Minggu, Juni 19, 2011

an Experience: Identitas Tubuh-Tubuh dan Pendistorsian Makna

Diterbitkan, koran HALUAN-SUMTERA BARAT, Minggu 19 Juni 2011


Oleh: Afrizal Harun

“Perjalanan tubuh memasuki ruang-ruang gerak dari atmosfir tari yang terus menerus bergerak seperti detak waktu melesat tanpa jeda atau perlahan seperti diam. Perjalanan tubuh pada distorsi ruang-ruang. Pada keringat penari, pada tegur sapa, mata, telinga dan hati. Proses menemukan keindahan, pergulatan keyakinan mengarungi kesederhanaan tubuh-tubuh yang bertemu, hingga pada akhirnya kosong. an Experience adalah kekosongan itu, perjalanan menjadi sunyi diriuh keramaian. Sebuah pengalaman tubuh yang penuh makna yang terus menerus harus dimaknai dan diamini dari tradisi tubuh dengan fenomena gerak yang berkembang”.
Sinopsis Tari an Experience, koreografer Tyaz De Nio

Cahaya Panggung dan penonton dibuat remang, tubuh keseharian melintas menuju ruang silih berganti, tak ada kebisingan yang ingin memekakkan selaput gendang telinga, hanya bisik-bisik sepertinya ingin bertanya tentang apa, siapa, di mana mungkin saja entah. Tubuh-tubuh mencari kursinya sendiri-sendiri, berdua atau bahkan berlima, tubuh-tubuh terlihat berjejer atau bahkan bersendiri menuju tepi, ia tidak ingin adanya relasi karena tubuh ini ingin menyendiri. Tubuh-tubuh yang lain terlihat hening seraya menatap sepi walaupun terkadang iapun mencoba menyapa tubuhnya sendiri atau bahkan menyapa tubuh-tubuh yang berada di sisi, tetapi entah tubuh siapa? Walaupun terkadang ia ingat, tetapi entah di mana? Ia tidak lagi melanjutkan interaksi ini karena mata telah tertuju pada titik tubuh-tubuh lain yang terlihat diam di tengah panggung. Tubuh mulai teralienasi, ruang telah dipenuhi oleh tubuh-tubuh yang tidak diketahui identitasnya apa, siapa dan di mana. Tubuh-tubuh telah menjadi pemaknaan yang metafor, karena ia memiliki dimensi yang multitafsir. Hanya beberapa tubuh-tubuh yang saling mengenal satu sama lain mencoba memperlihatkan daya ekspresi, pergulatan gestur, tipikal keseharian yang sering mereka lakukan tatkala sedang berinteraksi. Begitulah, ketika mata menyaksikan peristiwa tubuh di luar dirinya, ia melahirkan berbagai macam penafsiran, interpretasi, dan imajinasi. Sebelum pertunjukan dimulai, sepasang mata ini tetap saja terus memperhatikan tipikal tubuh-tubuh yang berada di luar dirinya. 

Tepat di tengah panggung yang sedikit gelap, mata dihadapkan pada situasi tubuh-tubuh yang statis, tubuh yang diam barangkali saja memiliki makna, namun saya tidak ingin mencari maknanya apa. Hanya menguras pikiran saja. Anggap saja, diam itu juga memiliki makna. Tidak berapa lama, seorang penari perempuan muncul dari wing kanan bagian belakang menuju wing kiri dibantu dengan pencahayaan spotlight. Ia bergerak mengikuti ritme dan irama tubuhnya. Ketika dipaksa untuk menelusuri lorong waktu yang panjang dan sepi, terkadang tubuhnya menolak, tubuhnya ingin kembali pada tempat semula ketika ia tidak ingin pergi, pola gestur dan teknik tubuh merepresentasikan penolakan tersebut. Walaupun terkadang elemen tubuh yang lain justru ingin menuju lorong waktu tersebut, tubuhnya mengalami perdebatan, tubuhnya kehilangan kesepakatan, tubuhnya telah terdistorsi, sampai pada akhirnya tetap ada yang harus dikalahkan. Akhirnya perempuan itu menembus lorong waktu menuju entah, tetapi untuk apa?.
Sesaat, terasa senyap. Lampu wing kanan bagian belakang-pun dimatikan. Tubuh-tubuh ditengah panggung masih saja diam dan statis. Kemudian satu persatu, tubuh mereka mulai menampakkan reaksinya. Layaknya sebuah proses metamorfosa masing-masing komponen tubuh-tubuh mereka mulai digerakkan dan bermetamorfosis. Ada yang memulainya dengan cara menggeliat, menggerakkan jemari, menggerakan kaki, dan juga ada yang memulainya dengan menggerakkan kepala secara perlahan. Layaknya sebuah proses kelahiran, tubuh-tubuh mulai mencari identitasnya masing-masing.

Tubuh-tubuh terkadang mencari identitasnya sendiri-sendiri, terkadang rampak, berputar, berguling, berdiri, terjatuh, berjalan, berlari, namun tetap tidak menemukan apa-apa. Gerak tubuh yang energik, tubuh yang akrobatik, tubuh yang teatrikal, pola lantai yang tertata dengan rapih layaknya ilmu koreografi yang memang sudah dipahami namun tetap saja terlihat sebuah tatapan yang kosong, tanpa ekspresi, datar (flat), sehingga sempat terfikir apakah ini identitas yang sedang mereka cari?. Pencahayaan terlihat rapih dalam menyikapi warna dan garis cahaya, transisi-transisi peristiwa tubuh yang berkorelasi dengan pencahayaan panggung menunjukkan adanya benang merah yang muncul secara konseptual. Tubuh-tubuh bergerak menuju titik cahaya, terkadang tubuh-tubuh juga kehilangan titik cahayanya sendiri. Pada saat tertentu musik terasa memberikan kekuatan terhadap gestikulasi tubuh, irama dan ritme tubuh. Penataan musik dalam karya tari ini terkadang memiliki posisi sebagai ilustrasi musik, namun dalam posisi yang lain tubuh-tubuhpun disetrum oleh berbagai efek bunyi dan vokal pemusik. Kehadiran pencahayaan panggung dan musik terasa mempertegas kekuatan dari karya ini. 

