, dan tentunya semua tersaji secara indah dan menarik.

Dalam melakukan pengamatan seni, khususnya seni rupa, Feldman membedakan antara “visual form” dengan “aesthetic structure”. Bagian pertama bertujuan untuk mengamati benda seninya, suatu eksistensi yang dapat dilihat sedangkan kedua adalah hasilpengamatan kita terhadap benda seni tersebut sebagaimana yang terlihat oleh mata. Cir-ciri dari pengamatan tersebut dapat dilihat dari: (1) latar belakang pengalaman yang berbeda-yang mempengaruhi hasilpengamatan tersebut; (2) karena minat atau mood (tergantung seperti apasituasi perasaan seorang pengamat dalam melihat sebuah karya seni).

Pengamatan karya seni dapat dilihat dari beberapabagian yaitu: (1) Elemen-elemen visual, adalah elemen visual yang telah ditata oleh seniman seperti garis, bidang, bentuk, bukan tanah liat, cat, dan lain-lain; (2) Desain adalah organisasi dalamelemen-elemen visual demi tercapainya kesatuan, imbangan, atau ritme; (3) Objek seni, adalah hasil fisik yang akan dibuat seniman melalui media cat, tanah liat dan perunggu; (4) Visual form, adalah hasil yang bisa diamati dari sebuah eksekusi artistik; (5) Persepsi adalah tindakan melihat dari seseorang pengamat dalam rangka untuk memahami visual form; (6) Pengalaman estetik; dan (7) Aesthetic structure.


Emphaty

Emphaty merupakan terjemahan bahasa Inggris dari kata Jerman, Einfuhlung, yang artinya “feeling into”, merasa seolah-olah diri kita berada di dalam karya seni yang sedang kita amati. Istilah ini dipakai dalam usaha untuk (a) menggambarkan apa yang terasa dalam diri pengamat seni ketika ia sedang mengamati karya seni (b) menjelaskan asal-mula perasaan si pengamat tentang visual form. Hal ini diungkapkan oleh Theodor Lipps (1851-1941) sebagai salah seorang tokoh yang mempersoalkan pertama kali tentang emphaty, disebut dengan kehilangan jarak psikhis (Psychic distance).


Seni dan Apresiasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perkataan ‘apresiasi’ diberi arti (1) kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya kita, dan (2) penilain (penghargaan) terhadap sesuatu. Jadi secara umum ‘apresiasi’ adalah kesadaran terhadap nilai-nilai seni (dan budaya) sehingga dapat mengadakan penilaianatau penghargaan terhadapnya.

Mengapresiasi memiliki pengertian yaitu mengerti serta menyadari sepenuhnya sehingga mampu menilai semestinya. Mengadakan apresiasi sama dengan “sharing the artist’s experience”, ikut serta merasakan apa yang dialami oleh si seniman dalam waktu mencipta. Apresiasi juga memiliki nilai terhadap seluruh aspek-aspek kesenian (karya seni) secara dalam,tidakhanya kulit luarnya saja.


Teori Kritik Seni

Feldman mengatakan bahwa kritik seni adalah understanding, artinya, apresiasi adalah hakekat kritik seni karena mengadakan apresiasi sama dengan to understand fully in the right way. Yang paling penting dalam kritik seni adalah bahwa kita ingin tahu bagaimana informasi tersebut dihubungkan dengan kebolehan karya seni yang kita hadapi. Menanggapi bahwa karya seni itu sangat kompleks baikdari segibentukmaupun isi, Stolnitz mengatakan bahwa sebagai the “interpretive” function of criticism di dalamnya kita membutuhkan interpretative criticism.

Tujuan dari kritik seni adalah perolehan kesenangan atau kenikmatan, yang sama artinya dengan tujuan pertama yaitu understanding, dari mengetahui di bagian mana darikarya seni yang menimbulkan rangsangan pada perasaan dan pada kesadaran total dari kesepahaman kita.
Modal dasar yang harus dimiliki seorang kritikus dalam menjalankan tugasnya adalah: (1) pengetahuan yang luas tentang seni, seperti sejarah dan teori seni, gaya dan aliran seni; (2) memiliki citarasa yang luas,umum dan objektif; (3) kritikus seni juga perlu mengenali para seniman yang akan dibahasnya, sehingga dapat menghubungkan antara pribadi dengan karyanya; (4) pada umumnya,seniman sangat menghargai kritik yang tegas, kuat dan berdasar atas analisis yang mendalam, serta memberikan pengarahan yang jelas; (5) ada baiknya seorang kritikus adalah seorang seniman pencipta,walaupun tidak menonjol, karena pengalamannya dalam mencipta akan berguna dalam ia menganalisis karya-karya yang dibahasnya dan jelas nampak dalam kritiknya.

Jenis kritik seni, para ahli membagi jenis-jenis kritik seni menjadi beberapa bagian. Feldman membagi jenis-jenis kritik seni menjadiempat bagian, yaitu: (1) kritik jurnalistikyang banyak berfungsi untuk kebutuhan berita surat kabar (media massa) sehingga ruang analisis yang terdapat dalam kritik tersebut kurang medalam; (2) kritik pedagogik, yang ditujukan kepada mahasiswa dalam pendidikan dengan tujuan untuk pengembangan kemampuan artistik dan estetiknya. Kritikini lebik bersifat sugestif dan tidak selalu objektif; (3) kritik ilmiah, atau akademik. Yaitu kritik yang benar-benar objektif,kritis dan analitis dengan fungsi untuk mengadakan penilaian yang semestinya; dan (4) kritik popular yaitu kritik yang objektif, namun diterangkannya secara popular agar mudah dimengertioleh khalayak umum.

John Hosper membagi kritik menjadidua yaitu; (1) isolationism, yaitu membahas karya seni secara lepas dari hubungannya dengan macam-macam hal di luarnya, dan (2) contextualism, sebuah kritik yang mengkaitkan yang dalam dengan apa-apa yang ada disekitarnya.
Stephen C. Pepper menggolongkan menjadi empat yaitu: (1) Formistic Criticism, (2) Mechanistic Criticism, (3) Contextualistic Criticism, dan (4) Organistic Criticism.



PROBLEMATIK DALAM KESENIAN INDONESIA

Seni Tradisi Indonesia

Pengertian seni dalam bahasa Indonesia sebagaimana artinya sekarang ini memang relatif masih baru. Dalam bahasa Inggris disebut dengan “art” yang berarti kecil, halus atau lembut. Dalam bahasa Jawa disebut ‘ngrawit’. Seni tradisi Indonesia memiliki sifat ‘ngrawit’ yang juga berarti indah, halus dan lembut. Seni batik selain terdapat di Jawa, juga terdapat di Bali dan Sumatra.

Seni tradisi tidak mengenal ‘novelty’ atau kebaruan dan kreativitas yang menyertainya. Seni tradisi tidak menonjolkan kebaruan ataupun kreativitas, melainkan mengedepankan kedalaman isi serta perfeksi teknis penggarapannya menuju kesempurnaan ujud yang berujung pada bentuk yang indah dan ngrawit. Kedalaman isierat dengan “rasa”.


Seni sebagai Pendidikan

Apabila kesenian tradisional seperti pewayangan sudah terjadi pergeseran dari ‘tuntunan’ kepada nilai ‘tontonan’. Bisa dilihat bahwa kesenian Indonesia masa lalu sangat erat dengan muatan tontonan juga memberikan kontribusi pendidikan yang efektif kepada masyarakat. Cerita Wayang versi lama selalu memberikan gambaran yang hitam putih tentang dunia, sisi baik dan sisi buruk, sisi yang baik akan selalu di menangkan dan sisi yang gelapakan selalu dikalahkan untuk tujuan pensucian diri dan nilai pendidikan kepada masyarakat penonton sebagai penikmat. Begitu juga cerita lainnya di berbagai daerah Indonesia, seperti Randai, Makyong, Mendu, Mamanda, PM Toh, Ketoprak,Wayang Orang dan lain-lain.


Masalah Keindahan dalam Seni Indonesia

Keindahan karya seni di Indonesia tidak berangkat dari pemuasan sensualitas dari apa yang diterima oleh pancaindera, tetapi lebih pada pengalaman bathin sesorang atau rasa. Menurut bahasa Zoetmulder disebutkan bahwa pengalaman ekstatis, yaitu rangkuman pengalaman estetis dengan mistis atau religious. Banyak bentuk karya seni Indonesia dari masa lalu yang dibuat atas dasar kegunaan dan juga nilai estetik yang dilekatkan kepada benda tersebut misalnya piring, sendok, bejana, kendi,yang diukir dengan halus, rapih dan indah. Keris juga termasuk produk Indonesia yang cukup kaya dengan muatan estetik dari sisi bentuk, misalnya dengan bentuk ukiran yang terdapat pada sarung (warangka) keris.


Pertumbuhan Seni Indonesia Modern

Berkembangnya seni modern di Indonesia juga tidak lepas dari pengaruh revolusi yang terjadi di Eropa yang disebut dengan zaman renesans (zaman pencerahan), berkembangnya ilmu pengetahuan dan pola pikir manusia menyebabkan tumbuhnya humanisme yaitu mencuatnya harga individu yang di dalam seni tumbuhnya ekspresi yang sifatnya pribadi. Dan sampai juga di Indonesia pada masa jajahan Belanda melalui label VOC.