Tubuh-tubuh senantiasa terus bergerak. Tubuh-tubuh yang memiliki jenis kelamin ini (tiga perempuan dan satu laki-laki), mulai gelisah dan ingin pergi. Mereka menatap ke segala arah, ke mana ia akan pergi. Akhirnyal, tubuh-tubuh perempuan pergi menuju entah, mungkin saja kosong. Tinggal tubuh laki-laki yang berada pada titik cahaya, ia dipenjara oleh cahaya, ia tidak bisa lagi bergerak secara merdeka, tubuh laki-laki itu bergerak layaknya sebuah prosesi menuju kematian, ia bergerak dengan pendistorsian tubuh yang pada akhirnya terlihat mengecil, mengecil, dan mengecil. Lelaki itu melakukan gerakan-gerakan kecil, cahaya berusaha mengikuti irama gerakan tubuh tersebut, sampai pada akhirnya lampu fade out. 

Begitulah gambaran struktur puitik dari pertunjukan tari berjudul an Experience, koreografer Tyaz De Nio pada hari Rabu, tanggal 15 Juni 2011 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah-Surakarta pukul 20.00 Wib. Karya tari ini didukung oleh para penari yaitu Tyaz De Nio, Retno ‘Eno’ Sulistyorini, Astri Kusuma Wardani, Dewi Galuh Sintosari dan Danang Pamungkas. Penata Cahaya Tria Vita, Penata Musik Rudy Sulistanto dengan pemusik Rudy Sulistanto, Misbach Bilok dan Alam Wardhana.

Tubuh Personal-Publik, Tubuh yang mencari hakekat tentang ‘ada’
Epistimologi Pendistorsian Tubuh yang Estetis

Fenomena tubuh sebagai simbol personal atau simbol yang bersifat publik telah menjadi diskursus dalam kebudayaan di Eropa selama hampir ratusan tahun. Diskursus tentang tubuh ini merupakan suatu proses interpretasi terhadap objek material tubuh dan mencari pemaknaan terhadap hakekat tentang ‘ada’. Tubuh merupakan sebuah organisme fisik manusia yang memiliki aspek ‘antropologi biologis’. Nietzsche mengungkap persoalan tubuh dalam perspektif ‘ada’ (eksistensialisme) dengan menjelaskan bahwa “tubuh adalah kita sendiri”.
Gading J Sainipar mengutip pemikiran Louis Leahy menjelaskan bahwa keberadaan tubuh merupakan sebuah refleksi pada kenyataan keberadaan manusia. Manusia ‘ada’ dan menjadi ‘ada’, dalam arti tertentu menunjukkan manusia pernah ‘tidak ada’. Hal dibutuhkan sebuh kesadaran, bahwa ketika manusia sadar akan keberadaan dirinya, ia semakin mampu menjadi penanggung jawab atas gerakan dan proses yang menempatkannya dalam kenyataan hidup.
Tubuh abad 21 berada pada mekanisme virtualitas, individualistis, dunia imajinasi, realitas kongkrit yang kehilangan batas pemisah dan cenderung paradoks. Fenomena tubuh telah menjadi mainstream ideologi kapitalisme yang diwujudkan melalui ruang-ruang teknologi, industri, komunikasi, manusia urban, lifestyle, konsumeristik, dan lain-lain. Tubuh telah kehilangan identitas kultural karena begitu banyak ia mengadopsi fenomena tubuh impor. Prinsip keterasingan yang dialami oleh tubuh kultural ini, mengakibatkan muncul berbagai bentuk pendistorsian tubuh secara estetis. Suatu hal yang terlihat janggal, namun begitulah hegemoni estetika tubuh barat yang mengalami proses pendistorsian terhadap tubuh-tubuh kultural masyarakat Indonesia hari ini. Pada prinsipnya, tubuh terus mengalami pergulatan makna untuk menemukan hakekat tentang ‘ada’, ia terus bergerak menuju ruang sempit, lorong gelap, berputar pada detak waktu secara dialektis. Walaupun hakekat ‘ada’ yang sebenarnya ingin dicapai adalah ‘kosong’. 

Suatu pergulatan kreatif yang dilakukan oleh Tyaz De Nio dalam karya tari berjudul an Experience, sehingga karya ini memiliki pergulatan penafsiran simbolik yang arbitrer. Tidak ada ketentuan baku dalam menemukan apa yang ingin disampaikan oleh karya ini, walaupun pada dasarnya apa yang dilakukan oleh Tyaz De Nio merupakan sebuah pengalaman estetika personal yang selama ini terpendam. Sebagai penari dan koreografer, ia sering terlibat sebagai penari dengan tokoh tari terkenal seperti Sardono W Kusumo, Martinus Miroto, Mugiyono Kasido dan lain-lain.

Selasa, Juni 07, 2011

SAYEMBARA PENULISAN NASKAH DRAMA FEDERASI TEATER INDONESIA (FTI) 2 NASIONAL (UNTUK PELAJAR DAN MAHASISWA)


FTI berkehendak untuk menggairahkan kembali semangat menulis naskah drama, merangsang para penulis muda untuk juga bergiat di dalamnya, dan pada akhirnya meningkatkan perbendaharaan naskah Indonesia. Tidak tertutup pula harapan naskah-naskah baru tersebut dapat menjadi alternatif terutama bagi pertunjukan yang semakin dapat mewakili hidup dan persoalan-persoalan kemasyarakatan mutakhir kita.
Tema
Tema bebas, namun diharapkan yang “berakar” berkonteks dengan kekinian Indonesia.

Waktu Kegiatan
Pendaftaran dimulai awal Mei 2011, batas pengiriman terakhir tanggal 30 Juli 2011 ( cap pos).



Dewan juri:
Afrizal Malna (Satrawan), Nano Riantiarno (Teaterawan), 
Radhar Panca Dahana (Pembina Teater).

Tempat
Sekretariat FTI, Jl. Muchtaruddin 20 B Komplek PU Pasar Jumat Jakarta Selatan 121310 Indonesia, Telp. 021-8637 4965, Email : ftindonesia@yahoo.com

Hadiah
Pemenang Terbaik dari Terbaik : Rp. 10,000,000,- plus tropi dan piagam penghargaan
Pemenang 5 naskah drama Terbaik : masing-masing mendapatkan Rp. 5000,000,- plus tropi dan piagam penghargaan

Ketentuan Peserta:
1. Isi Naskah Tidak Menyinggung SARA
2. Pelajar dan mahasiswa Indonesia
3. Tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku
4. Jumlah HALAMAN NASKAH, MINIMAL 15 haL.maks.40 hal.
(Ukuran kertas A4, 2 Spasi, Arial), Berbahasa Indonesia.
5. Naskah dikirim dalam file digital (soft copy) 1 Buah
dan 3 rangkap berjilid (hard copy) dengan melampirkan :
- Photocopy Kartu Tanda Pelajar /Mahasiswa
- Biodata Penulis
- Surat pernyataan bahwa naskah yang dikirim adalah asli,
belum pernah diterbitkan dan tidak sedang diikutsertakan
dalam lomba sejenis, bermaterai 6000
6. Naskah drama dikirim ke panitia dengan kode:
SNPND FTI Pelajar/Mahasiswa 2011 ke sekretariat FTI.

Senin, Januari 17, 2011

MERASAKAN MINANGKABAU LEWAT FILM (Catatan Pameran Skenario dan Pemutaran Film Mahasiswa Jurusan Televisi ISI Padangpanjang)