Perkenalan pertama orang-orang Indonesia terhadap gaya seni Barat adalah melalui hadiah VOC kepada pejabat-pejabat Jawa yang dianggap berjasa berujud lukisan, juga didatangkan juru gambar dari Belanda dan sekitarnya ke Indonesia untuk membuat ilustrasi untuk kebutuhan laporan tahunan mereka di Indonesia. Karena mendatangkan juru gambar sangat mahal, maka diputuskan untuk mendidik tenaga-tenaga lokal, maka muncullah Raden Saleh, melalui A.A.J. Payen seorang pelukis asal Belgia mengusulkan agar Raden Saleh belajar lukis di Belanda. Maka Raden Saleh adalah seniman Indonesia pertama yang serius mendalami seni lukis Barat di Eropa (1829-1851). Selanjutnya muncul generasi paska Raden Saleh yang tergabung dalam ‘Mooi Indie’ yaitu Abdullah Suriosubroto (1878-1941), Wakidi (1889-1980), dan Mas Pirngadi (1865-1936).

Disamping ‘Mooi Indi’, juga muncul PERSAGI yaitu Persatuan Ahli Gambar Indonesia melalui Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane, selanjutnya pertumbuhan seni Indonesia pada masa penjajahan Jepang, masa Orde Lama, dan Orde Baru memberikan satu bentuk periodesasi yang cukup signifikan dalam seni rupa Indonesia.


Situasi dalam Seni Pertunjukan

Perkembangan seni rupa di Indonesia, sudah sejak lamaberpengaruh denga dunia Barat, yaitu semenjak Raden Saleh (1807-1880) diutus ke Belanda, dan lahirnya Persagi pada tahun 1937. Namun, dalamseni pertunjukan tidakbegitu terasa pengaruh Barat di dalamnya, sehingga kesenian-kesenian pertunjukan di Indonesia seperti tari, musik karawitan, teater rakyat masih terlihat secara orisinil tanpa satu-pun sentuhan Barat di dalamnya. Sementara seni rupa, sangat cepat untuk mendapatkan pengaruh seni dari Eropa dan Amerika karena akses transportasi karena tidak perlu membutuhkan banyak orang.

Pengaruh Barat, terasa masuk dengan hadirnya beberapa jenis alat musik Barat di Keraton Yogyakarta pada masa Hamengku Buwono V (1822-1855) seperti Biola, Saxopon, trompet, seruling dan lain-lain. Dalam seni tari juga terasa dengan adanya minuman keras dalam tarian Srimpi (Sangopati). Pada tahun 50-an, Bagong Kussudiardja dan Wisnu Whardana belajar tari di Amerika Serikat di bawah asuhan Martha Graham juga terasa unsur Barat juga mempengaruhi kesenian tradisional setelah itu.

Di bidang musik diatonik, masuknya pengaruh Barat terutama melalui jalur-jalur musik rakyat (kroncong), musik gereja, dan musik-musik seriosa. Sampai pada perkembangan teknologi informasi seperti Televisi, kehadiran seni memang sudah jauh bergeser yang lebih mengedepan nilai tontonan belaka, tanpa memuat nilai tuntunan di dalamya, karena faktor yang paling mendasar adalah industrialisasi yang bersifat komersil dengan konsep yang hanya mengedepankan untung dan laba. Peran lembaga pendidikan sangat penting untuk memberikan filter terhadap kecenderungan kesenian sudah bergeser pada nilai-nilai yang konsumtif, hedonistik, sehingga melupakan akar kebudayaan nasional yang harus dijaga.


SELESAI


Kamis, Februari 25, 2010

CURRICULUM VITAE (CV)

1. Data Pribadi

Nama : Afrizal Harun
Tempat/ Tggl. Lahir : Tanjung Medan/4 April 1980
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan terakhir : SI Jurusan Teater ISI Padangpanjang
Alamat Domisili : Jln. Bahder Johan RT III Blk. Kantor Lurah, Depan
CV. Seruni Mekar Bukit Surungan Padangpanjang, 27115
Sumatera Barat
e-mail : afrizalharun@yahoo.com-afrizalharun@gmail.com
HP : 081266152700

2. Pendidikan Formal

Tahun 1998-2004, STSI Padangpanjang, Jurusan Teater,kompetensi Penyutradaraan
Tahun 1995-1998, SMU Plus INS Kayutanam-Sumatera Barat
Tahun 1992-1995, MTsN Punggasan, Pesisir Selatan-Sumatera Barat
Tahun 1986-1992, SDN 25 Tanjung Medan, Pesisir Selatan- Sumatera Barat


3. Pengalaman Organisasi

Tahun 2006-2008, Pembimbing HMJ Teater STSI Padangpanjang
Tahun 2007-2009, Ketua Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang
Tahun 2001-2002, Ketua UKM Pers STSI Padangpanjang
Tahun 2000-2001, Ketua HMJ Teater STSI Padangpanjang

4. Data Pengalaman sebagai Sutradara Teater

Tahun 2008, Sutradara dalam garapan ‘Dunia Dalam Mesin Jahit ’ Pentas dalam even
JakArt di Jakarta (TIM, Sigma Pondok Gede, Rusun BCI Cingkareng).

Tahun 2008, Sutradara dalam garapan ‘Lawan Catur’ Karya Sir Kenneth W. Goodman,
Pentas di Gedung Hoerijah Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2008, Karya dan Sutradara dalam garapan Zona X, pentas dalam kegiatan Pekan
Apresiasi Teater (PAT) di STSI Padangpanjang dan Taman Budaya Sumatera Barat.

Tahun 2007, Sutradara dalam garapan “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy.
Pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang.

Tahun 2007, sutradaradalam garapan “Api Revolusi PDRI” karya Afrizal Harun,
pentas di Gedung Tri Arga Bukittinggi-Sumatera Barat.

Tahun 2006, Sutaradara dalam garapan “ Dunia dalam Mesin Jahit” karya Afrizal
Harun Pentas di Pusat Bahasa Jakarta.

Tahun 2005, menjadi sutradara dan aktor dalam naskah Monolog, dengan judul ‘Racun
Tikus’ pentas di Taman Budaya Sumatera Barat

Tahun 2004, Sutradara dalam garapan “ Kotakku Rumahku” karya Paul Maar,Pentas di
Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2004, Sutradara dalam garapan “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy.
Pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2003, Sutradara dalam garapan “Macbett” karya Eugene Ionesco. Pentas di
Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2002, Sutradara dalam garapan “Wek-Wek” karya D. Djaya Kusuma. Pentas di
Taman Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2002, Sutradara dalam garapan “Euforia Malin” karya/sutadara Afrizal Harun,
pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2000, Sutradara dalam garapan “Pernikahan Perak” karya Jhon Bown,sutadara
Afrizal Harun di Gedung Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

5. Data Pengalaman sebagai Aktor Teater

Tahun 2007, Aktor dalam garapan “Where the Cross is Made” karya Eugene O’Neil,
Sutradara Ipong Niaga, pentas di Taman Budaya Sumatera Barat

Tahun 2007, Aktor dalam garapan “Kawin Paksa” karya/sutradara Novina Yeni Fatrina,
pentas di Taman Budaya Sumatera Barat

Tahun 2005, Aktor dalam garapan “ Hamlet Machine” karya Heiner Muller, sutradara
Pandu Birowo, pentas di komunitas seni INTRO Payakumbuh-Sumatera Barat

Tahun 2005, Aktor dalam garapan “ Anggun Nan Tongga” karya Wisran Hadi, sutradara
Dede Prama Yoza, pentas di komunitas seni INTRO Payakumbuh-Sumatera Barat

Tahun 2004, Aktor dalam garapan “Ayam Goreng Inyiak” karya/Sutaradara Adi
Krishna,Pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2004, Aktor dalam garapan “Pinangan” karya Anton P. Chekov, Sutaradara Cut
Rosa, Pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2003, Aktor dalam garapan “Insan-insan Malang” karya B. Soelarto/sutaradara
Fauziah Azizah. Pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2003, Aktor dalam garapan “Orang-orang Kasar” karya Anton P.
Chekov/sutaradara Cut Roza. Pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI
Padangpanjang

Tahun 2003, Aktor dalam garapan “Domba-domba Revolusi” karya B.
Soelarto/sutaradara Idrusmin. Pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI
Padangpanjang

Tahun 2002, Aktor dalam garapan “Nyanyian Angsa” karya Anton P. Chekov, Sutradara
Pandu Birowo, pentas di Taman Budaya Sumatera Barat

Tahun 2002, Aktor dalam garapan “Pintu” karya/sutradara Yusril pentas di Taman
Budaya Sumatera Barat

Tahun 2000, Aktor dalam garapan “Antogone” karya Shopocles, Sutradara Enrico
Alamo,pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2000, Aktor dalam garapan “Komplikasi” karya/sutaradara Yusril pentas di
Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2000, Aktor dalam garapan “Welcome to Millenium” karya/sutaradara Yusril
pentas di Auditorium Boestanul Arifin Adam STSI Padangpanjang

Tahun 1998, Aktor dalam garapan “Menunggu” karya/sutaradara Yusril, pentas di
TeaterUtan Kayu Jakarta dan Jurusan Teater IKJ

Tahun 1999, Aktor dalam garapan “Plasenta” karya/sutaradara Yusril, pentas di
Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam STSI Padangpanjang

Tahun 1998, Aktor dalam garapan “Menunggu” karya/sutaradara Yusril, pentas di
Taman Budaya Jambi

Tahun 1997, Aktor dalam garapan “Menunggu” karya/sutaradara Yusril, pentas di INS
Kayutanam-Sumatera Barat dalam event pertemuan Sasterawan Nusantara ke IX.