Oleh: Edi Suisno dan Afrizal Harun
Koran Haluan, 9 Januari 2011


Tanggal 5-6 Januari 2011, Jurusan Televisi ISI Padangpanjang menyelenggarakan Pameran Skenario dan Pemutaran film dokumenter, fiksi, dan iklan layanan masyarakat sebagai bentuk agenda ujian akhir mahasiswa Jurusan Televisi. Nilai-nilai budaya, sejarah, dan kritik terhadap eksploitasi manusia (anak) menjadi sumber inspirasi utama dalam karya-karya yang mereka ciptakan.
Tiga jenis skenario yang dipamerkan dalam acara tersebut adalah: skenario film berjudul Jadul karya Novalina, Mak Tambaro karya Riri Irma Suryani, dan Koordinat  4820 karya Indah Susanti. Skenario film Jadul karya Novalina menceritakan tentang kisah seorang Sumando dari Jawa yang hidup dalam kultur Minangkabau. Skenario film Mak Tambaro karya Riri Irma Suryani, bercerita tentang implikasi jemputan dalam adat di Minangkabau. Sementara, skenario film berjudul Koordinat 4820 menceritakan tentang misi penyelamatan orang hilang dalam pendakian di gunung Singgalang.
Secara umum, tiga skenario yang dipamerkan nampak menghadirkan berbagai ‘bias’ terhadap fenomena kultur (Minangkabau) sebagai latar cerita. Jika Mak Tambaro hadir sebagai bentuk ‘gugatan’ terhadap keberadaan jemputan yang acapkali mereduksi kekerabatan sosial di Pariaman, maka Jadul diwujudkan  sebagai  pikiran kritis sang penulis terhadap ketimpangan sistem matrilineal di Minangkabau, tentu saja dalam sudut pandang yang ‘radikal’ dari seorang sumando urban (Jawa). Begitupun dengan Koordinat 8420, Indah Susanti nampaknya mencoba memotret prilaku anak muda Minangkabau yang melakukan perlawanan terhadap kondisi keluarga yang broken home. Hutan dan lereng gunung tiba-tiba menjadi tempat yang nyaman untuk melampiaskan perlawanan tersebut, meskipun resiko yang dihadapi justru merunyamkan persoalan.
Menelusuri konflik-konflik yang terdapat dalam tiga skenario tersebut, Nampak para penulis sudah berhasil mempertimbangkan struktur dramatik dalam rajutan alurnya. Penuturan konflik, juga sangat mempertimbang montage dan unsure-unsur videografi secara maksimal, sayang sekali penanda-penanda kultur tampak masih dieksplorasi secara global. Berbagai logika cerita, seringkali juga diterabas sehingga prilaku-prilaku yang muncul dalam dinamika karakter tampak terkesan ‘dipaksakan’. Pun begitu, tiga penulis skenario tersebut nampak mulai membekali semangat otokrtik pada tempat di mana ia berpijak secara ‘cerdas’ dan terkemas.
Terdapat tujuh karya yang menarik untuk diapresiasi dalam ajang tersebut yaitu: karya film berjudul Generasi Televisi oleh Edison, film dokumenter berjudul Pai ka Tampek karya Watnel Fitria, film fiksi berjudul Anak Pohon karya Depri Apriandi, film berjudul Ratapan Ibu sebuah Tugu karya Saufal Hadi, film dokumenter berjudul Tari Piring Suluah karya Dilmei Putra, film dokumenter berjudul Silek Pauah karya Toni Melza, dan penayangan tiga buah iklan layanan Masyarakat dengan tema Stop Ekspoitasi Anak karya Nurul Afdal Fitra.
Tiga karya film menonjol yang dapat dikedepankan di sini antara lain Anak Pohon karya Depri Apriandi, film Ratapan Ibu Sebuah Tugu karya Saupal Hadi dan tiga iklan layanan masyarakat dengan tema Stop Eksploitasi Anak karya Nurul Afdal Fitra. Anak Pohon karya Depri Apriandi menceritakan tentang seorang perempuan idiot (Ema) yang memiliki seorang anak (Son) di luar nikah. Konflik dalam lakon ini digentingkan secara runtut melalui kehadiran seorang perempuan (Susi) yang pernah Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampung perempuan idiot tersebut. Di akhir cerita, film ini menampilkan penyelesaian konflik secara mengejutkan, karena ternyata yang menghamili perempuan idiot tersebut adalah suami dari Susi sendiri. Jalinan konflik dalam film ini dituturkan secara logis, gambar-gambar dihadirkan secara filmis, alunan musik-pun diperdengarkan dengan sangat menyayat hati. Seluruh jalinan cerita mengalir secara ironis tanpa terkesan mendayu-dayu. Film ini semakin lengkap karena ditunjang oleh keaktoran para pemeran secara maksimal. Sayang sekali, casting para aktor yang tergolong masih muda, belum mampu memperlihatkan gambaran karakter secara fisik yang pas dengan tokoh di dalam cerita.
Film Ratapan Ibu Sebuah Tugu karya Saupal Hadi menceritakan tentang seorang nenek yang ditinggal suaminya yang gugur di masa perjuangan kemerdekaan. Nenek tersebut akhirnya dipertemukan dengan seorang anak nakal bernama Badu, ketika anak tersebut tengah mengejar layangan putus yang tersangkut di pohon depan rumahnya. Melalui cerita nenek tersebut, Badu akhirnya menyadari kenakalannya dan lahir kembali sebagai anak yang secara polos mencoba mengekspresikan rasa cintanya kepada tanah tumpah darah.
Tokoh-tokoh dalam Film Ratapan Ibu Sebuah Tugu terasa begitu unik dan memukau, gambar pun disajikan dengan sangat indah. Pilihan terhadap tone colour, agle kamera terlihat sangat ekslusif. Sayang sekali, tokoh-tokoh tidak diberikan ruang untuk berkembang dalam menajamkan dramatik cerita, sehingga interaksi tokoh-tokoh hanya terlihat selintas. Dialog yang dibuat minim pada akhirnya membatasi lahirnya ironi-ironi yang sesungguhnya sangat mungkin dihadirkan. Nampaknya, Saupal Hadi lebih percaya pada penonjolan bahasa gambar ketimbang kekuatan dramatik yang dimunculkan melalui dialog tokoh. Film-pun akhirnya terjebak pada landscape dokumentasi sejarah lokal. Namun demikian, film ini memang pantas mendapat apresiasi pada tingkatan gagasan atau ide  cerita.
Tiga iklan layanan masyarakat memiliki fokus pada tema eksploitasi anak sebagai komuditas untuk mendatangkan uang. Secara umum, tiga iklan tersebut dihadirkan dengan penggarapan editing yang sangat cermat dan maksimal. Metafor-metafor yang dipesankan dapat dikomunikasikan dengan baik. Bahkan, tiga sekuel iklan ini telah memenuhi kaidah spot, yakni memberikan pesan yang tajam dalam tayangan per detiknya. Sayang sekali, dalam beberapa gambar, Afdal terkesan masih sangat verbal dalam menuturkan iklannya. Pada adegan perkosaan perempuan di bawah umur misalnya, Afdal masih terkesan mengulang-ulang adegan, sehingga terlihat sedikit artifisial. Pun begitu, sentuhan iklan ini tidak hanya sanggup menyampaikan pesan, tetapi juga mampu menyajikan iklan secara artistik.
Sementara karya-karya yang lain seperti Pai ka Tampek karya Watnel Fitria, Tari Piring Suluah karya Dilmei Putra, Generasi Televisi oleh Edison dan Silek Pauah karya Toni Melza tampak memperlihatkan para kreator yang masih belum melengkapi karya-karyanya dengan gambar-gambar yang terencana secara maksimal. Narasi film yang dihadirkan, masih dodominasi oleh bahasa-bahasa verbal dan tidak tereksplorasi secara maksimal melalui bahasa gambar. Polemik obyek dokumentasi yang dihadirkan seperti dalam film dokumenter Tari Piring Suluah, Pai kaTtampek, dan Silek Pauah pun belum mengerucut secara tuntas. Bahkan dalam Generasi Televisi kecerdasan gagasan lakon yang menyoal dampak televisi justru terjebak pada bombase cerita yang terkesan sangat menggurui. Alhasil, karya film ini malah memperlihatkan gagasan yang justru mereduksi dan memiskinkan unsur-unsur film yang lain seperti kekuatan konflik, dinamika gambar, tampilan akting para pemeran di dalam film tersebut.
Di luar berbagai hal di atas, pameran dan pemutaran film oleh mahasiswa televisi ini tampaknya telah memberikan stimuluis besar terhadap para pembuat film, pemerhati film bahkan penonton awam sekali pun sebagai lecutan kreativitas. Hal ini penting untuk menjadikan Ranah Minang sebagai subjek maupun objek penciptaan film, yang akhir-akhir ini, terutama untuk jenis film-film Independen (lewat ajang Jiffest, festival confident, SCTV Award, festival Film Palembang, Festival Film Mahasiswa Nasional) ternyata telah diperhitungkan secara nasional. Lewat pameran dan pemutaran film ini, telah terbaca talenta-talenta muda, yang bisa jadi akan menyuburkan iklim perfilman daerah maupun nasional.