6. Pengalaman Kerja dalam Kegiatan Produksi Kesenian

Tahun 2009, Pimpinan Produksi dalam program kerjasama pertunjukan Teater antara
Taman Budaya Sumatera Barat dan Jurusan Teater STSI Padangpanjang

Tahun 2008, menjadi Pengamat dalam pentas teater ‘Tambologi’ karya/sutradara
Wendi H.S, Pentas di Taman Budaya Sumatera Barat dan Taman Budaya Lampung

Tahun 2008, Stage Manager dalam Pentas “Ophelia dalam Lentera” karya /sutradara
Cut Rosa, dalam program kerja sama pentas teater Jurusan Teater STSI
Padangpanjang dan Taman Budaya Jambi

Tahun 2008, Stage Manager dalam Pentas “Tak Ada Sabtu Sampai Minggu Yang Ada Hanya
Siang Dan Malam” karya Rozakky, sutradara Yusril dalam event Temu Sasterawan
Sumatera di Batam

Tahun 2008, Penanggung Jawab Kegiatan Road Show Eagle Award dan ScreenDoc!
Traveling,di UNP, UPI, dan Universitas Bung Hatta Sumatera Barat

Tahun 2007, Stage Manager dalam Pentas “Tangga” karya/sutradara Yusril dalam
event FKI V di ISI Denpasar

Tahun 2007, Stage Manager dalam Pentas “Tangga” karya/sutradara dalam Pertunjukan
Hibah Kelola di Taman Budaya Sumatera Barat

Tahun 2007, Penata Artistik dalam garapan “Dabuih Pitoenang” karya/komposer
Jumaidi Syafe’I di Painan Pesisir Selatan-Sumatera Barat

Tahun 2007, Stage Manager dalam pentas “Salakiku Rang Sumandi Den” karya/komposer
Asep Saepul Haris. pentas di Gedung Hoerijah Adam STSI Padangpanjang

Tahun 2007, Anggota Tim Perumus pembukaan Jurusan Film di STSI Padangpanjang

Tahun 2006, Penata Artistik dalam garapan tari “Tungku Tigo Sajarangan”
koreografer Martion pentas di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat

Tahun 2006, Asisten Sutradara pembuatan film “Bulan di Langit Jam Gadang”
sutradara Yusril. Produksi Dinas Pariwisata Bukittinggi.

Tahun 2005, penata Artistik dalam garapan Tari “Cendra Mata” Koreografer Syaiful
Erman di STSI Padangpanjang

Tahun 2005, Penata Lampu dalam garapan tari “Batu” karya Ali Sukri di TUK Jakarta

Tahun 2005, Kru Artistik dalam karya “Barzanji” karya/komposer Elizar Koto di
Batipuh Tanah Datar-Sumatera Barat

Tahun 2004, Penata Artistik dalam garapan tari “Mamakan” koreografer Martion
pentas di STSI Padangpanjang

Tahun 2004, Pimpinan Produksi dalam pembuatan film tari “Let me die first”
produksi Kelompok Studi Sinema STSI Padangpanjang.

Tahun 2004, Asisten Sutradara dalam pembuatan film “X File” sutradara Yusril

Tahun 2003, Koordinator Stage Crew dalam event Kongres Budaya Nasional di STSI
Padangpanjang


7. Pengalaman dalam Kepanitiaan Acara

Tahun 2009, menjadi Koordinator Pameran Pekan Apresiasi Teater (PAT) 4
yang diselenggarakan oleh Jurusan Teater STSI Padangpanjang

Tahun 2008, Pembimbing dalam kegiatan Pekan Apresiasi Teater (PAT) Jurusan Teater
STSI padangpanjang. 20 s/d 27 Januari 2008

Tahun 2007, Pelaksana teknis dalam event “Seminar Film” dengan tema “ Film sebagai
pencitraan Daerah” program DIRJEN Perfilman Nasional di STSI Padangpanjang

Tahun 2006, Tim Audisi rekruitmen Artis untuk Sinetron produksi Dinas Pariwisata
Bukittinggi yang berjudul “Bulan di langit Jam Gadang”

Tahun 2004, Panitia Seksi Acara dalam event “Pemutaran Film Bermutu” kerjasama
komunitas seni Hitam-Putih dan Jiffest Jakarta

Tahun 2003, Wakil Ketua dalam event “Pekan Apresiasi Teater (PAT) I” di STSI
Padangpanjang Tahun 2002, Panitia Seksi Acara dalam pelaksanaan orientasi
Mahasiswa Baru STSI Padangpanjang

Tahun 2001, Panitia Seksi Acara dalam pelaksanaan orientasi Mahasiswa Baru STSI
Padangpanjang

Tahun 2000, Ketua Pelaksana dalam kegiatan KBSM di Desa Sarang Gagak-Sicincin 2xII
Enam Lingkung Kabupaten Padangpariaman-Sumatera Barat

Tahun 2000, Ketua Pelaksana dalam kegiatan Workshop teater tingkat SMU se-Sumatera
Barat. di STSI Padangpanjang

Tahun 1999, Wakil Ketua dalam kegiatan Festival Teater Remaja dan Perguruan Tinggi
se-Sumatera Barat, di STSI Padangpanjang

Tahun 1997, Panitia dalam event Pertemuan Sasterawan Nusantara IX-Pertemuan
Sasterawan Indonesia di INS Kayutanam

8. Kegiatan Seminar, Diskusi dan Lokakarya yang pernah di ikuti

Tahun 2009, menjadi peserta Lokakarya ‘Capacity Building’ yang diselenggarakan
oleh Yayasan Kelola Jakarta

Tahun 2009, menjadi peserta Lokakarya ‘Stage Management’ yang diselenggarakan oleh
Yayasan Kelola Jakarta

Tahun 2009, menjadi peserta dalam Lokakarya “Pengelolaan Aset Barang Milik Negara
(BMN) di Ruang Sidang Rektorat STSI Padangpanjang

Tahun 2008, menjadi Notulen dan Peserta Seminar tentang pengelolaan Manajemen Seni
Pertunjukan di GP Hoerijah adam STSI Padangpanjang

Tahun 2008, menjadi Peserta Seminar “Seni Budaya Melayu” yang dilaksanakan di STSI
Padangpanjang

Tahun 2007, Peserta Seminar “Film Sebagai Pencitraan Daerah” di STSI Padangpanjang

Tahun 2006, menjadi peserta Lokakarya dalam Penyelenggaraan Metode Mengajar Dalam
Rangka Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di STSI Padangpanjang

Tahun 2005, Peserta diskusi dalam event “ Arifin C. Noor dalam ingatan Seni
Indonesia” mengenang 10 Tahun Arifin C. Noor di TIM Jakarta

Tahun 2005, Peserta diskusi dalam event Louncing buku “Kontroversi Imam Bonjol”
penulis Sahrul N di STSI Padangpanjang

Tahun 2004, Peserta diskusi dalam event Dies Nataleis STSI Padangpanjang

Tahun 2003, Peserta diskusi dalam diskusi “Teater Garasi Mencari Dialog" di
Gedung Teater STSI Padangpanjang

Tahun 2002, Peserta Seminar “Seni Pertunjukan Indonesia” Kerja sama MSPI dan Dewan
Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB)

Tahun 2000, Peserta Seminar Internasional “Seni Budaya Melayu” di STSI
Padangpanjang

Tahun 2000, Peserta Seminar “Otonomi Perguruan Tinggi” di STAIN Batu Sangkar



9. Prestasi

Tahun 2009, Pemenang II Drama SMA/MA/SMK Tingkat Nasional berjudul “Siti
Manggopoh” Dalam Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2009 di Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional-Jakarta

Tahun 2002, Juara II Festival Musik Jalanan di Lapangan Imam Bonjol Padang

Tahun 2000, Juara I Lomba Baca Puisi Se-Sumatera Barat di STSI Padangpanjang

Tahun 1999, Finalis Lomba Baca Puisi de Gedung Pertemuan Balai Bung Hatta
Bukittinggi-Sumatera Barat

Tahun 1999, Juara II Festival Musik Jalanan di Gedung M. Syafe’I Padangpanjang

Tahun 1999, Juara I Festival musik Jalanan di Bioskop ‘Karya’ Padangpanjang

Tahun 1998, Finalis Lomba Baca Puisi di Fakultas Sastera UNAND Padang

Tahun 1996, Lima Tearbaik dalam Festival Musik Jalanan di Taman Budaya Sumatera
Barat






Jumat, Februari 12, 2010

Seni Tanpa Kata Padangpanjang

Kecenderungan berteater-tanpa-kata tampak menonjol di dalam satu minggu hajatan seni kontemporer di Sumatra Barat. Tentu saja tanpa kata itu relatif, karena terkadang masih dibutuhkan sejumlah kata, namun pada dasarnya kebanyakan informasi mereka sampaikan lewat cara-cara lain: gestur, gerak-gerik, vokal, atau potongan musik maupun lagu yang asosiatif dengan pemahaman tertentu.