Roh- Jilatang, Sebuah Pementasan



Oleh: Afrizal Harun
Padang Ekspres, 9 januari 2011



Akhir Desember 2010, menjadi momentum berharga bagi kehidupan teater di Sumatera Barat, yaitu dilaksanakannya agenda Federasi Teater Indonesia (FTI) Award 2010 (disingkat FTI Award). Anugerah FTI Award merupakan agenda yang memiliki tujuan untuk memberikan penghargaan kepada seniman teater Indonesia yang dipandang telah memberikan kontribusi penting terhadap kehidupan dan perkembangan kesenian di Indonesia, khususnya teater. Semenjak didirikan pada tahun 2005, Anugerah FTI Award sudah diberikan kepada tokoh-tokoh teater seperti W.S Rendra (2006), Putu Wijaya (2007), Nano Riantiarno (2008), dan Slamet Rahardjo (2009).
Tahun 2010, agenda kelima dalam agenda Anugerah FTI Award diberikan kepada tokoh teater Indonesia yang berdomisili di Sumatera Barat yaitu Wisran Hadi. Pemberian Anugerah FTI Award  kepada Wisran Hadi dinilai sebagai suatu keharusan dengan alasan kontribusinya dalam percaturan teater Indonesia semenjak tahun 1976 sampai saat sekarang ini. Disamping sebagai sutradara teater, Wisran Hadi juga seorang penulis naskah drama yang sangat produktif.
Semenjak tahun 1976 sampai tahun 2003, Wisran Hadi selalu menjadi pemenang Sayembara naskah drama yang dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan beberapa dari naskah tersebut sudah pernah dipentaskan seperti Imam Bonjol, Gaung, Perguruan, Jalan Lurus, Ring, Cendra Mata, Anggun Nan Tongga, Malin Kundang, dan lain-lain. Alasan tersebut, dewan juri terdiri dari Jajang C. Noer, Amoroso Katamsi, Aspar Paturusi, Radhar Panca Dahana, dan Afrizal Malna memutuskan untuk agenda Anugerah FTI Award 2010 ini diberikan kepada tokoh teater Wisran Hadi.
Tanggal 26 Desember 2010, pukul 20.30 agenda FTI Awad diawali dengan dua buah pertunjukan teater yang berangkat dari karya Wisran Hadi, karya pertama berupa pertunjukan monolog yang diambil dari cerita Jilatang berbahasa Minang di koran Padang Ekspres karya Wisran Hadi, diperankan oleh Wendy H.S. Karya kedua berjudul Roh, sutradara Akbarudin.
 Cerita Jilatang pada dasarnya merupakan sebuah opini yang diwujudkan dalam bentuk dialog-dialog dua tokoh bernama Jila dan Atang. Dialog-dialog cerdas yang dihasilkan mencoba mencermati atau mengkritisi persoalan kehidupan masyarakat Minangkabau hari ini. Kemampuan Wisran Hadi dalam mengolah kata, kalimat menjadi struktur cerita yang konstruktif memang tidak diragukan lagi. Hampir semua cerita Jilatang yang terbit dalam koran Padang Ekspres edisi Minggu banyak mengupas persoalan-persoalan mendasar tentang isu-isu terkini dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, sebut saja cerita Jilatang yang mengangkat tema tentang Urang Bisa Jadi Sia-Sia Se Sasudah Mati, Ubek Sakik Lidah, Takaja Di Ikue, Masin Politik dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya.
Wendy HS, seorang sutradara dan aktor LPPT Tambologi Padangpanjang menyikapi cerita Jilatang dengan cara melakukan transformasi dalam bentuk pertunjukan monolog. Cara pandang seperti ini, menurut hemat saya sangat menarik untuk diapresiasi. Terdapat tiga bagian yang ditampilkan Wendy yaitu (1) Banyak Nan Labiah Waras Pado Kalian Lai; (2) Sampai Bilo Awak Ka Dibantu Urang; dan (3) Curiga Indak, Hati Badatak Iyo. Transformasi teks Jilatang menuju pernyataan panggung secara verbal didukung oleh instrumen musik Barat mampu dielaborasi dengan baik. Secara keaktoran, Wendy memberikan tiga penafsiran terhadap bentuk karakter tokoh yang dimainkan yaitu Si pencerita, Jila dan Atang.
Apakah pertunjukan monolog Jilatang dapat dipahami pesannya dan komunikatif? Tentu jawabannya adalah iya. Bahasa Minangkabau yang diverbalkan dan tiga karakter tokoh yang dimunculkan oleh aktor mampu direspons oleh penonton, ditambah dengan pola gestur, ekspresi, warna vokal, gerak silat (kombinasi silat Minangkabau dan Wayang Wong) diekspresikan secara komikal dan sangat menghibur. Walaupun, ada beberapa aspek teknis yang barangkali saja hanyalah faktor lupa semata, atau karena terlalu bersemangat sehingga benar-benar lupa seperti terjadinya kebocoran-kebocoran karakter tokoh yang dimainkan. Warna Vokal Jila terkadang juga digunakan oleh Atang, begitu juga sebaliknya. Cara menyikapi relasi tokoh Jila dan Atang yang diwujudkan dengan dialog-dialog imajiner tidak dilakukan dengan konsisten, begitu juga tokoh si pencerita. Padahal, untuk menyikapi hal itu seharusnya Wendy sebagai aktor seharusnya mampu melakukan improvisasi untuk mengatasi kebocoran-kebocoran tafsir yang muncul dibenak penonton. Namun, terlepas dari persoalan teknis yang saya jabarkan, Wendy telah mampu menafsir teks Jilatang menjadi pertunjukan yang menarik dan menghibur.
Roh karya Wisran Hadi, sutradara Akbarudin ditampilkan dengan pola penggarapan yang berbeda. Sebuah karya naskah dan pertunjukan yang lebih menonjolkan persoalan filosofis, hakikat manusia yang dibahasakan secara puitik, batas ambang antara mimpi dan kenyataan, nilai-nilai kebenaran dan kekuasaan, hidup dan mati, sesaat dan keabadian, noda dan kesucian, baik dan buruk, Suri dipasung, hilang, merantau dan berada di mana-mana.  Lalu, mengapa kita harus mencari Suri, siapa Suri sebenarnya? Apakah Suri adalah nama lain dari hati nurani? Begitu banyak kemungkinan-kemungkinan tafsir dalam memahami naskah Roh karya Wisran Hadi ini.
Konflik cerita mengenai Suri diwujudkan melalui perdebatan dua tokoh kunci dalam naskah tersebut dalam hal yaitu Ibu Suri, Manda dan tokoh-tokoh lain yang muncul sebagai produk mantra Manda sebagai roh dan arwah seperti kehadiran Datuk Ketemanggungan, Perpatih Nan Sabatang, Sutan, Raja Kaciak, Bandit dan lain-lain.
Set dan properti di atas panggung bergerak, mengitari area panggung dengan berbagai komposisi, terkadang juga berfungsi sebagai pintu, level  memberikan keunikan tersendiri terhadap rancangan skenografi panggung yang ditata secara maksimal, penuh surprise dan sistematis. Pemain mencoba mengikuti alur pergerakan tersebut secara bersamaaan, sampai pada akhirnya dialog-dialog puitik-pun hadir setelah set dan properti berada pada posisi yang diinginkan. Tidak ada identifikasi tokoh secara mendasar dalam pertunjukan tersebut, semuanya adalah tokoh abu-abu dan multitafsir. Tidak ada penjelasan secara rinci siapa tokoh Ibu Suri (Suci Lestari) itu sebenarnya, Manda (Hasan-Andi Jangger) yang dipahami sebagai dukun perantara terkadang juga berperan sebagai Datuk Ketemanggungan, Perpatih Nan Sabatang, Sutan, Raja Kaciak, Bandit dan lain-lain.
Pencahayaan panggung dan musik setidaknya sudah mampu memberikan dukungan terhadap suasana pertunjukan. Kehadiran musik dalam pertunjukan Roh karya Wisran Hadi, sutradara Akbarudin begitu terasa sedikit ‘nyinyir’ dalam memberikan isian-isian terhadap dramatik pertunjukan yang seharusnya sudah bisa diwakili oleh kemampuan vokal dan gerak para aktor di atas panggung. Barangkali saja, penata musik ingin melakukan penajaman terhadap suasana yang sedang berlangsung, namun tidak harus semua suasana harus diberi ilustrasi-ilustrasi atau efek musikal, sehingga sering terjadi benturan yang mengarah pada overlapping dialog aktor dengan musik yang seharusnya bisa disikapi sutradara secara baik.
Sebagai pertunjukan yang memiliki durasi sekitar satu setengah jam, seharusnya sutradara mencoba mensiasati kemenotonan yang mungkin saja akan terjadi dengan berbagai kreatifitas yang konstruktif ketika proses latihan, suatu usaha dalam proses directing secara lebih mendalam, sepertinya hal itu belum dilakukan secara maksimal, sehingga kemenotonan irama permainan tidak bisa dihindari. Dari beberapa komentar penonton yang menyaksikan pertunjukan Roh malam itu, terlihat lamban dan menoton dibandingkan pertunjukan dengan judul yang sama di Teater Arena Jurusan Teater ISI Padangpanjang 4 Juni 2010 yang lalu.
Namun, usaha yang telah dilakukan oleh sutradara melalui para aktor (Suci Lestari, Hasan, Andi Jagger, Anggi Hadi Kusuma, Elsa Nofri Asminda, Deri Sukaik, Danil Martin, Fuji L Ikhsan, dan Suci Sulistia), pemusik dan pendukung artistik lainnya, mampu memberikan daya tarik tersendiri terhadap tawaran-tawaran inovasi estetika pertunjukan teater yang layak diapresiasi untuk kelangsungan regenerasi teater di Sumatera Barat. Salam Teater*

Selasa, Oktober 26, 2010

Tya Setiawati : menampilkan monolog berjudul “Demokrasi” karya Putu Wijaya dalam Mimbar Teater Indonesia (MTI) II

Padang Ekspres, Edisi Minggu 24 Oktober 2010

Oleh : Afrizal Harun


Mimbar Teater Indonesia (MTI) II tanggal 4-10 Oktober 2010, Taman Budaya Surakarta (TBS) kali ini mengambil tema “Menyoal karya-karya Putu Wijaya”. Terdapat dua puluh delapan penampil monolog dan empat penampil grup teater yang ikut berpartisipasi menjadi peserta dalam iven nasional tersebut seperti Butet Kartaradjasa (Yogyakarta), Teater Lungid (Surakarta), Kelompok Masyarakat Batu (Palu), Seni Teku (Yogyakarta), Teater Mandiri (Jakarta), Teater Tanah Air (Jakarta)Teater Cermin (Solo), Herlina Syarifudin (Jakarta), Dalif (Tinambung, Sulbar), Bramanty S. Riyadi (Tegal), Ria Ellysa Mifelsa (Bandung), Putu Satria Kusuma (Singaraja, Bali), Luna Vidya (Makassar), Genthong HAS (Yogyakarta), Anton Y. Kieting (Takengon, Aceh Tengah), Abuy Asmarandana (Samarinda), Wawan Sofwan (Bandung), Tya Setyawati (Padang), Ujang GB (Jakarta), Sih Wahyuning (Semarang), Agus Nur Amal (Jakarta), Nani Tandjung (Jakarta), Syamsul Fajri Nurawat (Mataram), Lingkar Study Teater Palembang (Palembang), Rizaldo Gonzales (Kotabaru, Kalimantan), Boni Avibus (Bandung), Agus Susilo (Medan), Heliana Sinaga (Bandung), Ikranagara (Jakarta), Irwan Jamal (Bandung), Lisa Syahtiani (Jakarta), dan Rita Matumona (Jakarta).
Pembicara seminar dalam iven Mimbar Teater Indonesia (MTI) II tersebut adalah Afrizal Malna (Yogyakarta), Benny Yohanes (Bandung), Cobbina Gillit (Amerika Serikat), Fahmi Shariff (Makassar), Michael Bodden (Kanada), Koh Yung Hun (Korsel), Aslan Abidin (Makassar), Tamara Aberle (Inggris), dan Nandang Aradea (Banten).
Hari ketiga, 6 Oktober 2010 pukul 21.15 WIB di Teater Arena Taman Budaya Surakarta (TBS), setelah pertunjukan “Dam” oleh Wawan Syofwan dari Bandung, Tya Setiawati menampilkan naskah monolog Putu Wijaya berjudul “Demokrasi”. Naskah ini pada dasarnya merupakan kritik Putu Wijaya dalam menyikapi persoalan demokrasi di Indonesia. Kita berada dalam paradigma demokrasi yang salah kaprah, demokrasi hanyalah sebuah jargon atas nama kepentingan oleh segelintir orang yang berkuasa, ambisius, dan hipokrit, demokrasi menjadi sebuah kata yang dekat dengan politik konspirasi. Kata demokrasi dalam perspektif Putu Wijaya hanyalah sebuah wacana belaka, tidak ada implementasi yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Demokrasi yang diagung-agungkan sebagai pondasi dalam melihat kepentingan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat kemudian mampu dibayar dengan uang dan kekuasaan. Siapa yang terpedaya dengan uang dan kekuasaan atas nama demokrasi, maka demokrasi tidak ada gunanya lagi dalam kehidupan, demokrasi sudah mati karena kita sendiri yang telah membunuh kata demokrasi tersebut.
Begitulah Tya Setiawati (sebut saja Tya) menampilkan naskah monolog “Demokrasi” karya Putu Wijaya melalui pendekatan sosio-kultur dan dialek vokal yang berirama ke-Jawa-an. Melalui gaya akting yang sedikit komikal, naskah ini mampu dikomunikasikan secara baik oleh Tya. Set dan properti yang minimalis berupa kursi panjang, keranjang, dan kostum ganti yang terdapat di dalam keranjang tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif. Elemen pencahayaan yang ditata oleh Enrico Alamo tidak begitu memilih efek warna secara dominan, hanya beberapa titik pencahayaan yang berfungsi untuk menegaskan pola bloking, suasana dramatik lakon yang sedang dimainkan dan juga berfungsi sebagai batas area permainan.
Kemampuan Tya dalam menjaga ritme permainan, kesadaran terhadap penggunaan set dan properti, bisnis akting, gestur dan caranya menyikapi penonton teater malam itu, penulis sangat mengapresiasinya dengan baik. Walaupun sebenarnya terdapat kecelakaan teknis diawal pertunjukan, hal itu disebabkan oleh operator sound system yang begitu lama dalam mengaktifkan musik digital, sehingga pertunjukan sempat tertunda sekitar tujuh menit. Jelas saja, kecelakan teknis yang disebabkan oleh operator Sound System sangat mengganggu konsentrasi penonton yang akan menyaksikan pertunjukan monolog ini.