Sedikitnya ada enam kelompok teater setempat yang tampil di dalam "Pekan Seni III/2002" yang berlangsung 26-31 Oktober di Kampus STSI Padangpanjang tersebut. Penyelenggaranya Dewan Kesenian Sumatra Barat menyebutkan mereka inilah yang diketahui masih giat bekerja.

Sesudah tokoh-tokoh teater semacam Wisran Hadi tidak bergiat lagi, seperti apakah wajah teater masa kini dari kawasan ini? Tampaknya jawaban yang muncul kurang menggembirakan.

"Mereka kurang merenung," tutur Rusli Marzuki Saria, seorang penyair dan puluhan tahun mengikuti berbagai perkembangan seni daerah ini.

Tampak di panggung atau arena tontonan adalah bentuk-bentuk, gerak, properti, "akting", musik, yang umumnya hanya mengarah pada pengokohan aspek "cerita". Dengan kata lain, semua unsur itu tadi berfungsi sebagai ganti kata-kata, sebagai pengusung informasi, dan bukan, misalnya, pencapaian olah rupa tertentu. Sesungguhnya ada peluang bagi olah rupa, gerak, dan bunyi, untuk menghasilkan makna baru yang sama sekali tidak tergantikan oleh kata. Beberapa bagian pertunjukan Teater SAE dekade lalu umpamanya meraih pencapaian ini.

Meski demikian, sebagai tontonan ada saja yang menarik. Sebutlah itu umpamanya penampilan oleh Teater Noktah dari Padang dengan lakon Negeri yang Terkubur karya Syuhendri yang sekaligus menyutradarainya.

Syuhendri memasang seorang pemain perempuan (Irda Ningsih) yang baju tradisinya mewakili nilai-nilai lama. Ia menampilkan tiga pria (Zulkifli, Masrizal, dan Salman) untuk membuat sejumlah aksi. Dua di antaranya menjadi personifikasi generasi muda yang terpapar berat oleh kemajuan zaman. Seorang di antaranya, mengenakan pakaian tradisi, mengendalikan lewat tali yang terpasang di tangan mereka.

Itu digambarkan dengan kuda-kudaan dari pelepah pisang yang segera mereka buang ketika menemukan mainan mobil ber-remote-controle. Mereka tergiur oleh dunia informasi yang ditampilkan lewat papan ketik komputer. Berselancarlah keduanya di Internet. Untuk itu Syuhendri membuat mereka menggunakan kata-kata seperti "www...." yang ibarat mantra untuk ke dimensi baru penuh petualangan.

Pencapaian mereka jauh berbeda dengan Ruang Lilin oleh Teater Eksperimental FSUA yang disutradarai Prel T maupun Jam-jam oleh Komunitas Seni Plong garapan Dharminta. Kedua kelompok ini tampak gagap di dalam merancang tontonan mereka.

Pada sisi lain Sulastri Andras bersama kelompok SMKI Padang meminjam sebuah tontonan klasik untuk menyinggung perkara-perkara jender. Untuk itu ia memanfaatkan ungkapan-ungkapan ketegaran seorang perempuan masa lampau, Sabai, dalam Nasibmu Sabai.

Di panggung tampak sebuah pemandangan teater tari di dalam kemasan lama yang sangat diakrabi oleh warga masyarakatnya. Namun ia juga menyisipkan trio penari, dalam kostum berbeda secara menyolok, yang dengan gerak bisa menguatkan, menolak, atau mengomentari setiap adegan yang dianggap penting.

Dua pementasan lain menguatkan kesan akan kecenderungan untuk menghindari kata. Teater Akar dengan Eforia Malin garapan Afrizal Harun maupun Keluarga Mahasiswa Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang dengan Senja 200 Kepala rancangan Dede Pramayosa, melakukannya dengan cukup menarik. (efix). Kompas, Sabtu, 2 November 2002

19 Calon Stage Manager Berbakat Dari 10 Provinsi di Indonesia Telah Terpilih



13 Juli 2009


Sebanyak 19 calon-calon stage manager berbakat dari 10 provinsi di Indonesia telah terpilih dalam program kompetitif, Lokakarya Stage Management 2009 bersama dengan Fred Frumberg. Lokakarya ini akan diadakan di Teater Kecil Institut Seni Indonesia Surakarta, jalan Ir. Sutami 57 Solo, Selasa-Sabtu tanggal 21-25 Juli 2009.

Berikut adalah nama peserta yang lolos seleksi;

1. Marojahan Adrian – Medan, Sumatera Utara
2. Eric Wirjanata – DKI Jakarta
3. Taufik Walhidayat A.Md., Kom – Banyuwangi , Jawa Timur
4. Joko Sriyono – Karanganyar , Jawa Tengah
5. Daniel Caesar – Sleman , DIY
6. Putu Esha Dirtaiswara Kurniawan – Badung , Bali
7. Dedi Dwiyanto – Denpasar , Bali
8. Taruna Perkasa Putra – Jember , Jawa Timur
9. Wildan Kurnia – Garut, Jawa Barat
10. Raja Aria Octaviano – DKI Jakarta
11. Mohammad Fadhal – Lamongan, Jawa Timur
12. Tri Asih Puspitaningtyas – Bandung, Jawa Barat
13. Danny Muhammad Ramdan – Cianjur, Jawa Barat
14. Masvil Tomi – Kota Baru, Jambi
15. Dedi Novaldi-Padangpanjang, Sumatera Barat
16. Deri Efwanto-Bandar Lampung, Lampung
17. Rifqi Mansur Maya, Bantul, DIY
18. Afrizal Harun, Pandangpanjang, Sumatera Barat
19. Ardi Pardianto-Kudus, Jawa Tengah


Fred Frumberg sengaja didatangkan ke Indonesia untuk menjadi pemateri karena Ia sangat berpengalaman bekerja selama bertahun-tahun di gedung opera dan teater di seluruh Amerika Serikat dan Eropa. Pengalamannya di bidang stage management diperlengkap dengan tujuh tahun sebagai asisten stage manager dari Peter Sellars, sebagai head of production di Paris Opera, dan stage director untuk the Netherlands Opera, Amsterdam.

Sejak Juni 1997, Fred Frumberg membantu pelestarian kesenian tradisional Kamboja, dan 6 tahun kemudian ia mendirikan AMRITA Performing Arts. Organisasi nirlaba yang berbasis di Phnom Penh ini berkomitmen untuk memproduksi tari dan teater lokal yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas nasional dan kreativitas di semua bidang produksi dan manajemen seni.

Bagi peserta, selain akan memperoleh pengalaman dan bekal keahlian sehingga lebih siap menghadapi tantangan kerja sebagai seorang stage manager, semua biaya yaitu transportasi dan akomodasi peserta dari tempat asal hingga pulang kembali akan ditanggung oleh Kelola. Program ini didukung oleh Asian Cultural Council.

Pengumuman Seleksi Lokakarya Capacity Building Bersama Sam Miller



Tanggal 17 Oktober 2009



Sebanyak 16 seniman dan manajer seni berbakat lolos seleksi dan akan segera berkumpul di Jakarta untuk mengikuti Lokakarya Capacity Building for Artists and Managers 2009 bersama dengan Sam Miller. Lokakarya yang didukung oleh Asian Cultural Council ini akan diadakan di Hotel Grand Flora, Jakarta Selatan.

Bagi peserta, selain akan memperoleh pengalaman dan bekal keahlian sehingga lebih siap menghadapi tantangan kerja sebagai seorang seniman dan juga manajer seni, semua biaya yaitu transportasi dan akomodasi peserta dari tempat asal hingga pulang kembali akan ditanggung oleh Kelola.

Berikut adalah nama peserta yang lolos seleksi;

1. Nuri Aryati – Solo, Jawa Tengah
2. Mugiyono Kasido – Solo, Jawa Tengah
3. Anton Asmonodento – Yogyakarta, DIY
4. Muhammad Rudiyanto – Tegal, Jawa Tengah
5. Reni Kanila Sari – Bantul, DIY
6. Jamaluddin Latif – Bantul, DIY
7. Afrizal Harun – Padangpanjang, Sumatera Barat
8. Imas Sobariah – Bandar Lampung, Lampung
9. Iswadi Pratama – Bandar Lampung, Lampung
10. Fitri Setyaningsih – Bantul, DIY
11. Melati Anastasia – Bantul, DIY
12. Asri Mery Sidowati – Depok, Jawa Barat
13. Andara Firman Moeis – Jakarta
14. Dwi Windarti – Yogyakarta, DIY
15. Budhi Harto – Malang, Jawa Timur
16. Muhammad Rasyid Ridlo – Wonosobo, Jawa Tengah

Sam dan Kelola bekerja sama untuk merumuskan beberapa hal yang dianggap layak dibahas sesuai dengan perkembangan bidang kesenian khususnya di Indonesia. Di dalam pembahasan nanti akan dibawakan juga cara membangun jejaring sekaligus mengemas karya aspirasi kreatifnya dalam sebuah strategi entrepreneur untuk pasar.