Setelah lampu pertunjukan secara perlahan dihidupkan dan musik digital sudah bisa diaktifkan oleh operator sound system, lalu seorang tokoh perempuan (Tya) masuk sambil membawa keranjang ke area panggung, ia menari mengikuti irama musik sambil mengelilingi area permainan. Setelah musik berhenti (fade out), perempuan itu duduk di kursi panjang. Sejenak suasana kembali hening, perempuan itu menatap ke sekeliling penonton, menerawang ke langit-langit gedung pertunjukan, akhirnya ia mengucapkan kalimat “Saya mencintai Demokrasi” dalam dialek Jawa. Sebuah teknik muncul yang sederhana dan biasa namun mampu memberikan daya sugesti yang baik. Penonton telah membangun impresi positif dalam pikirannya terhadap apa yang dilakukan oleh Tya diawal pertunjukan. Persoalan-persoalan dalam pertunjukan mulai digulirkan kehadapan penonton. Tokoh perempuan tersebut menceritakan kalau dia adalah pimpinan demonstrasi RT Gang Gusus Depan. Ia bersama penghuni RT Gugus Depan menolak pelebaran jalan yang akan dilakukan oleh petugas kelurahan yang telah bekerja sama dengan pimpinan pabrik tekstil di kota itu. Pelebaran jalan tersebut dilakukan atas dasar kepentingan bersama dan atas nama nilai-nilai demokrasi.
Pelebaran jalan dengan cara memangkas rumah warga yang berukuran enam meter kali empat bertujuan untuk memudahkan akses para buruh pabrik menuju tempat kerja mereka. Hal ini dipahami sebagai bentuk cita-cita demokrasi yang akan membantu masyarakat RT Gugus Depan secara ekonomi. Jalan tersebut akan ramai dilalui, termasuk juga mobil-mobil, bajaj dan kendaran bermotor. Para demonstran tetap melakukan penolakan terhadap eksekusi tanah seluas dua meter tersebut. Petugas kelurahan mengerahkan Buldozer sebagai jawaban atas penolakan warga tersebut, warga terus melakukan perlawanan, walaupun nyawa yang harus menjadi taruhannya, demokrasi harus tetap ditegakkan.
Tokoh Perempuan yang berperan sebagai pimpinan para demonstran akhirnya tidak tega menghadapi situasi yang begitu parah tersebut. Dengan sedikit melakukan pergantian kostum di atas panggung, Ia berniat dan memberanikan diri untuk menemui pimpinan perusahaan tekstil itu sendirian. Berbagai bujukan dan rayuan secara lisan oleh pimpinan perusahan tekstil tersebut tidak mudah menggoyahkan sikap demokrasi yang sudah tertanam dalam dirinya. Namun, ketika uang disodorkan tepat dihadapan matanya, ia mulai bertanya dalam hati “apakah ia benar-benar mencintai demokrasi?” ternyata tidak, perempuan itu telah rapuh, goyah dan terpedaya. Matanya melotot memandang uang dalam amplop yang bertuliskan angka sebesar satu milyar. Kata-kata demokrasi yang selalu ia kumandangkan akhirnya hilang dan lenyap begitu saja waktu itu. Kemudian secara perlahan lampu mulai dipadamkan (fade out) dan penonton bertepuk tangan. Maka selesai sudah pula “Demokrasi” dalam pertunjukan malam itu.
Beberapa pertunjukan yang penulis amati dalam iven Mimbar Teater Indonesia (MTI) II, baik penampil grup maupun peserta monolog memiliki keberagaman dalam mencermati konsep pertunjukan dan tafsir terhadap teks-teks naskah drama Putu Wijaya. Keberagaman tersebut tercermin dari kemampuan para performer menyikapi wilayah permainan baik secara indoor maupun outdoor secara cerdas. Benny Yohanes dalam seminar Mimbar Teater Indonesia sempat memberikan ulasan terhadap beberapa pertunjukan yang telah disaksikannya, termasuk pertunjukan monolog “Dam” Wawan Syofwan dan “Demokrasi” Tya Setiawati. Dua pertunjukan ini dalan perspektif Benny Yohannes merupakan suatu usaha dalam mewujudkan akting representasional di atas pentas, pilihan ini tidak bisa dipandang secara sederhana begitu saja. Untuk menjadi seorang aktor yang baik dan mampu diterima oleh masyarakat penontonnya memang membutuhkan proses panjang dalam melatih kemampuan bermain tanpa henti, membina kecerdasan intelektual, emosional, spritual, termasuk juga kecerdasan secara sosial.
Konteks lain, menyangkut penyelenggaraan iven Mimbar Teater Indonesia (MTI) II, tetap saja memiliki kekurangan yang cukup signifikan. Afrizal Malna menilai bahwa penyelenggaan iven ini seperti tidak ada persiapan yang matang. Tidak ada foto-foto dan dokumentasi visual mengenai pertunjukan Putu Wijaya dan Teater Mandiri-nya. Iven ini begitu miskin dalam menyikapi masyarakat penonton teater terutama untuk penonton awam, karena (menurut Afrizal Malna) tidak semua penonton mampu mengetahui secara mendalam mengenai proses kreatif Putu Wijaya melalui teater Mandiri-nya. Kemudian, Benny Yohanes juga kembali menambahkan, bahwa tidak ada ruang tersendiri untuk para kreator dapat bertemu dan berbagi pengalaman mengenai proses kreatif dan sejauh-mana tafsir mereka dalam menyikapi teks-teks naskah drama Putu Wijaya tersebut.
Semoga kita semua dapat belajar dari peristiwa budaya yang telah berlalu ini. Salam Teater**