“Saya ingin membuat workshop yang berusaha membantu para peserta mengembangkan kemampuan yang mereka butuhkan untuk melayani aspirasi kreatif mereka,” demikian petikan ucapan Samuel Miller yang pernah bekerja sebagai Direktur Jacob’s Pillow Festival, salah satu festival seni pertunjukan terkemuka di Amerika dan sekarang menjadi Presiden dari Leveraging Investments in Creativity (LINC) di New York.

Pemenang Sayembara Naskah Buku Pengayaan Tahun 2009




Sumber :
http://www.wijayalabs.com/tag/pemenang-sayembara-naskah-buku-pengayaan/


Bantuan Dana bagi Penulis Buku
Berita / 19 Juni, 2009 - 08:00 - Diunduh dari :
http://www.pusbuk.or.id/node/40

Guna mendorong penulis supaya lebih termotivasi untuk menulis buku, pemerintah memberikan bantuan dana. Pada 2009, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional (Pusbuk Depdiknas) menganggarkan bantuan kepada penulis buku sebanyak Rp.2 milyar untuk 500 judul buku. Upaya ini dilakukan untuk menyediakan buku yang bermutu dan sesuai standar nasional.

Sekretaris Jenderal Depdiknas Dodi Nandika mengatakan, bantuan insentif ini merupakan langkah konkrit pemerintah bagi para penulis buku yang memerlukan dana yang dapat digunakan untuk mengumpulkan bahan tulisan dan menulis awal. "Kita sediakan blockgrant subsidi kepada rekan-rekan penulis buku," katanya usai membuka pameran Hari Buku Se Dunia dan Hari Buku Nasional 2009 di Plaza Depdiknas, Jakarta, Jumat (19/06/2009).

Dodi menyampaikan, bantuan ini tidak hanya dikhususkan untuk menulis buku teks pelajaran, tetapi akan digunakan untuk buku pengayaan. Depdiknas, kata dia, juga membeli dan membantu penerbitan serta pengedaran majalah sastra Horison. "Negara besar seperti ini hanya punya satu majalah sastra yaitu majalah Horison, sedangkan negara kecil lain punya tiga sampai empat," katanya.

Dodi menyebutkan, saat ini perbandingan membaca mencapai 1/3 per siswa per tahun. Menurut dia, kendala yang dialami adalah masalah budaya, kesenangan, minat, dan kendala teknis seperti buku belum tersedia dengan mudah, harganya belum nurah, dan di perpustakaan belum tersedia dengan baik. "Daerah terpencil, perbatasan, dan di pulau terluar sulit membeli buku. Toko buku juga jarang di kota-kota kecil di Indonesia," katanya.

Terkait upaya untuk menurunkan harga buku, Pemerintah, kata Dodi, berusaha mulai dengan membuat Undang-Undang Perpustakaan, menyusun Undang-Undang Perbukuan, dan program membeli hak cipta buku. "Sebanyak 400 lebih buku sudah dibeli oleh pemerintah dengan harga cukup mahal miliaran rupiah totalnya. Kemudian, dibagikan hak ciptanya, boleh digandakan, disebarkan, dijualbelikan kepada masyarakat, sehingga teman-teman di daerah terpencil sekarang sudah bisa menggandakan dan mengkopi tanpa harus terkena oleh royalti atau hak cipta itu," katanya.
Kepala Pusat Perbukuan Depdiknas Sugijanto mengatakan, bantuan ini diberikan kepada para penulis buku yang pernah mengajukan penulisan ke Depdiknas, yaitu penulisan buku teks pelajaran yang tidak lulus seleksi. Selain itu, kata dia, bantuan diberikan bagi penulis buku sayembara. "Kita prioritaskan untuk daerah di luar Jawa. Kita berikan bantuan 70 persen untuk luar Jawa dan 30 persen untuk dalam Jawa," katanya.

Sugijanto mengatakan, bantuan dana berupa uang digunakan untuk memperbaiki bahan yang telah diajukan untuk meningkatkan penulisan yang akan datang. Untuk satu buku teks pelajaran, untuk setiap tulisan diberikan bantuan sebanyak Rp.4 juta. Dia mencontohkan, jika satu penulis mengajukan tiga judul akan mendapatkan bantuan sebanyak Rp.12 juta. "Satu penulis bisa dapat (bantuan) tiga tulisan itu," katanya.

Sumber: http://setjen.diknas.go.id/ dan situs : www.pusbuk.or.id

Di tahun 2009, Pusat Perbukuan memberikan hadiah diberikan untuk juara I : 20 juta, II : 19 juta dan III : 18 juta.


Daftar Nama Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan Tahun 2009
(Disusun berdasarkan nama penulis, judul, kab/propinsi, nama sekolah)

FIKSI
A. Prosa

1. Muji Hartono, S.Pd. Bagaskoro, Purworejo, Jawa Tengah Guru SD Negeri Rejowinangu
2. Wahyuningsih Rahayu, S.Pd. Indahnya Persahabatan Demak, Jawa Tengah Guru SDN Batursari 5
3. Rokhmatul Laily. Ketika Badai Mereda. Bontang, Kalimantan Timur Guru SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang
4. Sri Wahyuti, A.Ma.Pd.. Kumpulan Cerpen Nasehat Yang Baik Demak, Jawa Tengah Guru TK Larasati Desa Bandungrejo
5. H. Ruslan Lombok Barat, Mutiara Pulau Cemara Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat Guru SD Negeri 1 Banyumelek
6. Saepul Muhtadin, S.Pd Permadani Hijau Ciwidey, Jawa Barat Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Ciwidey
7. Iis Wiati, S.Pd Sekuntum Tulip Setangkai Sakura , Bogor, Jawa Barat Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 5 Bogor
8. Suherna, S.Pd Selo Mahluk Asing Sahabatku, Indramayu, Jawa Barat Guru SDN Margadadi VI
9. Dwi Budiyanto, S.Pd. Tegar Begawan. Sleman, Yogyakarta Dosen Jurusan PBSI FBS UNY

B. Puisi
1.Tri Astoto, S.Pd., M.Pd. Catatan Harian Seorang Guru. Pare-pare, Sulawesi Selatan Guru SMA Negeri 5 Pare-Pare 2
2.Drs. Sigit Sulistio Dialog Diam (Dua Kumpulan Puisi) Majalengka, Jawa Barat Pengawas Pendidikan Menengah – Disdikbudpora Kabupaten Majalengka 3
3.Drs. Tjahjono Widiyanto, M.Pd. Dzikir Matahari Kampung Halaman Ngawi, Jawa Timur Guru SMA Negeri 1 Ngawi 4
4.Elly Rosita Desi, Kado Kecil buat Anak Jalanan, Ponorogo, Jawa Timur Guru SD Negeri 1 Bondrang No. 446 5
5.Saryana, M.Pd Kunang-Kunang, Bantul, Yogyakarta Guru SDN Ngentak 6
6.Harwimuka, Nyanyian Alam Rindu Kehadiran, Blitar, Jawa Timur Guru SD Negeri Sumber Agung 02
7.Hidayat Raharja, S.Pd. Nyanyian Buat Negeriku. Sumenep, Jawa Timur Guru SMA Negeri 1 Sumenep
8.Hasta Indriyana, S.Pd Rumah Cahaya, Gunung Kidul, Yogyakarta Guru SMA 1 Wonosari
9.M. Yusuf Amin Nugroho, S.H.I Sebelum Kupu-Kupu, Wonosobo, Jawa Tengah Guru Agama Islam MTs. Negeri Wonosobo

C. Drama
1.Iswatun Hasanah, Dompet Merah Ima Sampai Rahasia si Pemalas Nganjuk, Jawa Timur Guru TK Pertiwi I Kalianyar
2.Suhardi, Kerajaan Vernisia Kuala Pulang Pisau, Kalimantan Tengah Guru SMK Muhammadiyah Bahaour
3.Diat Ahadiat, S.Pd, Pendekar Berkacu Cirebon, Jawa Barat Guru SD Negeri 1 Karangmalang
4.Mardiana Rahmawati, S.Sos Rahasia Telur Garuda, Bantul, Yogyakarta Guru MAN Gandekan Bantul 5
5.Drs. St. Sri Purnanto, Rumah Segala Wajah, Trenggalek, Jawa Timur Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Panggul
6.Ignatius Karyono, M.Sn, Sekutu Raksasa, Sleman, Yogyakarta Guru SMK 1 Kasihan
7.Purwatiningsih, S.Pd. Setetes Darah Seutas Nyawa, Purworejo, Jawa Tengah Guru Bahasa Indonesia SMA Bruderan Purworejo
8.Afrizal Harun, Siti Manggopoh, Padangpanjang, Sumatra Barat Dosen STSI Padangpanjang
9.Gatot Supriyanto, Uang Dalam Botol, Magelang, Jawa Tengah Guru SMPN 1 Grabag Magelang