Penulis adalah Penonton Teater,
Sekarang tinggal di Solo

Senin, September 27, 2010

tokobuku INSISTPress: Mengkritisi Peran FTA*

tokobuku INSISTPress: Mengkritisi Peran FTA*: "Judul : Memperdagangkan Kedaulatan: Free Trade Agreement dan Nasib Bangsa Penulis : Martin Khor Penerbit : Insist press, Yogyakarta Tahun : ..."

Kamis, September 23, 2010

tokobuku INSISTPress: Kapita Selekta Sastra Minangkabau

tokobuku INSISTPress: Kapita Selekta Sastra Minangkabau: "Judul: Kapita Selekta Sastra Minangkabau Penulis: Adriyetti Amir Penerbit: Minangkabau Press ISBN: 978-602-95529-2-8 Edisi: I, Nov-09 Detail..."

tokobuku INSISTPress: Orang-orang yang bergegas (dua naskah drama)

tokobuku INSISTPress: Orang-orang yang bergegas (dua naskah drama): "Judul: Orang-orang yang bergegas (dua naskah drama)/ Penulis: Puthut EA/ Penerbit: AKY Press, 2004/ Tebal: xxiii, 165 p. ; 19 cm./ Harga: 25..."

tokobuku INSISTPress: Undang-Undang Minangkabau Perspektif Tasawuf Sufi

tokobuku INSISTPress: Undang-Undang Minangkabau Perspektif Tasawuf Sufi: "Judul: Undang-Undang Minangkabau Perspektif Tasawuf Sufi Penulis: Zuriati Penerbit: Minangkabau Press (Fak. Sastra UNAND) ISBN: 979-15876..."

tokobuku INSISTPress: Pendidikan Popular, Membangun Kesadaran Kritis

tokobuku INSISTPress: Pendidikan Popular, Membangun Kesadaran Kritis: "Judul: Pendidikan Popular, Membangun Kesadaran Kritis (edisi baru 2010) Penulis: Mansour Fakih, Roem Topatimasang, & Toto Rahardjo Penerbit:..."