NONFIKSI
A. Pengayaan Pengetahuan Alam
1.Gunawan, A.Ma.Pd. Ayo Mengenal Rumput Laut, Probolinggo, Jawa Timur Guru SD Negeri Sukokerto 1
2.Endang Sri Sulistyani, S.Pd. Bejana Berhubungan Makan dan Kesehatan Kita, Blitar, Jawa Timur Guru SD Negeri Tanjungsari 2
3.Yohana L.A. Suyati Kelapa Sawit dari Kemungkinan Pemanfaatannya sebagai Sumber Bioenergi, Sanggau, Kalimantan Barat Guru SMPN 4 Sanggau
4.R. Arifin Nugroho, Lalat Ternama, Spesies, Dampak dan Teknologi Pengendalian, Kulonprogo, Yogyakarta Guru SMA Kolese De Britto
5.Fahrurazi, S.Si dan Prayitno Abadi, S.Si. Matahari Mengamuk, Kendal, Jawa Tengah Guru SMA PGRI 01 Kendal
6.Mainarni, S.Pd. Pertahanan dalam Tubuh, Bontang, Kalimantan Timur Guru SMA Yayasan Pupuk Kaltim Bontang
7.Dra. Maria Suharsini, M.Si. Pigmen Kehidupan Salatiga, Jawa Tengah Guru SMAN 2 Salatiga
8.Pasuruan, Sri Asih. Si Manis Madu, Jawa Timur UPT SMP Negeri 9
9.Rahman Hakim, Tameng Biru, Sumedang, Jawa Barat Guru SMP Al-Ma’Some Sumedang


B. Pengayaan Pengetahuan Sosial
1.Wiranto, S.Pd. Bagaimana Cara Menjadi Wirausaha Remaja, Boyolali, Jawa Tengah Guru Seni Budaya SMAN 1 Wonosegoro
2.Zahiroh Fitria Agustiana, Batik Pekalongan, Warisan Budaya Bangsa, Pekalongan, Jawa Tengah Guru SDN 01 Wangandowo
3.Ibnu Asakir, S.Pd. Bencana Alam di Negeriku, Sleman, Yogyakarta Guru SD IT Salman Al farisi Klebengan
4.Muhammad Arifien Zuhri, S.Pd, Biar Kecil Sangat Berarti, Kulonprogo, Yogyakarta Guru SDN Giripurwo I
5.Hery Nugroho, S.Pdi. Jurus Jitu Menjadi Pelajar Sukses Di Era Global. Semarang, Jawa Tengah Guru SMPN 7 Semarang
6.Imron Rosidi, M.Pd. Mau Menjadi Remaja Idola? Baca Dong! Pasuruan, Jawa Timur Guru SMK Negeri 2 Pasuruan
7.Drs. Abdul Jamil, SH. Membela Keutuhan Negara Indonesia ,Tegal, Jawa Tengah Guru SMPN 1 Terbuka Adiwarna
8.Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd. Rupa Wayang, Pengenalan dan Apresiasi Seni Rupa Wayang Kulit Purwa Semarang, Jawa Tengah Dosen Fak. Bahasa dan Seni UNNES
9.Dra. Eko Sri Israhayu, M.Hum, Sastra Sebagai Pencerahan, Purwokerto, Jawa Tengah Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto


C. Pengayaan Keterampilan
1.Dewi Hernia Nengsih, A.Ma. Aneka Keterampilan dari Sampah Plastik, Kendari, Sulawesi Tenggara Guru SDN 13 Mandanga Kendari
2.Nur Leni, SP. Hijaukan Bumi dengan Limbah, Surakarta, Jawa Tengah Guru SD Al-Firdaus
3.Johan Wahyudi , Juara Pidato, Sragen, Jawa Tengah Guru SMP Negeri 2 Kalijambe
4.Drs. Eka Waluya, Ketrampilan Membuat Penanda Waktu Pergantian Jam Pelajaran di Sekolah Menggunakan Jam Dinding. Temanggung, Jawa Tengah Guru SMPN 1 Pringsurat
5.Qodir Muhadjir. Kiat Sukses Membuat Pindang “Pikat” yang Memikat, Purwekerto, Jawa Tengah Tutor Kejar Paket C PKBM Satria
6.Waitlem, S.Pd. Kiat Sukses Menulis Feature dan Artikel. Solok, Sumatra Barat Guru Bahasa Indonesia SMA 4 Gunung Talang
7.Dwi Rakhmawati, S.E. Terima Kasih, Pak Pos! Titip Surat untuk Sahabatku, Surakarta, Jawa Tengah Guru Komputer SD Al-Firdaus
8.Wijaya Kusumah, S.Pd. Yuk Kita Nge-Blog! Bekasi, Jawa Barat Guru TIK Labschool Jakarta

Sumber : http://www.wijayalabs.com/tag/pemenang-sayembara-naskah-buku-pengayaan/

Sabtu, Februari 06, 2010

CATATAN FESTIVAL DRAMA REALIS REMAJA SE-EKS KERESIDENAN SURAKARTA 27-30 DESEMBER 2009 (mendidik generasi muda pelajar melalui pertunjukan teater)



PENDAHULUAN

Hari begitu mendung, walau rintik sudah meneteskan titik airnya pada kepala, tepat di depan Teater Kecil ISI Surakarta pada hari Senin, 27 Desember 2009. Terdapat layar screen di luar gedung, mungkin saja, apabila penonton begitu sesak maka masih bisa melihatnya di luar gedung. saya sempat menyaksikan atraksi Jimbe dari mahasiswa ISI Surakarta, kemudian bergegas mengisi buku tamu dan menerima sebuah hadiah dari seorang gadis cantik berupa booklet rangkaian kegiatan Festival. Saya langsung menuju pintu sebelah kanan, duduk di deretan bangku nomor tiga dan dengan tenang saya mulai mempersiapkan diri, mengamati dialog dua MC yang menceritakan rangkaian acara festival dan tujuan kenapa acara ini diselenggarakan. Saya membuka booklet kegiatan, dan melihat isi pengantar dari Rektor ISI Surakarta bapak Prof. Dr. Slamet Suparno, S.Kar, MS yang berbunyi secara ringkas “saya menyambut baik atas diselenggarakannya lomba/festival Drama Realis Remaja se-Solo Raya tahun 2009, menyampaikan penghargaan kepada panitia festival dan para peserta yang sudah berpartisipasi dan berharap agar kegiatan ini merupakan titik awal bagi adik-adik mahasiwa khususnya UKM Teater Jejak Institut Seni Indonesia Surakarta” dan sambutan dari ketua panitia yang berbunyi secara ringkas yaitu “dapat kita sadari, bahwa untuk memajukan apresiasi teater tidak cukup dengan wacana, akan tetapi perlu dilakukan kegiatan aktif, semoga festival ini selain menjadi wacana juga dapat memajukan apresiasi dan menjadi saksi dari dinamika perkembangan seni teater ditingkat SMA dan se-derajat”. Sebagai penonton yang baru pertama kali menyaksikan festival teater dalam konteks drama realis remaja, menilai isi dari pengantar dan sambutan ini memiliki suatu harapan besar dalam memajukan seni dan budaya di kota Solo, khususnya teater.



SEDIKIT KRITIK PERTUNJUKAN, SEMOGA BERMANFAAT

Penampilan pertama, dari SMA N 1 Slogohimo dengan nama kelompok Teater Awan Hijau. Kelompok ini membawa naskah “Les Chaises” karya Eugene Ionesco adaptasi “Kereta Kencana” W.S Rendra. Yang di sutradarai oleh Heru Purwoko. Umi Rohmah sebagai nenek dan Tarjo sebagai kakek. Sebuah naskah absurd yang diusung dalam tema Festival Drama Realis ini, menceritakan tentang dua orang (kakek dan nenek) telah berusia ratusan tahun, dua orang yang kesepian dan tidak memiliki anak, dua orang yang memilki kejayaan masa lalu namun di masa tuanya hanya bisa berkhayal agar kematian yang segera mejemput mereka berdua dapat menjadi sesuatu yang bermakna, namun tetap saja absurd. Dari pertunjukan ini, saya melihat kurangnya suatu pendalaman terhadap proses akting yang dilakukan di atas panggung sehingga terkesan dialog-dialog yang dimunculkan sangat tergesa-gesa, karakter, gestur dan vokal yang coba dieksplorasi tidak tampak hadir secara maksimal. Di tambah dengan unsur pencahayaan yang sama sekali tidak mencerminkan penegasan dramatik pertunjukan. Ada satu momen yang membuat saya tertawa geli waktu itu yaitu, terjadinya sebuah kecelakaan teknis di atas panggung yaitu copotnya kumis tokoh kakek sehingga membuyarkan seluruh impresi yang sudah saya bangun dari awal ketika menyaksikan pertunjukan ini.

Pertunjukan kedua yaitu dari kelompok Teater Ngilir yang berasal dari SMA N 1 Karanganyar. Naskah yang mereka bawa berjudul “Pesta Terakhir” karya Ratna Sarumpaet, sutradara Dukul Wahyu Nugroho. Pertunjukan ini menceritakan tentang penghormatan terakhir terhadap pemimpin otoriter dengan nama pak Sepuh yang tidak dihadiri oleh siapapun kecuali anaknya bernama Haryati dan beberapa pelayan, mandor, sahabat dan kenalannya. Dengan keteguhan hati, Haryati tetap bersikukuh untuk tidak mensemayamkan bapaknya, sebelum orang-orang datang menghadiri upacara penghormatan tersebut. Pertunjukan dengan durasi 50 menit ini, sedikit memberikan warna lain dengan menghadirkan suasana yang cukup realis, dengan menghadirkan sett panggung yang sugestif sehingga penonton dapat memahami kalau itu adalah suasana penghormatan terakhir sebelum jasad dimakamkan. Dari awal sampai akhir pertunjukan, saya mengamati hampir seluruh pemain seperti tidak merasa punya beban di atas panggung. Hal ini sebenarnya cukup membahayakan juga, karena dalam sebuah pertunjukan teater dengan membawa naskah realisme, bukan berarti tidak ada stilisasi di dalamnya, tetap harus dilakukan karena sesuatu yang dimunculkan oleh aktor/aktris harus tertangkap dengan baik oleh penonton sehingga dialog-dialog, ekspresi, movement dan gestur yang dihadirkan betul-betul menjadi ruang komunikasi efektif antara panggung dan penonton. Hal inilah yang tidak terjadi dalam pertunjukan ini, hampir semua aktor asyik bermain dengan dirinya di atas panggung, mereka lupa bahwa pertunjukan mereka disaksikan oleh ratusan mata yang disebut penonton. Sehingga dari hal tersebut, pertunjukan kurang memberikan impression (kesan) dari apa yang sudah ditampilkan di atas panggung.

Pada hari Selasa, 28 Desember 2009, seperti biasa saya hadir sebagai penyaksi Festival Drama Realis yang diselenggarakan oleh UKM Teater Jejak ISI Suirakarta ini. Terdapat tiga pertunjukan pada malam itu yaitu Teater Biroe dari SMA Pagudi Luhur St. Yosef dengan mengangkat naskah berjudul “Pada Suatu Hari” karya Arifin C Noer dengan sutradara Didik Panji. Pertunjukan ini, memberikan paradigma yang sama dari apa yang saya pahami dari sebuah pertunjukan teater yang berangkat dari naskah-naskah realisme. Ada well made play (drama yang dibuat dengan baik) di dalamnya. Dengan penggambaran karakter yang jelas, perkembangan kejadian yang diatur secara cermat, penuh kejutan-kejutan logis, memiliki suspense, tidak artifisial, memilki konflik yang jelas, konvensi panggung empat dinding, memiliki dramatik, punya detail sett dan properti dan identifikasi tokoh yang jelas. Sepertinya sutradara sangat paham apa yang harus dilakukan kepada seluruh elemen pendukung di atas panggung. Sempat terlintas dibenak saya, kalau sutradaranya bukan seorang siswa SMA, namun seseorang yang diminta untuk melatih proses pertunjukan festival ini. Ternyata dugaan saya benar, setelah semua pertunjukan usai, di luar gedung, saya diperkenalkan oleh seorang teman dengan sutradara pertunjukan ini. Bukan siswa SMA, tetapi juga seorang sutradara yang cukup dikenal di kota Solo. Orangnya begitu asyik diajak ngobrol, tidak merasa seperti seniman besar yang cenderung inklusif, dan dia juga pernah membantu teman saya waktu ujian akhir S2 di ISI Surakarta.

Pertunjukan kedua pada malam itu berjudul “Eng Ing Eng” karya Taat Wihargo, sutradara M. Amiruddin. Dengan nama kelompok yaitu Teater Gandrung Gusti berasal dari Madrasah Aliyah Al Azhar. Pertunjukan ini bercerita tentang Wadul anak pak Suro yang masih berstatus pelajar SMP. Ibunya sudah meninggal. Ketika ia mengenal cinta, akhirnya ia-pun ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada seorang gadis bernama Senuk. Percintaan keduanya ditentang oleh bulik Senuk, ketika bulik senuk mengetahui percintaan mereka secara diam-diam. Wadul-pun akhirnya dihina, dicaci maki dan diusir. Alasannya adalah bahwa bulik Senuk mengetahui bahwa Wadul adalah anak pak Suro yang notabene adalah mantan pacarnya dulu. Wadul melaporkan hal ini kepada bapaknya, dan mereka berdua mendatangi rumah bulik Senuk. Keadaan berubah, ketika pak Suro tidak memarahi bulik Senuk tetapi malah mengembalikan rasa cinta yang hilang selama ini, anaknya merestui hubungan mereka berdua asal mereka-pun juga merestui hubungan Senuk dan Wadul. Begitulah sekilas sinopsis dari pertunjukan ini. Pertunjukan ini, berusaha menembus garis imajiner yang dibangun antara penonton dan tontonan. Dengan adanya pergerakan aktor yang keluar dari panggung, sangat memecah konsentrasi penonton terhadap karakter tokoh yang coba dibangun, sehingga suasana yang dihadirkan menjadi cair, tidak menimbulkan sugesti dan impresi di dalamnya. Hal ini, merupakan sesuatu hal yang fatal dalam pertunjukan realisme, karena pertunjukan realisme sangat memberikan ketegasan terhadap batas antara pannggung dan penonton.

Pertunjukan ketiga berasal dari kelompok Teater Tiga SMA N 3 Wonogiri, dengan judul Si Badrun “Kado Buat Nenek” karya Pardyat Moko, sutradara Pardyat Moko sendiri. Dengan sinopsis pertunjukan yaitu sendiri itu menyakitkan, kesepian itu menyakitkan, tapi apa rasanya dilupakan orang-orang yang di cintai, dan ketika saat di nanti-nanti tiba, orang-orang yang dicintainya tak kunjung datang, kesedihan semakin menjadi, dan rasa putus asa mulai melanda dan di saat itu pahlawan pun datang untuk menyelamatkan situasi ini. Sebuah peristiwa yang sebenarnya menarik untuk disimak, terhadap situasi orang tua yang berhadapan dengan anak-anak yang tidak lagi mau mengurus di usia tuanya. Ia akan di masukkan kedalam Panti Jompo, dan itu-pun diketahui dari kedua orang cucunya yang kebetulan datang menjenguk perempuan tua yang kesepian tadi. Ketika anak-anaknya datang maka konflik cerita ini-pun dimulai. Saya melihat, pertunjukan ini terkesan dua orang laki-laki yang berprofesi sebagai salesment datang menawarkan produk kepada seorang perempuan tua yang sedang kesepian, sehingga terjadi suatu perdebatan. Artinya adalah, di sini tidak kelihatan feel (rasa) bermain dari tokoh laki-laki, seolah-olah mereka membangun jarak begitu jauh antara ibu dan anak yang seharusnya mereka harus dekat, terlihat akrab, intens, dan tidak terkesan artifisial (mengada-ada). Sehingga dari laku seperti tidak muncul suasana tragik yang seharusnya diberikan porsi yang menonjol dalam pertunjukan ini.

Pada hari ketiga, hari Rabu 29 Desember 2009 masih dalam rangkaian Festival Drama Realis yang diselenggarakan oleh UKM Teater Jejak ISI Surakarta. Pertunjukan pada malam itu diawali dengan penampilan Teater Lincak SMA N 1 Teras dengan membawa naskah berjudul “Tidak Penting” karya Bandung Mawasti, sutradara Doli. Pertunjukan ini mengisahkan tentang hidup yang hanya sekedar memperkarakan kekonyolan dan mencari bahan untuk tertawa. Dengan sett minimalis mengandalkan batas imajiner dengan menggunakan tali, pertunjukan ini cukup menarik juga untuk di apresiaisi. Terdapat suatu bakat alami yang dimunculkan oleh para pemain, sehingga pertunjukan realis yang sederhana dan minimalis ini memberikan suatu penyegaran baru. Namun, kontrol bermain yang harus diperhatikan dengan baik, sehingga tidak kebablasan melanggar garis yang berfungsi sebagai dinding imajiner rumah yang sudah di bangun. Fokus pencahayaan yang cukup menarik dalam memberikan batas area permainan. Dalam benak saya, mudah-mudahan saja kesalahan kecil yang bersifat teknis dapat ditolerir oleh dewan juri yang terhormat.

Penyaji kedua yaitu Teater Bungkus SMA N 2 Wonogiri, dengan judul naskah “Buruh” karya Dadang Catur. Mengisahkan tentang sisi kehidupan marginal (kelas pinggiran) yang hidup sebagai buruh. Namun, sangat banyak sekali tuntutan hidup yang harus dipenuhi, namun tetap saja tidak bisa merealisasikannya begitulah kehidupan keluarga Ibu Darsi dalam lakon ini. Ranti anak pertama ingin menikah dengan pemuda idamannya, sementara si Bungsu ingin kuliah di Perguruan Tinggi yang murah. Konflik sesama mereka terjadi, dan akhirnya amarah seorang bapak tidak bisa dipendam. Ia-pun marah besar sehingga menuntaskan klimaks pertikaian tadi. Sebuah naskah yang bagus, dan juga digarap begitu detail oleh sutradara. Hampir setiap pertunjukan memberikan suspense-suspense yang logis, tata sett yang memberikan kesan yang sesuai dengan tematik naskah, karena memuat detail-detail setting dan properti kehidupan keluarga miskin, juga aktor, musik, pencahayaan, pola bloking yang begitu mengalir terkesan tidak terlalu diatur, akting yang tidak terkesan artifisial sehingga unsur spektakel dalam pertunjukan ini benar-benar menjadi perhatian sutradara. Itu hal yang menarik dari pertunjukan ini.

Pertunjukan terakhir pada malam itu, menyuguhkan naskah berjudul “Opera Dua Cinta” karya Agung Pamuji Adi, sutradara Yustinus Popo. Sebuah cerita yang merupakan modifikasi dari cerita klasik William Shakespeare yang berjudul Remeo dan Juliet. Cerita Romeo dan Juliet gaya Yustinus Popo ini mengisahkan dua orang remaja yang menjalin cinta, namun hubungan mereka sangat ditentang oleh orang tua mereka terutama dari Ayah tokoh perempuan. Prinsip pertunjukan ini murni sebuah hiburan yang menarik untuk di apresisasi. Pertunjukan ini memberikan satu bentuk parodi gaya bercinta anak muda pelajar saat sekarang ini yang sudah dipengaruhi dengan budaya globalisasi yang hedon dan cenderung bersifat konsumeristik, teori-teori ilmu pengetahuan tidak dibutuhkan lagi, kecuali pola hidup hura-hura dan tidak lagi memperhatikan nasehat orang tua. Tidak ada penegasan dan intensitas karakter akting dalam pertunjukan ini, karena layaknya kesenian tradisional, ketika ia keluar dari area permainan yang masih kelihatan oleh penonton ia telah beralih fungsi sebagai dirinya, dan ketika ia mulai berdialog kembali, maka ia seolah-olah menjadi tokoh yang ada dalam cerita itu. Para pemusik berada ditengah-tengah panggung dengan seorang penyanyi cantik sambil melantunkan irama lagu dan tari-tarian mencoba menyesuaikan dengan peristiwa dramatik pertunjukan dari awal sampai akhir. Begitulah Bertold Brecht memberikan batasan efek alienasi di dalam akting, berbeda dengan konsep Constantin Sergeyev Stanislavsky dengan konsep inner act (akting yang lahir dari dalam diri) sebuah persenyawaan tubuh dan pikiran sehingga memberikan batasan yang disebut to be (menjadi). Sebenarnya pertunjukan ini, tidak pas dalam tajuk festival drama realis kali ini, harus dibuatkan ruang festival lain, mungkin saja festival drama eksperimental atau yang lain sebagainya. Tetapi untuk sebuah kreativitas, dan kerapihan adegan-peradegan maka pertunjukan ini sangat layak diapresiasi.

Pada hari terakhir, masih dalam rangkaian agenda Festival Drama Realis, tanggal 30 Desember 2009. Saya-pun kembali hadir sebagai penyaksi yang baik dalam iven ini. Penampilan pertama yaitu Teater Trie SMA N 3 Sragen. Menyajikan naskah berjudul “Pucung” adaptasi “Anak Kandung” karya N. Riantiarno, Pine Wiyatno. Mengisahkan tentang Pucung yang bertutur tentang rasa kekeluargaan yang telah tergilas oleh hedonisme dan materialisme ditengah gelombang kehidupan yang bernaung dalam globalisasi. Pucung bagi keluarga Mulyana adalah salah satu falsafah hidup bagi orang Jawa yang terdapat dalam tembang Macapat. Pucung menjadi pegangan dalam menyikapi tantangan zaman, di mana etika dan moralitas serta rasa kebersamaan terus terkuras oleh globalisasi. Begitulah hantaran dalam lakon pertunjukan ini., sudah 25 menit pertunjukan berlalu, itu artinya saya telat malam ini. Begitulah, hujan hadir lagi malam itu. Sehingga untuk pertunjukan yang satu ini, saya tidak berani berkomentar karena takut mengada-ada, lebih baik kita maklumkan saja dan siapa yang melihat dari awal barangkali saja dapat berkomentar pada tulisan yang lain.

Pertunjukan kedua, sebagai penampil terakhir dalam rangkaian Festival Drama Realis yang dilaksanakan oleh UKM Teater Jejak ISI Surakarta adalah Teater Tenda SMA N 2 Karanganyar, dengan membawa lakon berjudul “Pada Suatu Hari” karya Arifin C Noer, sutradara Rahmad M. lakon ini mengisahkan tentang kecemburuan tokoh nenek kepada nyonya Wenas di suasana ulang tahun perkawinan emas mereka. Cemburu ini, akhirnya berujung pada permintaan cerai tokoh nenek pada tokoh kakek. Pada saat yang sama, Novia datang dan juga menceritakan persoalan permintaan cerai pada suaminya yang bernama Vito. Melihat situasi ini, ibu dan bapak mereka tidak mungkin membiarkan hal ini terjadi, akhirnya keretakan rumah tangga antara ibu dan anak dapat teratasi dengan baik. Pada awal pertunjukan ini, terkesan dua orang pemain agak sedikit nervous (bingung, gugup dan grogi), sehingga suasana pertunjukan belum tercipta dengan baik, karena vokal dialog yang masih timbul tenggelam. Ketika pada suasana tokoh nenek merasa cemburu kepada nyonya Wenas, barulah roh pertunjukan mulai terangkat, sehingga tiap-tiap peristiwa dramatik yang mereka mainkan sangat dibantu dengan kekuatan ekspresi dan gestur realistik. Inilah pertunjukan yang menurut saya, juga mewakili ciri well made play dalam realisme. Karena aspek kausalitas, penggambaran karakter yang jelas, punya ruang surprise dan suspense, punya dramatik dan lain-lain sangat terasa dalam pertunjukan ini terutama pengkarakteran yang dilakukan oleh tokoh nenek, sangat memberikan dinamika terhadap pertunjukan “Pada Suatu Hari” karya Arifin C Noer ini. Seandainya tokoh nenek dihilangkan dalam pertunjukan ini, maka well made play dalam konteks realisme tidak menarik lagi untuk menjadi pembahasan.

PENGUMUMAN DAN PENYERAHAN HADIAH

Para juri Festival yang terdiri dari kalangan seniman dan akademi teater yaitu Suharyoso SK (ISI Yogyakarta), Tafsir Huda (ISI Surakarta) dan Hanindawan (Teater Gidag-Gidig-Taman Budaya Solo), setelah rangkaian pertunjukan usai. Maka mereka bertiga masing-masing ingin berdebat siapa kira-kira yang layak untuk menjadi pemenang dalam festival ini. Untuk mengisi waktu luang, UKM Teater Jejak bekerjasama dengan Bengkel Mime Yogyakarta membawakan karya Pantomime berjudul “Rudi Go to School” dan HMJ Teater ISI Yogyakarta dengan membawa karya monolog berjudul “Sepi” karya Putu Wijaya dengan aktor bernama Feri Kritz. Penampilan dari dua kelompok ini, memberikan ruang apresiasi yang menarik bagi kalangan siswa yang menjadi mayoritas penonton pada malam itu, disamping para guru, seniman, pejabat dan dosen ISI Surakarta.
Akhirnya, Tafsir Huda, selaku perwakilan Dewan Juri, membacakan hasil perdebatan mereka yang tidak dapat diganggu gugat, begitulah gaya festival yang berkonotasi lomba di mana-mana di Indonesia. Juara Favorit di raih oleh Teater Timboel SMA N 5 Surakarta (Opera Dua Cinta), Artistik terbaik diraih oleh Teater Biroe SMA Pagudi Luhur St. Yosef (Pada Suatu Hari) dan Teater Bungkus SMA N 2 Wonogiri (Buruh), pemeran terbaik pria adalah tokoh kakek (Kereta Kencana) Teater Awan Hijau SMA N 1 Slogohimo, pemeran terbaik wanita adalah tokoh nenek (Pada Suatu Hari) Teater Tenda SMA N 2 Karanganyar, penyaji terbaik 3 diperoleh oleh Teater Bungkus SMA N 2 Wonogiri (Buruh), Penyaji terbaik 2 diperoleh oleh Teater Biroe SMA Pagudi Luhur St. Yosef (Pada Suatu Hari), dan penyaji terbaik 1 adalah Teater Tenda SMA N 2 Karanganyar (Pada Suatu Hari). Setelah semua usai, hanya tinggal kelelahan, mungkin juga kepuasan, maka semua lampu gedung dimatikan. Di luar gedung Teater Keci ISI Surakarta, orang-orang melintas entah ke mana dan untuk tujuan apa? Pikiran itu terlintas dibenak saya, akhirnya saya-pun kembali menjadi penyaksi untuk sebuah panggung yang lebih besar, yaitu dunia itu sendiri. Selamat Malam.

Solo, 18 Januari 2010